Saut menggelegar kilat tak bersabar
Bersahabat dengan tuan hujan
di bawah asuhan awan hitam, menyambar pucuk daun kering pohon tertinggi,yang beratap belaian surya dan ciuman rembulan.
Fasih menumbangkan teguhnya beringin
dipantauan mata mata makhluk mulia.
Gumaman perih senja yang kuning.
Menutup wajah matahari yang malu berjumpa,
dan memberi toleransi kepada sang waktu
yang tak pernah memejamkan mata.
Menampik iba, maut samarkan bidadari
Mungkin jalan basah bungkam bahasa.
Jeritanpun bersembunyi menyusup ke liang telinga barisan tuan dan puan.
Langit yang masih saja pekat, mengacuhkan irama air di tanah aspal.
Decak miris merangkul rasa
Air hujan dan air mata
sama rasa di tengah jalan menuju kota.
========================================
Pengirim : art-by
========================================
Related posts:











