Malam kamis kemarin saya menonton acara Penghuni Terakhir 2 yang disiarkan oleh ANTV. Acara ini sudah saya ikuti sejak beberapa waktu yang lalu meski tidak setiap hari. Pada episode malam itu, penghuni yang tersisi ada 5 orang yakni, Ivan, Edhu, Gobin, Ade dan Wulan.
Setiap minggu , salah satu dari mereka akan di ekstradisi dalam arti keluar dari rumah yang disebut Rumah Petir (Penghuni Terakhir). Dan setiap hari sampai hari minggu, para penghuni akan diberikan berbagai macam game atau permainan untuk mengumpulkan angka. Dan disetiap akhir acara, akan diumumkan siapa siapa yang memiliki nilai tertinggi baik dari hasil permainan yang diadakan maupun dari jumlah sms yang terbanyak diterima oleh tiap penghuni Rumah Petir.
Di malam kamis itu, permainan yang diadakan adalah permainan adu kasus. Dalam permainan ini, akan diberikan suatu kasus yang pernah terjadi di Rumah Petir. Kemudian setiap penghuni akan diminta tanggapannya terhadap kasus atau kejadian tersebut oleh tim hakim yang saat itu dibawakan oleh bintang tamu yakni pengacara Ruhut Sitompul dan 2 kawannya.
Ceritanya para penghuni seakan akan dihadapkan di depan pengadilan dengan hakim hakim adalah Ruhut CS. Para hakim akan menanyakan pendapat dan peran para penghuni dalam kasus atau kejadian yang dijadikan sampel. Dalam contoh kasus yang muncul adalah kejadian beberapa waktu yang lalu dimana terdapat adegan saat Penghuni yang sudah terekstradisi melakukan sedikit kekerasan terhadap Wulan sehingga membuat sedikit keributan dan terlihat Wulan menangis di adegan tersebut. Para Penghuni yang tersisa akan ditanyakan pendapat mereka tentang kejadian tersebut.
Yang seru dari permainan ini adalah, para hakim akan berakting seakan akan mereka adalah hakim beneran yang sedang mengadili pesakitan dalam hal ini para penghuni. Dari tayangan itu terlihat bahwa para penghuni yang dipanggil satu persatu sebagai pesakitan tidak menyangka bahwa permainan uji kasus tersebut akan seperti kejadian sebenarnya dimana para hakim terkadang membentak, berkata kasar bahkan menyakitkan di telinga para penghuni. Mereka tidak menyadari bahwa setiap jawaban, tindakan , gerak tubuh dan lain lain akan dinilai oleh para Hakim tersebut.
Terlihat misalnya penghuni Edhu yang semula duduk dengan santai dan kaki disilangkan, tiba tiba terkejut saat dibentak oleh salah satu hakim karena dianggap tidak sopan. Edhu yang senantiasa tersenyum cerah,tiba tiba harus tersenyum pahit saat dibentak dan dikatakan tidak serius dan bercanda. Bahkan yang paling shock adalah Wulan, dimana dia yang mungkin merasa wanita, tiba tiba dibentak bentak, dikatakan sebagai wanita cengeng , pembuat onar di rumah Petir sampai harus menangis menitikkan air mata. Sampai sampai di akhir acara, Wulan mengatakan bahwa pada mulanya dia kagum terhadap Ruhut Sitompul yang disebutnya sebagai raja minyak. Tapi sejak dia dibentak bentak itu, meski pada akhirnya dia tahu bahwa itu adalah permainan, menyebabkan dia menjadi anti dan benci terhadap Ruhut. Ruhut bahkan sampai berusaha membujuk bujuk Wulan untuk tidak marah lagi dsb, tapi tidak berhasil. Pokoknya, permanainan yang terjadi malam itu sangat berkesan dan menarik bagi saya.
Pelajaran yang dapat saya petik dari permainan itu adalah, betapa seringnya saya tidak dapat menahan emosi saat menghadapi hal hal yang tidak berkenan di hati saya. Saat saya berkendara lalu jalur saya diambil oleh pengendara lainnya, bisa membuat saya emosi. Hal hal kecil yang dilakukan orang terhadap saya, bisa membuat saya emosi. Banyak….banyak sekali hal hal sepele yang membuat saya emosi. Padahal bisa saja hal hal tersebut hanya sekedar permainan. Permainan yang seharusnya menuntut saya untuk lebih sabar, untuk lebih menyadari bahwa itu hanya permainan.
Bahkan para penghuni Rumah Petir yang seharusnya sudah tahu bahwa mereka sedang dalam penilaian dalam suatu permainan, terkadang lupa dan terpancing emosinya saat dicecar dan di”hujat” oleh para hakim. Tapi ada penghuni yang membuat saya kagum karena kesabaran dan kejernihan pikiran saat mendapat “serangan” dari para Hakim. Itu seperti halnya hidup didunia yang kata orang adalah permainan. Ada yang tahu itu adalah permainan, tapi ada juga yang tidak tahu bahkan yang tahu terkadang lupa.
Seharusnya dari permainan tadi juga bisa mengajarkan saya untuk senantiasa berpikir jernih dan tenang saat menghadapi setiap keadaan yang sulit. Seharusnya saya senantiasa menyadari bahwa setiap kejadian yang sulit, tentu ada jalan keluarnya sebagaimana agama saya mengajarkan bahwa setiap kesulitan ada 2 kemudahan.
Sudah berapa kali saya mengalami kejadian yang sulit. Ujian ujian sekolah saat masih sekolah, sekarang sudah lewat. Persoalan persoalan di tempat pekerjaan, juga sekarang sudah lewat. Bahkan persoalan ataupun kesulitan yang akan datang, seharusnya saya sadari juga nantinya akan lewat sebagaimana kesulitan kesulitan yang pernah saya alami.
Jadi, mengapa saya harus emosi ataupun marah saat kesulitan ataupun persoalan itu datang. Dengan berpikir jernih dan sabar serta tidak terpancing, seharusnya setiap persoalan dan kesulitan akan selesai dengan hasil yang terbaik. Semoga saja hal ini tidak hanya sebatas tulisan, tapi bisa terjadi di dunia nyata. Memang bicara atau menulis itu gampang tapi prakteknya yang nihil, tapi hal itu bukan berarti tidak mungkin bukan ?. Insya Allah…..Semoga saya bisa selalu belajar dari setiap kejadian
========================================
Pengirim : Aris Sunaryo
========================================
Related posts:











