Majalah Sastra Budaya “Aksara“ ( Jakarta) kembali beredar. Hal ini tentu saja disambut gembira para pencinta seni sastra budaya seantero nusantara, setelah beberapa bulan absent karena persoalan personalia dan kesibukan membentuk jaringan dengan berbagai komunitas sastra budaya di segala penjuru tanah air.
Ketika Majalah Aksara lama tidak muncul, para pencintanya gelisah dan bertanya melalui surat demi surat dan email ke redaksi, apakah Majalah Aksara masih hidup? Apakah Majalah Aksara masih eksis? Mendengar pertanyaan pertanyaan semacam itu Manaek Sinaga ( Manik Praba), sang pemimpin redaksi dengan tegas menjawab bahwa Majalah Sastra Budaya “Aksara“ masih hidup dan tak akan pernah mati.
Ketegasan jawaban yang demikian tentu saja merepresentasikan kesetian sebuah komitmen seorang Manaek Sinaga pada dunia sastra dan budaya nusantara. Sebuah sikap kokoh memegang sebuah komitmen. Komitmen yang demikian lantas tidak perlu dipertanyakan lagi, setelah Majalah Aksara terbukti terbit lagi. Majalah Aksara Edisi ke 3, Februari 2005 hadir menyapa para pencinta seni sastra budaya nusantara.
Perjalanan Majalah Aksara tentu saja mengingatkan kita semua akan kenangan masa silam Majalah Basis yang saat ini diasuh oleh Sindhunata SJ. Majalah Basis di masa silam di bawah asuhan almarhum Romo Dick Hartoko SJ adalah masa masa pergulatan seorang Dick Hartoko SJ yang setia pada komitmen memasyarakatkan sebuah gagasan atau ide. Kesetian pada komitmen memang membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil, baik waktu maupun materi. Dick Hartoko SJ sendiri rela menyisihkan penghasilannya demi keberlangsungan Majalah Basis.
Seorang kawan Manaek Sinaga suatu hari pernah bertanya, “ Mengapa Aksara tidak memberi honor kepada penulisnya?“. Mendengar pertanyaan yang demikian Manaek Sinaga hanya bisa mengelus dada dan tidak banyak bicara. Manaek Sinaga tahu bahwa dirinya sebenarnya punya pikiran ke sana. Namun ia lebih ingin memprioritaskan pada keberlangsungan hidup Majalah Aksara. Majalah Aksara masih balita, masih perlu dana demi keberlangsungan hidupnya. Maka tak mengherankan Ia dan kawan kawannya bersusah payah menyisihkan dana agar Aksara tetap eksis di hadapan para pencinta sastra budaya nusantara, bahkan uang pribadi mereka.
Majalah Aksara yang terbit pertama kali pada bulan mei 2003 adalah Majalah seni sastra budaya. Sebuah media ekspresi bagi para pengarang dan penggemar seni sastra budaya. Majalah Aksara hadir untuk memberikan pengetahuan dasar karang mengarang, mendorong keterlibatan masyarakat luas dalam seni sastra budaya serta mengatasi dan mencari solusi atas persoalan budaya.
Adapun sasaran utama majalah tersebut adalah anak anak muda terutama kalangan SMP SMA dan tentu saja tidak menutup pintu bagi kalangan mahasiswa, guru,dosen dan sastrawan. Menyimak sasaran yang demikian penulis ‘membaca‘ bahwa seorang Manaek Sinaga adalah seorang pencinta seni sastra budaya yang mau memperhatikan dan membentuk generasi muda yang peka dan cinta pada seni sastra budaya, yang tentu saja sekaligus terbaca niatnya di sana. Ia mau memperhatikan generasi muda, karena ia sungguh tahu dan sadar bahwa kaum muda adalah pemegang tongkat estafet seni sastra budaya. Di sisi lain kita bisa juga membaca bahwa seorang Manaek Sinaga mau memasyarakatkan seni sastra budaya di kalangan generasi muda.
Bagi saya, Manaek Sinaga bukan seorang pemimpi. Ia seorang yang punya ide atau gagasan cemerlang, yang mungkin bagi banyak orang dianggap angan angan semu belaka. Bagi saya, ia tidak sedang tidur. Gagasan gagasan itu adalah realitas di depan mata. Ia sedang berusaha merealisasikan gagasannya. Memang tidak gampang mencari kawan sejati dalam merealisasikan sebuah gagasan, terutama di tengah iklim “ uang adalah raja“, sementara perealisasian gagasan itu membutuhkan pengorbanan uang pribadi. Membentuk sebuah tim yang tangguh dengan komitmen bersama yang kokoh tidaklah segampang membalik telapak tangan. Memang, mencari orang yang profesional memang gampang, tapi mencari orang yang berkomitmen teguh tidaklah gampang.
Pada Edisi Februari 2005 kali ini, Majalah Aksara hadir menyapa pencinta seni sastra budaya dengan beberapa kolom yaitu: Cerpen (8 karya), Esai (4 Karya), Literer ( Günter Graß, Gabriel Garcia Marquez dan Friedrich Nietzsche), Puisi ( 30 an karya, termasuk karya Nanang Suryadi, T.S. Pinang, JJ Kusni, dan banyak penyair muda), Karya Eksperimental, Komposisi Sastra dan Advertorial.
Majalah Aksara adalah Majalah Sastra Budaya yang masih balita, yang merangsang dan mengundang penulis muda berkarya di kolom kolom yang telah disediakan seperti Esai, cerpen, puisi dll. Sumbangan karya penulis dapat dikirimkan ke redaksi. Selain itu, Majalah Sastra Budaya Aksara edisi Februari 2005 dapat dibeli di toko toko buku atau untuk jelasnya hubungi redaksi, juga berkaitan dengan pemasangan iklan.
Terbitnya kembali Majalah Aksara setelah beberapa bulan vakum mendeskripsikan sebuah kesetiaan pada komitmen memasyarakatkan nilai nilai dasar seni sastra budaya . Seni, sastra dan budaya yang memang sudah waktunya dibudayakan dan ditanamkan di masyarakat di tengah tengan gempuran arus informasi dan iklan yang membabi buta. Seni sastra budaya adalah kehidupan kita. Kita adalah masyarakat yang berbudaya, bersastra dan berseni.
Jerman, 21 Februari 2005
Gendhotwukir, Mahasiswa Filsafat St. Augustin Jerman.
Majalah Aksara
Komplek Deplu Kav. 224B, Cipadu,
Tangerang 15155, Indonesia
Telp.: (021) 73882702
Faks.: (021) 73882702
Email : aksara@email.com atau redaksiaksara@yahoo.com
========================================
Pengirim : Gendhotwukir
========================================
Related posts:











