BENCANA beruntun menimpa negeri ini. Belum lagi penderitaan di Alor dan Nabire usai, gempa kembali mengguncang Aceh dan Sumatra Utara.

Bahkan, lebih parah, sangat parah. Gempa itu disertai gelombang pasang (tsunami). Menurut Badan Geofisika dan Meteorologi Amerika Serikat, gempa yang berpusat di lautan dekat Meulaboh, Aceh, itu merupakan gempa terbesar kelima di dunia sejak 1900 dan terdahsyat sejak gempa di Alaska pada 1964.

Indonesia pun menangis. Kita menangis karena ribuan saudara kita pergi meninggalkan kita. Kita menangis karena penderitaan yang tiada kunjung henti menimpa anak bangsa.

Tetapi, dunia pun turut menangis. Sebab, sekitar 23 ribu orang tewas di kawasan Asia Tenggara dan Selatan akibat tsunami yang dipicu gempa tersebut.

Bencana alam, tentu saja, adalah perkara yang tidak selalu dapat dihindarkan. Bahkan, sekalipun ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang pesat dan canggih, tetap saja terdapat misteri alam yang hingga kini tiada sepenuhnya dapat terperikan oleh akal budi manusia.

Karena itu, bencana alam, dari satu segi, sering dikaitkan dengan makna yang religius. Semacam peringatan kepada umat di bumi untuk melihat kembali relasinya dengan Sang Khalik, terutama melalui perbuatannya terhadap alam semesta. Di antaranya, kelakuan manusia yang telah merusak alam sehingga menghancurkan ekosistem.

Dalam hal tragedi yang menimpa Aceh, perspektif harus lebih dilebarkan menjangkau ranah kekuasaan. Sebab, inilah bagian Tanah Air yang telah menderita didera konflik berkepanjangan dan sekarang menderita karena bencana alam.

Konflik di Aceh bermula dari kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintah pusat. Pusat bukan saja tidak memerhatikan Aceh, bahkan mengeksploitasi Aceh, dan kemudian mencederai banyak janji terhadap Aceh. Maka, lahirlah pemberontakan, keinginan yang sangat kuat dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perang saudara itu belum lagi usai, sekalipun darurat militer telah berubah menjadi darurat sipil. Darah masih terus mengalir, nyawa masih terus melayang. Dan, sekarang, kita pun menangis karena gempa terbesar yang menghancurkan dan merenggut ribuan nyawa saudara kita di Aceh.

Ada janji pemerintah baru untuk mengevaluasi darurat sipil di Aceh setiap bulan. Janji itu sempat menuai kritik. Dan, sekarang, mestinya semua anak bangsa harus bisa melihat Aceh dalam segi kemanusiaan yang lebih luas dan mendalam.

Aceh tidak hanya memerlukan bantuan makanan dan minuman. Tidak pula hanya obat. Tetapi, juga kain kafan untuk saudara saudara kita yang telah meninggal dunia. Untuk itu, melalui mimbar ini, kita mengetuk pintu hati anak bangsa ini agar mengulurkan tangan dalam dompet kemanusiaan.

Lebih dari itu, usai gempa, Aceh memerlukan kedamaian. Perang saudara harus segera diakhiri. GAM kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pusat mengubah kelakuannya yang meminggirkan Aceh. Lalu, menyusul pembangunan sarana dan prasarana sehingga menjadikan Aceh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang aman dan sejahtera.

Sesungguhnya, alam telah murka, sebagai pertanda yang harus dibaca secara sublimatif. Yaitu, karena kita lebih mementingkan ego masing masing, lebih mengedepankan kekerasan ketimbang cara cara damai dalam menyelesaikan masalah. Kemarahan alam kiranya menyimpan kearifan kemanusiaan yang mendalam bagi bangsa ini

========================================
Pengirim : loper
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone