Sisa sisa hujan di akhir tahun lalu masih menyisakan rintiknya di awal tahun ini. Pernah aku berpikir bahwa hujan mengajarkan hal yang buruk bagi manusia. Aku sering beranggapan bahwa hujan adalah perlambang kesedihan langit karena tidak lagi mampu menahan bebannya, kemudian ia menjatuhkan airnya ke bumi bak airmata. Langit menangis.

Hujan mengajarkan manusia untuk selalu menangis bila ada beban dihatinya. Bernarkah? Tapi bukankah menangis adalah ekspresi pembebasan jiwa? tangisan bukanlah kesalahan. Dan bagaimanapun juga hujan memberikan kehidupan bagi seluruh mahkluk penghuni bumi.

Seperti hujan hari ini, entah mengapa aku rasakan lain. Hujan membuatku enggan melakukan aktifitas apapun. Ia hanya membuatku semakin nyaman berada di atas ranjang, bersembunyi dibalik tebalnya selimut, sambil memandangi tetesannya jatuh. Dari lantai dua kamarku.

Melalui jendela yang sengaja kubuka lebar, aku dapat dengan leluasa melihat bagaimana hujan tanpa belas kasihan mengguyur apa saja yang tak terlindungi. Beberapa pejalan kaki tampak berteduh memaksakan tubuhnya berlindung di tempat yang sebenarnya tidak mampu menampung ukuran tubuhnya. Bisa dipastikan sebagian tubuh mereka tanpa ampun tertusuk rintiknya. Sepasang burung merpati bertengger di dahan sebuah pohon, tampak mengembangkan bulu bulunya demi mengimbangi udara dingin dan percikan air hujan yang menerobos masuk melalui celah celah daun, yang seolah olah sengaja mengenainya.

Hari ini adalah beberapa hari setelah separuh jumlah hari bulan pertama berlalu. Hari ini hujan terasa berbeda dengan hari hari sebelumnya. Hujan ini memaksaku untuk mengingat seseorang. Seseorang yang dulu pernah begitu dekat dihatiku. Entah dimana ia sekarang? Entah bagaimana kabarnya, apakah masih hidup? Atau sudah,� Ah, aku tak boleh berpikiran begitu, aku harus tetap berdoa untuknya, untuk kebahagiaannya.

Tapi apakah hari ini ia juga merasakan seperti apa yang aku rasakan, apakah ia juga masih mengingatku?

Hujan masih tetap setia menemaniku. Bahkan kini bertambah deras, seiring dengan ingatanku pada orang itu. Aku teringat pada suatu malam, beberapa tahun yang lalu. Ketika temanku memperkenalkannya padaku.

Sebuah awal yang indah, dan sejak malam itu kami sudah tertarik satu sama lainnya. Hujan malam ini mengingatku pada suatu malam. Itu adalah kali pertama kencan kami. Kami duduk pada sebuah bangku di taman kota. Kami bercerita banyak hal sambil menikmati jagung rebus. Tiba tiba rintik hujan dengan nakal mulai menyentuh kulitku.
�Kalau berdua begini, biar hujan pun nggak masalah.�

Aku tahu itu hanya rayuan gombalnya. Aku berani bertaruh seandainya malam itu hujannya sederas hari ini, ia pasti akan lari untuk berteduh, atau bahkan malah meninggalkanku. Tapi terus terang aku senang mendengarnya. Dia memang suka bercanda, dan mungkin satu hal itu yang aku sukai darinya. Ia tak pernah kehabisan akal untuk mencari bahan lelucon yang bisa membuatku tertawa. Terkadang ia sering menggodaku, dan ia selalu berhasil membuatku tersipu malu.

Perkenalanku dengannya terbilang singkat. Puncak dari semua itu, ketika ia mengajakku pada suatu siang, sehari setelah pertemuan kami malam itu. Siang itu, kami berada di lantai empat sebuah cafetaria di sebuah mall. Siang itu aku menikmati bakso kesukaanku dan ia hanya memesan segelas ice cappuccino. Aku tak pernah membayangkan bahwa pertemuan siang itu bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan siang itu adalah pertemuan hati kami.

Aku tak kuasa menghindar ketika ia melepaskan panah asmaranya, seketika itu juga menancap dihatiku. Aku diam saja. Aku bahkan tak berusaha untuk mencabutnya. Aku hanya merasakan kebahagian yang teramat sangat mengalir keseluruh tubuhku. Aku tak mampu melukiskannya dengan kata kata perasaanku saat itu. Aku bagaikan berada di dunia lain, dunia dimana hanya ada cinta dan kebahagiaan, dunia dimana hanya ada aku dan dia.

Sejak saat itu, hari hariku dipenuhi oleh bunga bunga cinta. Lukisan hatiku diwarnai oleh kebahagiaan. Rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Kami melewati hari hari kami dengan cerita indah tentang cinta. Namun itu tidak berlangsung lama. Pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi. Ia memang egois dan emosional, tapi selalu berhasil terselesaikan dan canda pun kembali menghiasi hari hari kami. Perbedaan watak, atau mungkin budaya sangat mempengaruhi hubungan kami. Kesalahan memaknai tingkah laku sering menimbulkan perasaan sakit hati. Budayaku yang lembut dan budayanya yang mungkin sedikit keras sering kali berbenturan.

Entah karena cinta atau apa? Aku tetap mencoba untuk mengalah. Aku tak pernah mempermasalahkan sikapnya. Memang ia sering mengatakan padaku, untuk menegurnya bila ia melakukan kesalahan atau bila ada sikapnya yang tidak aku sukai. Tapi budayaku tidak mengajarkan itu, bagiku adalah tidak pantas menegur seseorang secara langsung. Dan mungkin itulah kelemahanku. Aku hanya menyimpan dalam hatiku bara bara kecil kemarahanku.

Hingga pada suatu hari. Sungguh hari yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi dalam kehidupan cinta kami. Angin kesalahannya telah menyulut bara kemarahanku sehingga dalam waktu singkat menghanguskan seluruh bangunan cinta kami.

Seluruh rasaku ikut terbakar bersamanya. Ia mencoba datang membawa segelas air maaf untuk mematikan api kemarahanku. Tapi semuanya terlambat, api kemarahanku terlalu besar untuk segelas air maafnya, selaut maaf pun mungkin tak akan mampu memadamkan api kemarahanku.
Ia kemudian berusaha untuk mendapatkan maafku. Segala cara ia coba, tapi itu semua tak mengubah keputusanku. Aku bahkan tak memberikan kesempatan untuknya, walau ia berjanji akan merubah semua sikapnya. Apakah aku salah dengan sikapku?

Sebuah pilihan yang menyakitkan memang. Sungguh aku pun merasa tersiksa dengan semua ini. Tak semudah itu melupakannya, melupakan orang yang aku sayangi, melupakan orang yang pernah membuatku merasa sangat bahagia. Aku terkadang ingin belajar cara untuk melupakan masa lalu. Aku sadar ketika kita mengingat sesuatu akan hal buruknya maka kita pasti akan membencinya. Tapi mengapa aku tak bisa mencobanya?

Aku sering mendengar permintaan maafnya yang ia bisikan melalui angin, hujan, siang, malam, batu, air dan semua isi alam ini. Mereka selalu membisikkan kata kata permohonan maafnya. Tapi ternyata aku gagal, aku bahkan tak mampu melawan diriku sendiri. Aku lebih memilih untuk tersiksa seperti hari ini. Dan hari ini, hujan ini, semuanya membisikkan permohonan maafnya dan memintaku untuk melupakan semua masa lalu itu. Ponselku berdering.
�Hallo.�

�Hallo, hallo, siapa nih?�
�Hallo.�
Tak ada jawaban. Petir di luar menyambar dengan keras menyisakan kilatan membelah langit. Telpon terputus. Hening.
Nomor asing, bathinku. Tapi tunggu dulu. Ya, aku ingat suara tadi. Aku pernah sangat akrab dengan suara itu. Suara yang pernah sangat aku rindui. Gerangan apakah ia menelponku? Apakah ia akan minta maaf padaku, ataukah ia sekedar ingin mengingatkanku kenangan hari ini ? Ataukah ia akan menyakitiku lagi ?

Angin berhembus kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Aku melihat sekumpulan angin memaksa masuk ke kamarku. Aku menarik selimut tebalku untuk melindungi tubuhku dari rasa dingin yang dihembuskannya. Samar samar kudengar setiap angin itu membisikkan kata, entah apa katanya? Aku tak bisa menangkap dengan jelas karena di luar gemuruh halilintar bersahutan. Tapi aku yakin, angin itu dari timur, bisikkan itu dari timur, datang untuk membisikkan kata kata yang tidak sempat diucapkannya tadi.

Perlahan angin meninggalkan kamarku. Hujan mulai reda. Mendung berganti cerah, langit tersenyum, terlihat sangat bahagia. Tapi apakah kebahagiaan masih bermakna. Adakah kebahagiaan ini nun jauh di timur sana?

Yogyakarta, 5 september 2004
Oleh: Deddy S. Tamorua

========================================
Pengirim : Deddy S. Tamorua
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone