Sekilas ia menemukan selimut kobaran hasrat tersembunyi dibalik bola mata pria yang sedang berbicara di hadapannya. Sebagai seorang wanita matang, nalurinya segera dapat mengendus. Hasrat macam apa dibalik tatapan seperti itu .

Pria itu seorang pejabat. Setengah umur.Posturnya tinggi tegap.Cukup tampan.Raut mukanya menyiratkan karisma dan wibawa. Bercahaya. Kecerahan wajah seorang laki laki yang mempunyai rumah tangga bahagia. Selama hampir duapuluh lima tahun mengarungi hidup berkeluarga , pria itu mengaku padanya tak sekalipun punya pengalaman berselingkuh . Sebab tak ada desakan kebutuhan untuk mesti melakukan hal demikian.

Hati dan pikirannya telah terisi penuh oleh kasih pada anak dan isteri. Dan lagi menurut kepercayaan yang dianutnya selingkuh adalah dosa. Rasanya wanita itu dapat mempercayai apa yang diungkapkan oleh pria itu . Karena sorot matanya begitu bening dan polos. Menurut analisanya hanya laki laki yang tidak membagi tempat tidurnya dengan banyak perempuan sajalah yang dapat mempertahankan kejernihan sekualitas itu.

Pejabat itu senantiasa memberi kesan sebagai seorang yang sangat taat agama. Apabila topik pembicaraan sudah mulai menyerempet pada masalah masalah kehidupan.Ia kerap berujar mirip seorang pendeta. Dihiasinya untaian kata katanya dengan kutipan ayat ayat suci dari alkitab. Parabel parabel yang mengena .Kalimat kalimatnya sarat berisi kebijakan yang mampu jadi penyejuk sukma.

Agaknya kekhusyukan terhadap panutan agama telah menjadi kunci utama mengapa laki laki dengan semua kemudahan yang dimiliki,masih sanggup membentengi dirinya dengan iman begitu kokoh. Sehingga pada zaman bebas seperti sekarang ,virus selingkuh masih belum pernah berhasil membobolnya. Ia tetap suci, tak bernoda terhadap kesakralan perkawinannya.

Wanita pebisnis lincah. Yang sudah berhasil me lobi pejabat ini. Setelah perjumpaan beberapa kali. Dan sanggup mendekati secara kekawanan. Kerap melontarkan gurauan. “Hai Bapak “, seyogyanya memang hidup ini harus dilewati dengan taktik begitu. Jadikanlah godaan itu seperti burung. Biarkan ia melintas di atas namun jangan pernah perbolehkan hinggap di kepala. Pada kali yang lain seperti pada siang itu ,ketika usahawan wanita mengunjungi kantor sang pejabat guna keperluan pekerjaannya. Mereka berdua terlibat dalam perdebatan hangat.Masing masing berusaha mengunggulkan keyakinan yang dianut. Menurut sang pejabat, kehidupan manusia ini baru akan memiliki nilai bila seseorang telah mampu menurut pada sepuluh butir perintah Allah

Tapi bagi si wanita yang adalah seorang single fighter. Pejuang tulen di lapangan kehidupan. Ia berpandangan seyogyanya seseorang tak perlu begitu keras tertempa suatu dogma sehingga berubah kaku mirip lempengan baja.Seharusnya manusia harus bisa lebih fleksibel.

Ia lalu mengambil falsafah air. Sebaiknya hidup kita meniru air.Ikuti bentuk dan aliran yang membawanya.Karena ujud air akan terbentuk menurut wadah penampungnya.Dalam gelas,berbentuk gelas. Dalam botol berbentuk botol. Dalam kaleng berbentuk kaleng.Semasa perjalanan hidup manusia yang bak air mengalir. Pelbagai ragam ujud harus dijalani. Ada yang dituang dalam cangkir.Dikemas jadi minuman botol. Dipancurkan oleh kran bak mandi.Ditampung dalam waduk raksasa, dialirkan ke petak petak sawah. Yang kurang beruntung menjadi air penguras WC. Mengaliri parit parit kotor,bau, penuh tinja. Tapi apapun wujud air ia akan kembali pada bentuk asalnya.Terkena panas ia menguap. Menggenangi tanah ia diserap. Uap jadi awan. Awan menjelma hujan. Hujan turun membasahi tanah.Lalu terhisap lagi oleh bumi. Menjadi persediaan amat berharga bagi kelangsungan mahluk mahluk hidup diatasnya. Jika proses daur seperti ini telah termaklumi. Mengapa seorang harus begitu menggembar gemborkan tentang agamanya sendiri ?

Wanita pebisnis segera membentang serat serat halus dalam pikirannya. Ia berbicara blak blakan. Saya tak memerlukan tempat ibadah untuk menentukan kualitas iman saya. Saya lebih cenderung menuruti sesuatu yang mendasar dari dalam lubuk hati saya. Yaitu membagikan kebaikan kebaikan kecil dalam konteks kemampuan saya kepada yang memang membutuhkan. Meskipun saya tak bakal sanggup meniru keberadaan seperti laut lepas. Sungai yang mengalir. Atau mata air yang berkesinambungan memancar.

Biarlah keberadaan saya akan mirip sebuah kolam walau dangkal dan sudah tak begitu jernih. Tapi yang tak akan menolak kaki kaki musafir kepanasan pada saat mereka ingin berhenti guna memperoleh air pembasuh atau kesejukan sesaat.

Barangkali ungkapan wanita itu telah diartikan lain oleh sang pejabat. Entah keberanian darimana. Tiba tiba di dalam ruang kerja dimana mereka hanya berada berdua.

Pejabat itu mendekat dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening lawan bicaranya. Wanita itu sekonyong menjadi jengah dan tersipu.

Sengatan hangat aneh menjalari sekujur tubuhnya. Hal serupa dialami oleh laki laki itu juga .Namun dia tak terpancing melakukan tindakan lebih jauh mungkin karena telah cukup terlatih mengendalikan perasaannya.

Sesudahnya mereka berdua menjadi lebih sering saling bertelpon dan bercanda akrab.

Wanita pengusaha yang menyandang status janda,sebetulnya mampu membayangkan apa yang bakal terjadi jika keakraban seperti itu dibiarkan mangkin berkembang. Secara jujur ia menaruh simpati juga pada pria tersebut. Jadi sama sekali bukan atas dorongan niatan ber KKN. Namun tentunya ia juga tak ingin dikesani sebagai perempuan gampangan. Ia mempertahankan peri laku santun.Dan tetap berusaha menjaga jarak. Kecuali dalam pembicaraan telepon saja ia bisa sedikit mengumbar kata kata genit . Seperti pada suatu hari ketika ia menelpon, disapanya pria pejabat itu dengan nada suara yang dibuat seseksi mungkin.

“Selamat siang bapak sayang., ini telepon dari Lucifer. Adakah kiranya Bapak berkenan mencicipi sebutir apel yang ranum dan lezat ?” Pejabat itu semakin menjadi mabuk kepayang .Tapi pada pertemuan ,wanita itu tak akan mengijinkan bagian tubuhnya tersentuh selain daripada jari jari tangannya.Sampai pada suatu hari pria itu tak dapat menahan gejolak perasaannya lagi.

Isi hatinya diungkapkan secara terbuka. ” Baiklah aku berterus terang saja. Aku sudah tidak tahan. Aku ingin melakukannya. Walau ini bakal merupakan pelanggaran pertama kali .Aku siap menanggung dosa .Asalkan memperoleh sebuah memori terindah dalam hidupku”.

Wanita pengusaha itu merasa seperti tersanjung.Ada gelora gelora membuncah dalam hatinya. Hmm, rasanya sulit baginya untuk menampik permintaan itu. Barangkali ini juga akan merupakan kenangan terakhir bagi kehidupan keperempuannya. Usianya sudah tidak muda lagi.Tak akan gampang baginya untuk menemukan pasangan yang dapat menyalakan dian hampir padam di dalam.

Namun jauh di lubuk hatinya , sebenarnya ia tahu bahwa simpatinya bukan semata karena kebutuhan badaniah. Sejenis kebanggaan bahwa ia bakal menjadi pemecah pertama benteng yang begitu kuat kokoh.Jadi perasaannya mungkin akan tak ubah dengan rasa haru dan senang pria yang berhasil menembus kesucian gadis .

Demikianlah pada suatu senja yang temaram,mereka berdua bertemu di lobi sebuah hotel berbintang. Lalu bersepakat untuk membooking sebuah kamar. Sesampai di dalam.Di luar segala dugaannya.Laki laki itu dengan cepatnya menanggalkan pakaian. Setelah bertelanjang, langsung saja menubruk dan memeluk dirinya..Wanita itu agak kaget , namun ia tak kuasa menepis jari jemari yang menggerayang dengan gerak begitu tergesa dan asal asalan. Ia menjadi terbayang peri laku seekor kucing lapar di depan pinggan ikan.

Terbersit kedongkolan. Tapi ia mencoba menahan . Ah…,bukankah ia telah memberikan perumpamaan dirinya laksana sebuah kolam kecil yang siap membagi kesejukan. Untuk mahluk yang begini dahaga,apa salahnya ia beri beberapa tegukan yang dapat jadi penawar haus ? Pijaran dalam tubuhnya mendadak padam. Ia bersikap pasrah . Biarlah ia hanya menjadi pecundang pada malam itu. Biar sajalah pasangan selingkuhnya mendaki gunungnya sendirian.

Beruntunglah lampu kamar telah dimatikan. Segala sesuatu menjelma menjadi bayang bayang. Dengan demikian raut kekesalannya berhasil tertudung oleh kegelapan.

Wanita itu mencoba mematikan hampir seluruh indera. Sepasang matanya erat dikatupkan. Ia tak ingin melihat. Tak ingin juga merasa. Hanya alat pendengaran saja masih menangkap bunyi paling nyata. Yaitu dengus nafas pasangannya di antara latar musik lembut mengalir dari perangkat suara yang terpasang di sebelah tempat tidur.

Beberapa lagu silih berganti. Kemudian tanpa terduga muncul sebuah alunan yang terasa pernah dikenalnya. Ia telah lupa dengan judulnya. Tapi irama lagu..,irama lagu itu terasa begitu mendayu dayu dan seumur hidup tak akan pernah dapat terlupakannya.

Sebuah adegan dari masa kecil berkelebat dalam bayangan. Dirinya yang masih berusia sepuluh tahun. Berbaju hitam. Dikelilingi ibu dan kakak kakaknya yang juga mengenakan warna sama. Mereka semua tersedu di hadapan sebuah peti yang di dalamnya terbujur sesosok tubuh kaku mengenakan setelan jas bersemat bunga lili putih. Jenazah itu adalah ayahnya.

Meninggal mendadak akibat serangan jantung. Di sekitar mereka, para pelayat yang kebanyakan terdiri dari anggota gereja , ramai ramai bersama menyanyikan sebuah kidung rohani sebelum upacara penutupan peti. Nada lagu begitu mengharu biru ,menggetar sukma.

Sekonyong konyong ia merasa gerakan tangan yang menelusuri lekuk liku tubuhnya terhenti.Terasa pelukan yang mengendor. Laki laki itu melepaskan dekapannya kemudian memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan.

Nampaknya pria itu tersentuh oleh alunan kidung itu juga dan ikut pula menikmati iramanya. Setelah selesai untuk beberapa lama keduanya terbisu dalam keheningan dalam. Seperti sebuah kesepakatan yang tidak perlu dilisankan. Wanita itu mengangguk pertanda persetujuan kepada pasangannya tatkala pria itu bermaksud bangkit dan mengenakan pakaiannya lagi.

Ia tak pula berusaha mencegah ketika laki laki itu berpamit pulang padanya. Baru setelah akan menghilang dari balik pintu ia mengulurkan tangan untuk menjabatnya. Mereka bersalaman dan berbicara seperti sepasang sahabat lama. Setelah saling mengucapkan kalimat maaf bermaafan,pria pejabat itu menghilang dari balik pintu.

Tinggallah wanita itu sendirian di dalam kamar hotel. Ia lalu membaringkan diri lagi di atas ranjang yang kini terasa amat luas. Ia menghela napas panjang.Merasa seolah baru terbebas dari himpitan yang amat berat. Ketika berahinya mulai muncul dan menggelegak.

Wanita itu mendapati dirinya bersanggama dengan semesta.

========================================
Pengirim : Mila
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone