dari ujung aku terpana, walau sebenarnya tak sengaja
terpaku dan tergugu
satu nama tertulis disana
di daun pintu hatimu
aku terkejut dan juga takjub
oh inikah dia?
dia yang selalu kau puja
dalam sadar selalu kau jaga
dalam lelap selalu kau temui
dalam mimpi mimpi abadi
inikah dia..
inspirasi setiap puisi
tertulis dalam bait bait syairmu
untuain dalam rangkaian kata katamu
inikah dia..
labuan rindu dendammu
dalam cinta kau coba benci
dalam benci kau tetap cinta
refleksi satu kata dalam satu makna
diakah ini….
warnai setiap dialog dua jendela
dalam aksara tanpa suara bercerita tentang dirinya
dari timur ke barat, dari telaga ke sahara tetap kau usung namanya
dia..
dia yang punya nama
tertulis di daun pintu hatimu
kunci masuki jendela jendela rasamu
tak akan terganti dan tak akan berganti
dia yang kini membuatku terpana
tak mungkin ku ketuk pintu hatimu
memalukan bila kutetap mencoba
telah ada satu nama yang terukir lama
dan nama itu bukan namaku
namanya kini
membuatku mencoba meraba hati
melihat kesisi hati sendiri
adakah daun pintu hati ini tertulis namamu?
sedalam namanya terpahat di daun pintu hatimu
dan aku tenganga
tiada namamu tergores di sana
di daun pintu jendela
ternyata ku tak berani menggores namamu
selantang dirimu banggakan namanya
dan yang tersimpan hanya sebuah bayangan tak bernama
kini…
pantaskah kecewa itu kurasa
jika rasaku padamu tak sedalam rasamu padanya
yang kupunya tak seberapa dibanding milikmu untuknya
waktuku tak lama dibanding bertahun engkau mengenangnya
rinduku jendela semu tak senyata rindumu padanya
dan kembali kumerasa
alangkah aku tercela
bila kulancang memaksa
menghapus namanya dari daun pintu hatimu
karena disaat yang sama daun pintu hatimu hancur bersama namanya
karena engkau hidup untuk dirinya
jarimu selalu menyusun namanya
bibirmu tak henti mengeja namanya
matamu tak lupa telusuri namanya
tentang rindu dan cemburu
tak berhak lagi aku ramu
aku hanya angin sekejap lalu
bukan pahatan di daun pintu
Kembali kini..
untuk rasaku yang tak seberapa
untuk rindu yang belum sempurna
untuk harapan yang harus kutinggalkan
untuk kenangan yang belum panjang
ku ingin engkau tetap hidup
walau hidupmu adalah dia
terima kasih untuk budimu
walau mungkin engkau telah lama jemu
tak pernah engkau mengusirku
kau buat aku mengerti tanpa harus menyakiti
dan saat kini kupahami
waktunya menutup jendela
jendela yang tak boleh kutulis namamu
teruntuk bagimu di negeri hayalan
Jakarta, 2006
========================================
Pengirim : malam
========================================
Related posts:











