Bomber Juga Manusia
“Kenapa kamu?”
“Aku merasa kasihan…” Parno masih terlihat bengong walau tetap memengak setir, mengendalikan laju mobil van yang ditumpangi berdua dengan Abu Jambal, yang duduk di sebelahnya.
“Kasihan? Kasihan sama siapa, No? Kamu ini bagaimana sih? ” Abu Jambal memperhatikan raut wajah Parno lurus tajam. Sesekali matanya tertuju ke depan, melihat situasi perjalanan.
“Aku kasihan dengan mereka yang hancur karena bom yang kita ledakkan barusan…” Parno tetap menginjak pedal rem setelah van sampai di mulut hutan malam. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkannya pada gagang setir.
“Kamu ini bagaimana, mereka memang pantas mati. Mereka itu orang orang tak berguna di dunia dan harus dihabisi agar tidak mubadzir Aku jadi heran kalau tiba tiba kamu jadi cengeng begini. Padahal kemarin kamu bilang sudah siap untuk ikut berjihad Kamu mau murtad ya? ”
“Maaf, bang. Aku tak akan murtad. Aku hanya memikirkan nasib mereka yang kepalanya pecah, nasib keluarga mereka yang hatinya pecah… menurutku, mengapa kita menyerang mereka, mengapa kita tidak bom saja istana negara, mereka jelas jelas musuh kita? ” Parno rada berani bicara jujur kepada atasannya, Abu Jambal. Ia memanggil Abu Jambal dengan sebutan bang, suatu panggilan standar di kalangan mereka.
“Itu hanya strategi kita. Kita harus bisa membuat musuh panik. Kalau yang kita habisi publik, justru dampaknya lebih besar ketimbang kita bom Monas apalagi Istana Negara. Kita ini berjuang menegakkan apa yang kita yakini, sesuatu yang sangat mereka musuhi. Apapun dan bagaimanapun kita, pasti mereka benci terhadap kita. Karena itu tak perlu kamu menangisi mereka. Sadar, No ”
“Maaf, bang. Aku hanya menyampaikan perasaanku saja. Bagaimanapun aku ini manusia, sama seperti mereka. Apalagi di antara mereka yang buyar tubuhnya itu ada beberapa teman kecilku. Temanku waktu sering main layang layang, temanku bermain di pantai, temanku nyolong ayam…”
“Tapi mereka kafir ” bentak Abu Jambal
“Walaupun kafir, mereka tak merugikan perjuangan kita. Mereka bahkan tak pernah memikirkan kita. Mereka hanya orang orang yang tak punya orientasi hidup. Mestinya kita mengorientasikan mereka.”
“No, No Kamu ini kelewatan Makanya jangan banyak baca buku Kamu hanya boleh menerima informasi dari pimpinan saja. Buku buku itu buatan kapitalis, pasti pikiranmu akan teracuni oleh buku buku kafir itu.”
“Aku hanya sekedar kasihan saja, bang. Tokh kita ini kan diciptakan Tuhan dengan memiliki perasaan. Jangan khawatir bang, rasa kasihanku ini tetap tak akan membuat loyalitasku berkurang.”
“Jangan pakai perasaan Kamu ini bukan perempuan ”
“Maaf, bang.”
“Benar benar payah kamu, No Menyesal aku mengajakmu Selama ini kamu hanya berpura pura loyal terhadap garis perjuangan kita. Kamu hanya berpura pura semangat Kamu harus ikut pengkaderan lagi mulai besok pagi ” Abu Jambal benar benar kecewa terhadap anak buahnya.
“Aku memang tidak seperti Komarudin, yang berani melakukan bom bunuh diri. Aku memang sekedar supir dalam misi ini. Tolong mengerti, bang. Aku bukan kader utama, aku hanya supir. Tolong jangan pelototi aku seperti itu…”
Abu Jambal merenggangkan jaraknya dari muka Parno. Ia menyender ke pintu van yang masih tertutup, lalu menyalakan HP nya. “Berapa lama lagi kalian sampai? Aku beri waktu 3 menit. Kalau tak sampai, aku jalankan plan B ”
“Mereka jadi menjemput kita, bang?” tanya Parno kepada Abu Jambal.
Abu Jambal tak menjawab, ia sedang mengetik SMS.
Sepertinya Parno makin stress akibat aksinya sendiri. Ia membuka sedikit jendela pintu. Matanya mengarah ke ujung jalan, dimana ada sinar lampu sebuah kendaraan. “Mungkin itu mereka, Bang ”
Plan A : Abu Jambal dan Parno menyelesaikan misi meluluhlantakkan target dengan bom bunuh diri yang dilakukan oleh Asy Syahid Komarudin. Sepuluh menit sebelum Komarudin beraksi, mereka sudah harus meninggalkan lokasi menuju hutan malam untuk menunggu jemputan dan meninggalkan kendaraan yang disewa di mulut hutan malam. Kini sedan hitam telah berhenti di seberang Van.
Sebelum keluar, Abu Jambal memberikan perintah baru kepada Parno, “Barusan aku dapat SMS dari pimpinan. Aku naik sedan sedangkan kamu diminta memarkirkan van ini di basement Mall. Kamu pegang handphone ku, jangan keluar mobil sebelum aku hubungi via handphone. Mengerti ”
“Rencana berubah, bang?” Parno adalah anggota yang kritis, namun penurut.
“Tidak berubah, hanya upaya penyelamatan agar kita tak terdeteksi oleh aparat bajingan negara kafir ini ”
Abu Jambal meninggalkan Parno menuju sedan hitam. Sedan hitam itu melaju menuju kota tempat terjadinya ledakan. Parno menyalakan van lalu menuju Mall sesuai misi yang disampaikan oleh Abu Jambal.
Di basement Mall, Parno masih memikirkan nasib orang orang yang terkena ledakan bom yang mereka rencanakan. Bagaimanapun ia merasa kasihan terhadap orang orang yang dianggap kafir oleh kalangan mereka. Ia membuka sedikit jendela pintu van, menunggu perintah dari Abu Jambal melalui handphone yang ada di kantong kemejanya.
Abu Jambal masih di dalam sedan. Terasa getaran alarm handphone yang telah ia pasang sebelum meninggalkan Parno. Ia ambil handphone dari saku celananya, dan menghubungi Parno sesuai janjinya. Setelah menekan tombol dial, handphone tersebut di buang ke sungai yang mereka lintasi dari atas jembatan kota.
Siaran TV menggelar stop press kembali. “Setelah ledakan bom 40 menit yang lalu, kini bom meledak lagi di sebuah Mall. Ledakan tersebut berasal dari sebuah mobil van yang ada di parkir basement.” Demikian berita dari sang penyiar
========================================
Pengirim : mataharitimoer
========================================









