Musim panas telah berlalu
mentari perlahan pergi menjauh.
Daun daun di pohon jadi kuning, jadi coklat dan jadi kelabu berdebu.
Satu satu jatuh ke pangkuan bumi.
Merabuk jadi pupuk buat tunas tunas muda musim semi yang akan datang.
Begitulah segalanya, punya waktu untuk datang punya waktu untuk pulang.
Tak ada yang hilang terbuang dan tak berguna.
Segalanya punya peranan yang dimainkan.
Segalanya harus terjadi.

Hidup kita hanya sekali
karena itu sangat berarti.
Kita tak bisa lagi kembali mengulang kisah yang sama.
Mungkin bisa menyusuri jalan kenangan dengan segala suka duka yang kita jumpa.
Lahir bukanlah pilihan dan hidup sesuatu yang terjadi buatmu.
Ada di bumi, bayangkanlah mau ngapain kita disini.
Tengadah ke langit, kosong sepi.
Diatas kita hanya langit biru.
Seandainya pasangan Adam tidak menjarah buah terlarang, kita masih di taman Firdaus.
Bayangkanlah

Angin musim gugur yang dingin mulai menderu dari selatan dan di udara burung burung berpulangan ke pulau tropika yang hijau.
Semusim dan semusim aku melihat sekitarku, apakah yang tertinggal diantara kita?
Waktu terus berpacu dan kita menjadi tua melebih usia. Dimanakah kawan lama yang sama berjuang?
Seandainya kita jumpa lagi, masa lalu jadi cerita buat berkenang. Setitik kenangan segaris perjalanan. Cuma itu.

Daun daun kering berguguran.
Gugur satu persatu.
Beberapa yang tinggal, alangkah sepi.
Hari mulai kelam dan dingin mulai bergantungan di pencakar langit kota.
Yang pasti, sehabis musim gugur dan musim dingin, kita akan jumpa musim semi kembali.
Cuma itu. Begitulah hidup ini.

Melbourne, musim gugur 2004.

========================================
Pengirim : El Camino
========================================

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *