Jodoh itu memang susah susah gampang. Yang susah itu yang udah kebelet pingin kawin tapi calonnya yang belum ada. Nah…berbagai macam cara dilakukan orang untuk mencari Jodohnya. Ada yang melalui teman teman, keluarga dan sahabat, melalui iklan jodoh di Mass media termasuk Internet dan lain lain, bahkan mungkin termasuk ke dukun kali ya ?. Cinta ditolak, dukun bertindak, itu kata pepatah.
Sehubungan dengan soal jodoh menjodoh tadi, siang itu dengan mendadak, Datuk (panggilan mertua saya), pulang kerumah saya di pasar jumat. Rencananya untuk kembali tinggal di Bekasi selama seminggu batal tiba tiba. Usut punya usut, ternyata hari minggu kemarin Datuk menerima telepon dari sepupunya yang tinggal di Mayestik. Beritanya adalah bahwa sang sepupu mempunyai calon menantu yang kira kira cocok untuk disandingkan dengan Siti Nurbaya ipar saya. Sudah tentu Datuk dengan gembira dan berharap harap cemas segera kembali ke Pasar Jumat dan melupakan semua rencana yang telah disusunnya bila tinggal di Bekasi nanti.
Sudah sekian lama dan sekian kali Datuk mencarikan jodoh buat Siti Nurbaya. Tapi sampai hari ini belum juga terjadi Siti naik ke pelaminan. Kalau dihitung hitung sudah yang kesekian kali calon yang telah dipertemukan ataupun dikenalkan kepada Siti, tapi sepertinya Tuhan belum berkehendak untuk Siti naik ke pelaminan.
Sebagaimana adat padang, khususnya Pariaman yang menganut paham Matrilineal dimana pihak wanita yang melamar ataupun mencari pihak lelaki untuk menjadi jodohnya, maka demikian pula Datuk berkali kali mencari calon menantu yang kira kira cocok dengan Siti anaknya. Segala upaya sudah dijalankan, seperti terakhir kali saat mencoba menjodohkan Maringgi dengan Siti. Saat itu di bandar udara Tabing Padang, Datuk bertemu dengan teman lamanya dahulu. Ngobrol sana ngobrol sini, maklum sejak bergerilya mencari jodoh tersebut Datuk menjadi makin ramah dibanding sebelumnya, akhirnya pembicaraan mengarah kepada Maringgi, anak sang teman lama yang sudah lama tidak berjumpa. Ternyata Maringgi telah bekerja dan sepertinya layak dan cukup siap untuk berumah tangga. Apalagi menurut sang teman, anaknya tersebut belum punya calon istri. Klop lah pikir Datuk. Lobi lobi kemudian terus dilanjutkan selama Datuk berada di Padang dan di Pariaman. Kemudian nampaknya niat Datuk didukung oleh orang tua Maringgi dengan syarat, Maringgi sendiri memang berminat dengan Siti. Belakangan ternyata usaha tersebut mengalami kegagalan karena ketidakcocokan antara Maringgi dan Siti.
Kembali ke soal telepon dari Mayestik. Setelah berada di Pasar Jumat, Datuk berniat untuk bersilaturahmi ke Tanah Abang, rumah dari sang calon yang dikatakan oleh sepupu Datuk di Mayestik. Maksudnya adalah untuk bertemu sang calon sekaligus memperkenalkan Siti kepada pihak keluarga lelaki. Kesepakatan di dapatkan untuk bertemu di hari Selasa berikutnya. Hati Datuk sudah berbunga bunga dengan harapan yang besar, maklum sang calon ini bila dihitung hitung masih ada hubungan saudara walau agak jauh. Setidaknya bagi Datuk, peluang untuk berhasil karena sesuku dan sedarah tadi akan makin besar.
Hari selasa yang ditunggu pun tiba. Datuk sudah bersiap menjemput Siti untuk dibawa ke Tanah Abang. Siti juga sudah berdandan secantik mungkin agar terlihat menarik bagi keluarga calon lebih lebih buat sang calon sendiri. Belakangan, dari informasi yang saya peroleh didapatkan kesan bahwa misi kali ini berhasil. Meski saat itu tidak berhasil bertemu dengan sang calon, maklum hari kerja sehingga sang calon masih di kantor, tapi tanggapan dari pihak keluarga sang calon terlihat positif dan tertarik dengan penampilan dan tutur bahasa Siti. Siiplah…pikirku dengan tersenyum.
Sepanjang minggu itu, Datuk terlihat ceria. Apalagi saat diberi kabar bahwa keluarga sang calon berniat untuk silaturrahmi kerumah Datuk di Bekasi. Itu merupakan tanda bahwa sang calon juga tertarik dengan cerita keluarganya tentang Siti. Akhir pekan sebelum ke Bekasi, Datuk berbelanja keperluan masak memasak untuk menyambut kehadiran keluarga sang calon di Bekasi.
Saat bertemu di Bekasi, terlihat bahwa kemungkinan untuk membawa hubungan tersebut ke pelaminan semakin dekat. Sang Calon terlihat berminat dengan Siti. Boleh dikatakan sukses besar menanti di depan mata . Hubungan antara Siti dengan sang calon yang kita sebut saja Samsul makin dekat, ditandai dengan sms yang silih berganti diantara mereka berdua. Bagi saya dan istri, istilahnya tinggal mematangkan saja hubungan tersebut untuk dapat dilanjutkan ke pelaminan. Minggu berikut, di hari Sabtu, si Samsul mencoba mengajak Siti untuk bertemu di Mall untuk makan sekaligus saling mengenal satu sama lain dengan lebih dekat. Hati Datuk makin berbunga bunga. Yang dibicarakan hanya hubungan Siti dan Samsul serta rencana rencana kedepan untuk mengikatkan hubungan tersebut ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah pertemuan di hari Sabtu tersebut, Datuk berniat mengajak si Samsul untuk hadir dalam acara Ulang Tahun Fatima, sang cucu, di Ciledug. Maksudnya adalah agar Samsul bisa berkenalan dengan keluarga Datuk yang lain termasuk saya, anak menantunya. Ternyata Samsul ada keperluan lain sehingga tidak bisa hadir dalam acara tersebut. Lalu Bagindo , ipar saya yang lain mengajak kami sekeluarga untuk makan bersama di restoran Jepang barunya di Kelapa Gading minggu depan sekaligus mengajak Samsul. Semoga saja saat itu Samsul tidak memiliki acara yang mendesak sehingga bisa hadir . Istri saya sudah tentu gembira sekali menerima undangan tersebut. Selain sudah lama tidak makan di restoran Jepang, juga untuk mengenal si Samsul dengan lebih baik, maklum belum pernah ketemu sebelumnya.
Berita buruk diterima di hari Rabu minggu kemudian. Ternyata sejak Minggu sore disaat acara Ulang Tahun Fatima, komunikasi sms antara Siti dan Samsul sudah berhenti. Saat pulang dari acara Ulang Tahun Fatima, Siti mencoba menanyakan kabar Samsul melalui sms, ternyata sms tersebut tidak pernah dibalas, sejak itu hubungan sms terputus. Datuk yang menerima kabar tersebut lalu panik dan mencoba menghubungi keluarga Samsul di Tanah Abang. Ternyata pihak keluarga Samsul tidak bisa berbuat apa apa karena keputusan ada di pihak Samsul.
Sejak itu sikap Datuk menjadi berubah. Datuk menjadi lebih pendiam dan terlihat murung. Datuk tidak menyangka bahwa harapan yang terlihat nyata didepan, apalagi Samsul adalah pihak keluarga dan sesuku , tidak sesuai dengan kenyataan. Ternyata harapan Datuk demikian besar sehingga tidak menyangka akan terjadi kegagalan. Benar pepatah yang mengatakan ” Manusia berencana, Tuhan yang menentukan”.
Dengan putusnya hubungan sms Siti dan Samsul, putus pula rencana istri saya untuk makan di Restoran Jepang yang baru, milik Bagindo. Pikiran Datuk, “Untuk apa saya makan enak di resto itu bila hati saya sedih karena ketidakhadiran Samsul di sana. Mendingan saya menghibur diri dengan pulang ke Bekasi”.
Jakarta , 4 April 2005
========================================
Pengirim : Aris Sunaryo
========================================
Related posts:











