Anima Intelektiva, begitulah Plato menyebut manusia dengan segala kelebihan dalam hukum trichotomnya. Oleh karenanya manusia dapat berpikir begitu ruwet tentang hakekat kehidupan. Ada yang dapat menyimpulkan bahwa hidup hanyalah sebuah panggung sandiwara, ada juga yang bilang bahwa hidup tak lebih dari derita penjara alkatraz sehingga banyak orang yang tak urung nyali untuk memilih menamatkan nafas dengan cara mereka sendiri. Namun tidak kalah banyak yang mengikuti teori tabularasanya John Locke yang tak pernah puas dengan 24 jam sehari untuk selalu mencari, mencari dan mencari, namun entah apa yang mereka cari yang mungkin mereka sendiri tak bisa ungkapkan dengan pasti. Cinta, harta, kedudukan, kepuasan, atau mungkin segala yang Alloh berikan untuk seluruh hambaNya yang tak tersadari. Pesimisme, tentu tak kalah seru dengan manusia pencari tadi. Bedanya disini mereka 24 jam yang selalu diputarkan Alloh untuk umatNya hanya untuk pasrah atas semua yang ada, karena inilah anugerah yang perlu kami syukuri, begitu mereka berkilah ketika kutanya mengapa mereka begitu menikmati hidup monois tersebut. Begitulah sedikit cerita tentang manusia dengan hakekat kehidupan. Silakan anda berfikir karena hanyalah anda yang tahu dimanakah anda berdiri, karena akupun sendiri tak tahu. Maka begitu saja terluncur tulisan ini ketika aku setiap saat bertanya apakah yang aku cari dalam hidup ini. Namun tak ada satupun jawaban jiwa yang dapat meyejukkan dada. Begitukah dengan anda??

Namun disuatu saat, aku diam dalam segala kelelahan nurani, aku tersenyum menatap sebuah pancaran yang begitu menyilaukan. Lalu kuperhatikan benar darimana sinar itu berasal, namun ternyata tiada berpangkal. Lalu aku mencoba berpikir karena aku merasa mempunyai akal, anugerah besar yang membedakan aku dengan makhlukNya yang lain. Sekali lagi aku tiada menemukan jawaban. Kegelisahan mulai menusuk ruangan kalbu yang tak henti merayapi penjuru nyawaku. Kemudian kumelihat sekelilingku, ternyata mereka menangis, namun diseberang sana ada juga yang tertawa tak tertahan, ada juga yang hanya diam bak tanpa nyawa, tapi yang mengherankan ada juga yang begitu saja berlalu. Apakah ini yang orang katakan cinta? Sesuatu yang tak berbentuk, tak bernyawa namun dapat menjadikan manusia yang katanya mempunyai akal menjadi bertingkah gila, menangis, tertawa dan berjuta ekspresi yang tak terlukis ataupun terbidik lensa memori. Lalu aku kembali bertanya mengapa cinta ada?

Pertanyaan klise yang tidak mungkin kujawab sendiri, karena aku saja tidak tahu golongan manakah aku bernaung. Sedikit jawaban yang melegakan bahwa Maslow menghukumkan manusia dengan segala kebutuhannya. Yah, mungkin itulah mengapa aku tak mampu meninggalkan koyakan hati yang bertahtakan cinta. Andai Plato, Aristoteles masih hidup tentu akan kukunjungi dia untuk membuat teori tentang anima intelektiva cinta. Mengapa kadang pikiran dapat mengalir sebening mata air zam zam, tapi kadang tiada dapat menerima alasan satupun untuk mengalahkan keangkuhan cinta. Bahkan ilmu Ki Hajar Dewantoro bahwa jiwa adalah keajaiban yang dimiliki manusia sehingga suatu saat akan insyaf dengan segala dosa dan kemunafikan, tiada lagi bermakna, baik dengan perhitungan X2 , T Test, ANOVA maupun regresi linier. Karena yang ada mungkin nafsu atau perasaan yang tiada berujud tadi, cinta.

Tatkala kenyataan menghadang, bahwa cinta tak mampu menyelesaikan berjuta masalah kehidupan manusia, saatnya kembali bercermin, untuk apa cinta itu harus ada, tumbuh, dan bahkan berkembang dengan suburnya. Dan inilah yang saat ini sedang kurasa, kupikir dan entah perkataan apa lagi yang pantas kuucapkan untuk menguraikan benalu benalu hati. Yah, benalu kusebut perasaan itu. Karena tidak ada sebutan lain yang lebih pantas untuk menyebutkan segudang gelora yang kian detik kian menyesakkan dada, membuat kepala tak lagi diam, dan segala hal yang hanya membuat hidup semakin tidak terarah. Banyak orang yang bilang tak enak makan, tak bisa tidur, bodoooh manusia memang bodoh dan mungkin aku adalah salah satu manusia yang sudi menempatkan diriku pada level itu Tapi salahkan semua itu terjadi?

Tidak ada satupun polisi, jaksa, hakim yang mampu memasukkan pelanggaran atas nama cinta. Atau coba tanyakan pada mahasiswa fakultas hukum, adakah hukum dagang tentang cinta, atau acara perdatanya cinta, apalagi hukum pidana tentang cinta. Semua pasti akan diam, karena �mereka�pun punya cinta Lalu, kemanakah keadilan tentang cinta akan kita peroleh?

Hanya dalam hati, bukan pikiran Sekali lagi bukan pikiran. Plato, Aristoteles, dan bahkan Ki Hajar dewantoro adalah ahli besar yang telah menelurkan master piece ilmu psikologi, hubungan antara pikiran, jiwa dan yang lainnya. Namun, dimanakah harus kita cari suatu permaknaan atas nama hati dan cinta. Haruskah kita hanya berpikir disaat cinta itu harus terenggut, atau haruskah hanya menghitung dengan rumus tatkala semua kenangan bersama cinta harus terkubur, atau tatkala perpisahan itu harus terjadi, haruskah semua hanya dilogika?? karena ternyata saat ini aku menangis, pikiran, logika, dan bahkan hitungan hitungan itu tak mampu lagi berjajar di benakku. Mengapa hanya bayangan cinta yang bersemayam, dan aku sungguh sungguh tak kuasa�

Itulah mungkin alasan yang kuat mengapa Albert Ellis mencetuskan ide Emotive Rational Theory, dimana ia mengharapkan pencerahan yaitu agar manusia dapat berpikir rasional dan logis serta membuang kepenatan hidup dalam tajuk pikiran irasional. Namun, tahukan anda mengapa Ellis dengan ide brilliannya menulis terapi kognitif dan behaviornya tadi� OOO Cinta, ha ha ha itulah jawabannya�Ketika manusia dihadapkan dengan kubangan cinta tak sedikit mereka berpikir jalan yang tak masuk akal, tak bisa dirasio dan bahkan gila Itulah the miracle of love Keajaiban cinta

========================================
Pengirim : niken meila
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone