Intisari Cerita & Artikel Indonesia Terbesar
Thursday February 9th 2012

Nasib Kita Siapa Yang Menentukan?

Mungkin kita sering mendengar ungkapan,”lha memang sudah nasibnya mau diapain lagi”…. Biasanya ungkapan tersebut lebih banyak ditujukan kepada sebuah kekecewaan atau untuk hal yang kurang beruntung, namun tidak jarang pula kita mendengar, “emang nasibnya bagus…”.

Apakah memang benar Nasib hidup kita adalah kehendak Tuhan?

Saya kurang setuju kalau nasib kita adalah Tuhan yang menentukan. Yang menentukan nasib kita adalah diri kita sendiri. Ketika saya mendengar Ibu saya bilang,”Kasihan sekali nasib anak anak itu musti ngamen dijalanan”. Saya tanya,” Apanya yang kasihan?” Ibu menjawab,”anak anak itu seharusnya khan sekolah bukan ngamen.”

Lha memang seharusnya anak anak itu disekolah bukan dijalan mengemis. Atas kehendak siapa mereka mengamen di jalan? Orang tua mereka kah yang tidak mampu untuk mengirim mereka kesekolah, keinginan anak anak itu sendirikah yang ingin mempunyai uang dengan cara mengamen untuk membantu keluarga Atau Tuhan yang menjadikan mereka Pengamen?

Sewaktu Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, Tuhan menciptakan mereka menyerupai dengan diriNYA. Namun PILIHAN/KEPUTUSAN mereka sendirilah untuk memakan buah yang terlarang, akibat dari PERBUATAN mereka sendiri yang membuat mereka menderita.

Dalam hidup kadang kita mengahadapi suatu dilema. Kita dituntut untuk membuat suatu keputusan yang sangat sulit sekali. Tidak jarang meminta pengorbanan kita yang sangat besar. Celakanya keputusan yang kita ambil kadang berakibat kurang baik yang akhirnya kita putus asa dan mempunyai tendency untuk menyerah dan berkata, well ini memang sudah nasibku…

Jelas sekali keputusan yang dibuat adalah keputusan kita sendiri bukan keputusan Tuhan. Jadi nasib yang kurang baik yang menimpa kita karena keputusan tersebut adalah hasil pemikiran kita sendiri. Jadi teori diatas bahwa yang menentukan nasib kita adalah diri kita sendiri bukan Tuhan adalah benar.

Bagaimana caranya kita mengambil keputusan yang terbaik untuk diri kita sendiri?

Sebelum kita menyerah dan berkata bahwa ini adalah nasib kita, sebaiknya kita bertanya apakah kita sudah berusaha mencoba setiap cara untuk menjadikan nasib kita lebih baik? Tuhan tidak menciptakan kita menjadi pengamen, pengemis atau seorang Presiden…semua itu adalah usaha kita untuk menjadikan siapa diri kita. Jika kita ingin menjadi seseorang yang berhasil, apa yang diperlukan untuk meraih keberhasilan tersebut? Jika usaha kita hanya menyesali hidup atau nasib kita…tentu saja kita tidak akan pernah berhasil meraih kesuksesan tersebut.

Sebagai manusia, dalam hidup ini kita semua pasti pernah mengalami kegagalan atau membuat suatu keputusan yang kurang baik dan kita semua pernah membuat kesalahan. Believe me..semua itu adalah bagian dari kesuksesan kita Karena jikalau kita tidak pernah mengalami kegagalan, mengambilan keputusan yang salah atau membuat kesalahan, maka kita tidak akan pernah mengetahui mana yang benar atau yang salah dan kita tidak pernah belajar.

Salah satu kunci kesuksesan adalah belajar dari kegagalan dan kesalahan kita, sehingga kita mengulangi kesalahaan dan menemukan kegagalan yang sama. Kegagalan dan kesuksesan atau kesulitan hidup yang menentukan adalah diri sendiri ….Diri kita adalah kunci dari misteri kehidupan kita sendiri, setiap jawaban dari pertanyaan tentang hidup ada didalam diri kita sendiri. Diri kita adalah the master …Tuhan menyediakan apa yang kita perlukan, namun diri kitalah yang menentukan langkah apa yang harus diambil, arah mana yang harus dituju..serta tindakan apa yang harus dilakukan

Kembali kepada pengamen kecil tersebut. Bukan nasib yang membawa anak tersebut menjadi pengamen, tetapi kemauan. Jika orangtuanya atau anak itu sendiri mempunyai suatu keinginan yang kuat untuk menjadi seorang menteri….anak itu bisa Hanya keinginan tersebut tidak pernah muncul dan kepercayaan mereka yang menganggap bahwa menjadi pengamen adalah nasib anak anak tersebut…sudah takdir anak tersebut untuk jadi pengamen… sudah takdir saya untuk hidup susah…sudah nasib si empok ditinggal suaminya…memang sudah nasib saya mati dipenjara.

========================================
Pengirim : Desi Clark
========================================

Bookmark and Share

Related posts:

  1. Sikap Anda Yang Menentukan
  2. Satu Hari Yang Menentukan
  3. Permainan Nasib Manusia
  4. MARGINAL SIDE : Satu Hari Yang Menentukan
  5. Bapa Tahu yang kita harapkan
  6. Cinta yang Tidak Kita Sadari
  7. Kita Orang Yang Terpilih
  8. 3 Kategori Artist yang seharusnya kita benci
  9. Cinta yang tidak kita sadari
  10. Siapa Jodohku ?
Previous Topic:
Next Topic:

Cerita sejenis

Kita Orang Yang Terpilih

Dalam sebuah kisah pengembaraan seorang manusia dari bayi hingga menjadi seorang manusia yang sudah mengerti mana yang [Read More]

Kakek Tua dan Segenggam Beras

seorang kakek tua renta dengan baju lusuh dan karung dekil di pundaknya dengan nafas terasa sesak dengan mata berkaca [Read More]

Hidup di Jakarta

rintik hujan yang turun membasahi bumi jakarta,tempatnya kaum urban yang mengadu nasib. Dalam ketenangan dan himpitan [Read More]

Aku berubah, aku merubah, aku

Pada porosnya dunia berputar 24 jam sehari, gelap dan terang merupakan bagian dan element dari perputaran dunia. Dunia [Read More]

Prasangka / Praduga

Prasangka bisa di artikan kata praduga. Dengan arti tujuan yang di duga masih terlalu dini untuk di simpulkan. Di duga [Read More]

Manusia berpunuk

Bercita cita setinggi gunung yang siap meledak. bila di rentangkan akan seluas samudra biru. sedangkan engkau di [Read More]

Polyraga dan Monojiwa

Raga ini tercipta dengan berbagai bentuk dan keunikan masing masing. Dengan sedikit tambahan pernak pernik dan [Read More]

Bagus dan Usaha

Bagus itu relative tetapi usaha itu mutlak. Manusia berparas bagus adalah relative, tergantung selera manusia lain yang [Read More]

Dunia tanpa cikal bakal

Hidup tanpa tujuan merupakan hidup yang hampa. Hampa merupakan suatu ruang sendiri yang menyita waktu dan mengarahkan [Read More]

Kemiskinan

zaman serba moderen sekarng ini masih banyak masyarakat yang miskin baik miskin pengetahuan ataupun kemiskinan materi, [Read More]