Di Tapal Batas Jakarta
Di Jembatan itu purnama nampak bersinar
Cisadane keruh menahun lelah mengalir tampung hasrat
manusia
Ketika aku akan menjumpaimu lagi di setapak tak
bernama itu
Bersama rindu yang tak sempat kuhitung di tapal batas
Jakarta
Menyimpan lembar kisah di sela jemari
Dingin dalam ruap aroma sungai yang ternoda segala
sampah
Malam ini janji harus ditunaikan di dada mojang
priangan
Sebagai jejak di ujung percakapan
Ketika birahi setengah jadi di hitam kelopak mata
Tanpa bicara tentang sajak yang lama tersimpan jadi
gumam
Di tepi Cisadane aku menjumpaimu waktu itu seperti
beberapa tahun lalu
Dan kamu bertanya di kuping kiri
Bisakah kita bersama ke Ambon naik kapal pertama besok
pagi?
Padahal aku masih kangen gemericik sungai
Melihat sawah menghijau mencari cari jejak masa lalu
Mengobati luka hati yang patah di belantara ibukota
Ingin kutuntaskan malam ini mengenang episode muda
belia
Mengusir rindu pada dirimu yang lama menggarami ruas
dada
Bermandikan cahaya bulan sambil rebahan di atas
ilalang
Mengeja setiap inci dari kilat pahamu dalam hitam
langit Tangerang
Tapi kamu malah bilang kita selesaikan malam ini di
dermaga Priok saja
Dan besok pagi kita kawin lari
Lari dengan kapal pertama karena cinta yang lama diam
kini telah bicara
………………………………….
=======================================
Izrail Datang di Kereta Sampah
Izrail datang siang bolong itu di kereta sampah
Di sela sela kardus bau menarik nafas terakhir
Khairunnisa
Tak ada sesiapa tanpa kain kafan kecuali bapak dan
sang kakak
Hanya tubuh lunglai terbaring di gerobak
Tanpa kain kafan membungkus mayat si kecil dengan
layak
Gerobak Supriono berjalan menyorong dari Manggarai
hingga ke Stasiun Tebet
Uang di saku tinggal Rp 6.000
Muriski sang kakak termangu nanar
Menatap tubuh sang adik yang lelap dalam kungkungan
ajal
Ke kampung pemulung di Kramat Bogor
Supriono berniat menguburkan sang anak namun ayah
disangka pembohong
Khaerunisa dibawa mobil ambulans hitam ke rumah sakit
Bukan ke kampung Kramat
Izrail mengintai nyawa Khairunnisa untuk dikirim
pulang ke langit tujuh lapis
Di kereta sampah sayapnya singgah telah terangkat
nyawa bocah miskin papa itu tanpa kain kafan, usungan
keranda dan doa puja puji
Izrail gentayangan di langit antara Manggarai hingga
ke Stasiun Tebet
Membawa roh Khairunnisa ke hadapan Sang Pencipta tanpa
pusara
Tinggal bapak dan sang kakak lalui hari pilu di bawah
rel kereta
Hanya Izrail mengenal siapa roh mungil tanpa kain
kafan itu
==============================
…………………
Kepada Ombak dan Batu Karang
Aku lelaki yang lahir dari birahi laut
Mendayung sampan di gulungan ombak dan hembusan angin.
Dari laut aku tumbuh menjaring harapan
Mencipta kebebasan dari musim ke musim dalam hantaman
badai
Aku lelaki yang tumbuh dari mata badai
Kepada ombak dan batu karang
Ku sampaikan sebuah salam
Bahwa di sini janji telah matang karena dahaga yang
terbakar
=================================
……………………
========================================
Pengirim : Dino F. Umahuk
========================================
Related posts:











