malam yang retak
hati berdetak
ruhku sesak
pengap pekat mengisi ruang pandang. legam.
malam yang sabak
memecah benak
hitam pekat. jelaga mengendap di kepala
lara yang lelah
kemanakah arah
aku tak percaya mata angin
mestikah kubiarkan saja
kemana angin membawa mimpi?
Malam, Ayahanda Medan, 10 Maret
2005
========================================
Pengirim : Putireno Baiak
========================================
Related posts:











