Bahwa ayah memberikan pelajaran tentang hidup agar mudah dijalani dan tidak salah dalam melangkah walau pun salah melangkah dia mendukung dengan sepenuh hati
ayah selalu saja menunggu aku untuk kembali dia selalu merasa bahwa anak kesayangannya akan kembali setelah kejadian itu semua tapi harapan si ayah hanya kosong seperti angin yang berhembus aku sebagai anaknya tidak memperdulikannya entah sampai kapan kami saling membangun dinding kesombongan ini sehingga walau jarak begitu dekan tapi seakan jauh dan tanpa tau atau tidak mau tau keadaan orang yang ada dibalik dinding tersebut.
Kemarah dari anak ini beawal dari ketidak berdayaan si ayah untuk memahami dunia anaknya yang semakin canggih dan semakin tidak teratur
========================================
Pengirim : kurnia
========================================
Related posts:











