Intisari Cerita & Artikel Indonesia Terbesar
Thursday February 9th 2012

Di Bawah Jembatan Yang Terkikis Senja

Itu adalah jembatan kenangan
Dulu di bawah senja pemuda pemudi lalu lalang
Menapaki aspal, menimang semangat juang
Tak peduli senja yang kian petang
Di sudut jembatan aku mengenang masa masa yang lekat dengan garang

Tapi, dengarkan sekarang
Di bawah azan mahgrip sang jembatan tertawan
Garang dengan tehnologi yang lancang
Menindas setia sang sukarelawan

Di bawah jembatan, kini berjejal gubuk gubuk karton
Tentu saja, pemandangan yang menyiksa mata
Tapi, karna ulah siapa , jembatan ini suka ditonton
Tentu, bukan kerna kenanganku yang hadir menyita

Di ujung jembatan aku menjadi tersiksa
Jerutan anak anak itu tak henti bertanya
Dimana Tuhan berada ?
Dimana keadilan Nya ?

Senja sungguh semakin petang
Ketika pancaran mata orang tua memandang memelas
Membuatku semakin melupa kenangan kita , sayang.
Membawaku pada kenangan baru yang meminta belas

Aku tertegun,
Lalu lalang pemuda pemudi berganti lalu lalang kendaraan sialan
Mungkin aku sedang melamun ?

Lalu tak kumengerti yang terjadi, Jembatan itu menyapa, �Dengarkanlah aku pemuda tampan�
� Aku tak mungkin lelah dengan keadaan ini�
�Meski kau hanya ingin mengenang kini�

Sungguh aku semakin ngeri
Jembatan ini kini saksi kematian tanpa kata.
Bisu di bawah penderitaan yang tak terperi
Tanpa keluh kesah menghadap dewa.

Di bawah terang lampu neon
Jembatan itu tampak indah
Tapi, tengoklah ke bawah
Jiwa jiwa gentayangan mengaduh kalah
Tertimbun kenangan lama yang tak sanggup lagi dipikul sang Jembatan tua.

Malang, 7 Desember 2002

========================================
Pengirim : Gendhotwukir
========================================

Bookmark and Share

Related posts:

  1. Air di Bawah Jembatan
  2. Senja di Jembatan Merah
  3. Senja yang Hilang
  4. Senja yang hilang sore itu
  5. Di Bawah Payung Hitammu
  6. Sajak Diatas Jembatan
  7. Aku yang lelah senja ini
  8. Jembatan Maaf
  9. Sajak sajak diatas Jembatan
  10. Senandung senja hening
Previous Topic:

Cerita sejenis

Rasa

Dia datang… Datang lagi dalam rasa Rasa yang terus menghantui relung hati Aku tak kunjung lelah Ini sudah pasrah [Read More]

Bunda

singgahlah ia sejenak mengingat masa kecil di kala ia lapar, tiada hambar bunda menyuapi pernah sang bunda menangis [Read More]

Waiting List

“Sekali lagi, dimana kamu sayang? Aku menunggu. Aku tak mengeluh meski bermandikan peluh. Apakah pernah terlintas [Read More]

Bigotry

Apa benar kau ingin membunuhku Karena aku masih berdiri Kamu tidak bisa mencuri apapun Karena aku tidak memiliki apapun [Read More]

Tentang tulisan

bisakah kau dengar bisikkan itu bisikan dalam buku berpena yang telah kau ukir dulu dan kau lupakan begitu saja [Read More]

Derai bulan Juni

Derai bulan Juni bawa laraku lari Derai bulan Juni pinta rasaku pergi Memuai bersama segara yang tak berani Janjikan [Read More]

Loteng 16 Tangga

Seberkas kilat membuncah pelangi di otakku Sahara mendung berpapasan dengan pagi buta Merendakan altar jeda yang [Read More]

Bukan JILBAB Ini

Semua tlah dimuntahkan dari mulutnya Entah dari hatinya Tapi semua kata-kata itu terasa sangat menyakitkan Tapi tenang [Read More]

Jeritan Sebuah Hati

Tertunduk kaku di keheningan malam Tiada kata yang dapat kuucapkan Diriku Kecil Diriku Terlalu Kotor dihadapanMU Aku [Read More]

Makhluk Ciptaan Tuhan

Inilah makhluk ciptaan tuhan yang anggun itu, Bila di dekatnya debarkan jantungku, Bila di tatapnya ingin menggodanya [Read More]