Sajak kepada pencinta pertiwi

Di malam sunyi � itulah lembah ketajaman.
Di situ pernahkah kita bertanya,
makluk mana tidak merindu pulang ?
Di balik jendela rindu memanggil slalu, bukan
Kerinduan mana menghambur harap,
ketika pergi atau pulang ?

Kepergian adalah mencipta rindu kepulangan.
Kepulangan adalah merindu tanah terjanji,
mencium ketuban ibu, mengeja kesaksian bau rerumputan
mencinta manusia � sesama dan mengolah semesta.
Tapi sejak kau dengung kepergian adalah membunuh kepulangan,
tak sengaja akau terbawa mimpi
menyusuri lembah berbangkai.

Aku melanglang,
yang lalu menjadi seekor serigala tua,
memasuki reruntuhan kota,
mengendus � endus palang syahdu,
bertengger di bawah beringin tua yang mulai meranggas,
mengejar kemayaan cinta ibuku,
mengeja tetek � bengek cintanya yang tak beralamat lagi,
mencari sukma cinta yang tlah musnah untuk selamanya.

Itulah malam � malamnya kematian kepulangan.
Namun kini,
langkahku adalah langkah bentangan malam yang tlah terkikis fajar
memadukan titik titik cahya
menyatukan garis garis kencana.
Tegak berdiri
berjubah hitam segera ingin menelan sang surya
laksana Hanoman duta.
Karena sesungguhnya
kehidupan bukanlah hitam putih, salah � benar
terang � gelap, suka � duka ataupun surga � neraka.
Kesengsaraan kita bukanlah aroma neraka dan
Kenikmatan kita bukanlah citra surga.

Tetapi karna lengan baju telah disingsingkan,
kaki kaki telah dihentakkan, maka
kehidupan kita adalah medan laga �tuk mencipta semesta

Sankt Augustin, 26 oktober 2003

========================================
Pengirim : gendhotwukir
========================================

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *