Intisari Cerita & Artikel Indonesia Terbesar
Thursday February 9th 2012

Belajar dari sungai

Beberapa waktu yang lalu saya bercakap cakap dengan beberapa mahasiswa. Dalam percakapan itu seorang mahasiswa antara lain bertanya demikian: Kenapa ya, kaum pria itu mempunyai kecenderungan yang lebih kuat dari pada wanita dalam hal berpikiran \”ngeres\”, maksudnya berbau porno? Mendengar pertanyaan pertanyaan itu saya ingat pengalaman saya di surabaya. Pada waktu itu salah seorang teman dari sebuah Universitas di Surabaya sedang mengadakan riset lapangan. Temanya soal seksualitas. Salah satu pertanyaan dalam kuesioner yang disebarkan berbunyi demikian: Apakah anda pernah nonton film porno? 95% anak laki laki menjawab pernah, dan 47% anak perempuan menjawab pernah. Sejenak saya kaget melihat fakta di atas. Secara pribadi saya membenarkan hasil kuesioner itu. Pembenaran ini terutama saya dasarkan pada fakta bahwa mayoritas kejahatan seksualitas dilakukan oleh kaum laki laki. Lantas… saya mencoba mencari hal hal yang bisa dipelajari. Satu hal yang saya temukan adalah soal kaitan antara pikiran/hati dengan perilaku. Bagi saya pikiran atau hati manusia itu dalam arti tertentu mempunyai hakekat yang sama dengan sebuah sungai.

Sungai kalau dimasuki oleh air yang jernih maka dia juga akan mengalirkan air yang jernih pula. Dan sebaliknya, kalau air yang tertuang dalam sungai itu sarat dengan limbah, kotoran, dan semacamnya, maka air yang akan dialirkan juga adalah air yang kotor. Demikian halnya dengan pikiran atau hati manusia. Kalau pikiran atau hati manusia itu sering dirasuki oleh pengalaman pengalaman yang negatif, yang sempit, yang… dan seterusnya, maka yang keluar dalam sikap hidup sehari hari juga adalah sikap hidup yang bernuansa tidak mengembangkan, yang bernada negatif, dan semacamnya. Tetapi kalau pikiran dan hati itu dimasuki oleh hal hal yang sifatnya menumbuh kembangkan, maka manusia akan mencetuskan hal itu dalam disposisi yang juga meniscayakan sebuah pemekaran kepribadian yang utuh. Mungkin inilah salah satu bentuk sumber yang melatarbelakangi tindak tindak kejahatan. Misalnya mengapa imam samudra bisa bertindak sekeji itu? Ya mungkin karena selama hidupnya dia dicokoli oleh ajaran ajaran menggiring dia untuk berpikir, dan akhirnya bertindak demikian. Contoh lebih konkrit dalam hal ini bisa dilihat dalam acara BUSER, SERGAP, ATAU … (LUPA NAMANYA) yang jelas adalah acara di RCTI, INDOSIAR, DAN SCTV yang ditayangkan secara rutin pukul 11.30 WIB. Lihatlah di sana dan cobalah menganalisa latar belakang peristiwa itu. Bukan hanya soal kejahatan seksualitas atau kejahatan yang lain. Misalnya juga soal sikap membenci, memandang negatif orang lain, dan lain sebagainya. Sangat mungkin itu semua disebabkan oleh pelbagai pengalaman atau peristiwa masa lampau kita yang negatif dan yang menyakitkan.

Tidak mungkin memang manusia dalam peziarahan hidupnya akan menemukan hanya satau jenis pengalaman, misalnya hanya hal hal yang baik saja, atau hanya hal hal yang buruk saja. Manusia pasti akan berbenturan dengan dua jenis pengalaman itu. Soalnya adalah bagaimana kita harus menentukan sikap dalam hal ini. Seandainya kita adalah sungai, maka apa yang diterima sebagai kotor, akan dialirkan juga sebagai kotor. Begitu sebaliknya, kalau yang diterima sungai adalah barang barang yang bersih, maka alirannya juga berupa air yang bersih. Namun kita dalam banyak hal sebenarnya berbeda dengan sungai. Sungai dari dalam dirinya sendiri tidak memiliki filter untuk menyaring atau mengolah apa yang ia terima. Tetapi manusia mempunyai fasilitas itu. Manusia dari kodratnya sudah dilengkapi dengan akal budi. Akal budi selain berfungsi sebagai receiver, juga berperan sebagai pengolah atau penyaring.

Dengan demikian sebenarnya tidak ada soal yang berkaitan dengan apa yang masuk dalam hati atau pikiran dengan apa yang keluar dari hati atau pikiran. Saya katakan tidak ada soal karena manusia di dalam dirinya telah dilengkapi dengan wadah penyaringan atau pengolahan. Bahkan apa yang paling kotor pun sebenarnya sangat mungkin bagi manusia untuk dikeluarkan sebagai sesuatu yang jernih. Semuanya ini sangat tergantung dari kemauan kita. Mau dan mampu menyaring atau tidak?

========================================
Pengirim : Yohanes agus Setyono
========================================

Bookmark and Share

Related posts:

  1. Belajar dari Awan
  2. Awal Mula dari Pikiran
  3. Menyeberang Sungai
  4. Belajar dari Padi dan Laut
  5. Belajar Pada Air
  6. Sungai
  7. Ada Bau Melati dlm Deru Sungai
  8. Belajar
  9. Di Sungai
  10. Saya belajar bahwa ….
Previous Topic:

Cerita sejenis

Beriman bukanlah kata-kata

Penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Penyakit jantung, stroke, dan penyakit periferal [Read More]

Kereta langit
Kereta langit

Konon kabarnya, di langit kita tinggallah seseorang. Ia mempunyai sebuah kereta yang siap diluncurkan kapan saja dan [Read More]

Negeriku

Ketika dunia sudah bertambah tua manusia malah semakin menjadi beramai ramai menghancurkan bumi tempat dia dilahirkan [Read More]

Kisah Frank

Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan [Read More]

Sakit Hati

satu hal lagi yang kupelajari dari peristiwa sky is falling dan pembenarannya selain persimpangan adalah hakekat sebuah [Read More]

Sang Pemerkosa Menebus Dosa

Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa 17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama [Read More]

Penjara Pikiran

Di British Columbia, dibangun sebuah penjara baru untuk menggantikan penjara Fort Alcan lama yang sudah digunakan untuk [Read More]

Jendral yang selalu menang

Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena [Read More]

Sukses dalam tujuan

dalam hidup ini harus dapat menerima apa adanya Orang ingin sukses hendaknya pantang menyerah memusatkan tujuannya Niat [Read More]

Manusia yang baik

Bismillahirrohmanirrokhim Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh “ Manusia yang baik “ Dengan [Read More]