Intisari Cerita & Artikel Indonesia Terbesar
Thursday February 9th 2012

Kumpulan Puisi 2 Hari

JATUH

Pernah ku ingin mencoba meninggalkan Mu
Bahkan, selalu kerinduan yang mencekamku
Pernah kuingin selalu di sisi Mu
Bahkan, tak kuasa ku menatap dunia
Aku,
Ya, beginilah adanya
Tetap berharap jadi hamba Mu
Ah
Ijinkan aku bebas dulu

Mataharitimoer
Kedoya, 24 Januari 1997

KESAN

Purnama memancangkan diri di serakkan bintang
Cahayanya memancar tanpa kesombongan
Terangi malamku dalam lengang
Lembut menyapa, �Apa yang kau pikirkan?�

Pikiranku mencipta kubangan
Anak anak bangsa menjadi lamunan
Akankah mereka sampai ke masa depan
Menentukan siklus kehidupan

Mataharitimoer,
Kedoya, 25 Januari 1997

Untuk Sebuah Cita

Untuk sebuah cita
Apalah yang dapat kami lakukan di sini
Untuk memahami tikaman derita di sana
Badai penghinaan beriring penantian
Dan perjuangan untuk kebebasan
Dan kemuliaan

Untuk sebuah cita
Kami sadar belum cukup berbuat
Puisi ini,
Semoga tidak menambah rangkaian panjang
Tuturan pilu dan deru bising raungan derita
Biarlah menjadi jeritan nurani kami,
Curahan simpati, dan degup jantung,
Menahan geram

Untuk sebuah cita
Kami masih di sini
Di tengah lingkungan kami
Yang bertabur gurau dan lalai

Ya Rabbi
Percayakah pada kami,
Untuk menegakkan izzah yang terpuruk?
Kuatkan kami, untuk sebuah cita :
Ada …… mulia
Tiada ….. syuhada

Mataharitimoer,
Kedoya, 25 Januari 1997

Nuzulul Qur�an

Dalam kehampaan nurani
Pernah kudendangkan nyanyian tua
Laguku adalah
Marahku,
Sesalku,
Sesakku,
Tangisku,
Takutku,
Rinduku,
Histeriaku

Langkah langkah yang kupaksakan �tuk menemukan kedamaian
Tak pernah harapan itu datang
Harapan itu tak sudi bertandang

Pikiran menjadi liar
Merambah sudut sudut belantara
Menemukan �. Lelah

Dalam kehampaan nurani
Pada kepasrahan tertinggi
Firman Mu merintik di hati
Mati aku pada samudra Ilahi
Hanyut, �. hanyut���
Tenggelam, � tenggelam ��..
Mencair aku di altar penyadaran

Mataharitimoer
Kedoya, 25 Januari 1997

========================================
Pengirim : mataharitimoer
========================================

Bookmark and Share

Related posts:

  1. Warna
  2. Kumpulan puisi
  3. Kumpulan Puisi Tentang Ibu
  4. Kumpulan Puisi Perenialisme
  5. Kumpulan puisi (Pramboedie)
  6. Kumpulan Puisi Tulus
  7. Kumpulan puisi Firman Taqur
  8. Kubuka Hari Ini
  9. Ngambang
  10. Selembar Puisi Untukmu Ibu
Previous Topic:

Cerita sejenis

Rasa

Dia datang… Datang lagi dalam rasa Rasa yang terus menghantui relung hati Aku tak kunjung lelah Ini sudah pasrah [Read More]

Bunda

singgahlah ia sejenak mengingat masa kecil di kala ia lapar, tiada hambar bunda menyuapi pernah sang bunda menangis [Read More]

Waiting List

“Sekali lagi, dimana kamu sayang? Aku menunggu. Aku tak mengeluh meski bermandikan peluh. Apakah pernah terlintas [Read More]

Bigotry

Apa benar kau ingin membunuhku Karena aku masih berdiri Kamu tidak bisa mencuri apapun Karena aku tidak memiliki apapun [Read More]

Tentang tulisan

bisakah kau dengar bisikkan itu bisikan dalam buku berpena yang telah kau ukir dulu dan kau lupakan begitu saja [Read More]

Derai bulan Juni

Derai bulan Juni bawa laraku lari Derai bulan Juni pinta rasaku pergi Memuai bersama segara yang tak berani Janjikan [Read More]

Loteng 16 Tangga

Seberkas kilat membuncah pelangi di otakku Sahara mendung berpapasan dengan pagi buta Merendakan altar jeda yang [Read More]

Bukan JILBAB Ini

Semua tlah dimuntahkan dari mulutnya Entah dari hatinya Tapi semua kata-kata itu terasa sangat menyakitkan Tapi tenang [Read More]

Jeritan Sebuah Hati

Tertunduk kaku di keheningan malam Tiada kata yang dapat kuucapkan Diriku Kecil Diriku Terlalu Kotor dihadapanMU Aku [Read More]

Makhluk Ciptaan Tuhan

Inilah makhluk ciptaan tuhan yang anggun itu, Bila di dekatnya debarkan jantungku, Bila di tatapnya ingin menggodanya [Read More]