“Do not believe in anything simply because you have heard it. Buddha.

Apakah ayat suci, puisi dan janji yang telah sejuta kali dikomat kamitkan lidah yang tak bertulang, masih punya arti kalau kau dengar sekali lagi?

Janji, sering dikatakan tanpa maksud sepenuh hati untuk memenuhinya. Janji bagaikan sumpah ini sumpah itu, akhirnya muncul persoalan yang baru, janji pun terlupa dan tertinggal. Sama sekali tak punya arti. Paling tidak, orang suka mendengar dan sesekali agak percaya Janji pemerintah, pejabat tinggi, ataupun antar keluarga, kawan dan tetangga, tak banyak yang mengambilnya dengan serious. Begitulah kalau kata kehilangan makna
Orang sudah jerah, jenuh dan pengap mendengar yang itu itu saja. Sejak zaman Sukarno, Suharto, Gus Dur dan Mega, katanya KKN akan disapu bersih dan marilah kita bersatu membangun masyarakat yang adil dan makmur
Kenyataannya lihatlah apa yang terjadi dimana mana dengan mata terbuka lebar

Puisi adalah bahasa indah yang mampu membuat kita tegak berdiri jadi optimis, positif, produktif, perkasa dan patriot Pada saat lebih dari 40 juta rakyat disebut miskin, dekat 40 juta rakyat tak punya kerja atau pendapatan dan yang lain harapan jadi rawan, puisi tak bersuara apa apa.
Pada saat kampung sampah, pemulung, pengamen, pengemis, gelandangan dan orang orang liar jadi berkembang biak jumlahnya dimana mana, puisi dan penyair diam saja.
Nampaknya mereka masih saja sibuk menulis tentang angin yang sepoi sepoi basah, malam sepi, bulan yang sendiri dan salak anjing yang sedih.
Masih sibuk menangisi cinta yang mendadak pergi, hati yang remuk, jantung yang berantakan serta Romeo dan Juliet yang bunuh diri karena cinta tak sampai. Aku terkadang bertanya :”Siapa saja sih yang baca puisi macam begini? Apa ada yang mau beli buku puisi? Apalagi masalah sembako selalu menganggu ”
Please explain to me

Ayat suci yang maha agung dan abadi, kalau sudah dikomat kamitkan lidah yang tak bertulang pun (Apa boleh buat ) jadi kehilangan makna Apalah artinya kalau manusianya lalu pakai ubel ubel, janggut janggutan atau kumis, pakai jubah putih lari lari di jalan bawa pedang sambil teriak teriak ngancurin toko tokonya orang yang nggak tahu apa apa? Apakah ayat suci itu meresap di hati sanubarinya? Bukannya sekolah, cari kerja dan jadi warganegara yang bermutu dan berguna, tapi malah joint laskar ini laskar itu yang tak jelas premannya Dimana otaknya?
Dimana kemampuannya berpikir dan berpendapat sebagai manusia yang punya Tuhan? Tak ada arti itu mulut yang cuma bisa komat kamitkan ayat ayat suci yang maha agung dan suci Tanpa berbuat yang berarti, kata kehilangan arti.
Seribu pengeras suara jadi hampa suara

Terkadang aku berpikir.
Apakah ayat suci, puisi dan janji yang sudah sejuta kali bolak balik dalam hidup kita, masih bisa membakar semangat? Apakah kita perlu meninggalkan kebiasaan membebek atau jadi semacam burung beo, yang cuma mampu mengulangi yang itu itu saja? Apakah kita takut berpikir, berpendapat dan bersuara?
Apakah kita takut jadi manusia yang hidup di abad ke 21? Apakah kita lari terbirit birit dari kenyataan dunia dan tantangan kehidupan yang ganas dan buas di depan kita? Mengapa kita tak bisa jadi seperti orang Jepang, Taiwan, Malaysia atau Singapore? Maju dan berkembang, bukannya jadi dangkal, picik dan fanatik Inilah yang sering dibicarakan orang di sekitarku dan aku jadi ikut bicara. Aku mencoba untuk menulisnya.
Seandainya kau ada idea, saran atau gagasan yang baru, cobalah menuliskannya. Aku ingin membaca dan membicarakannya. Just do it

Jalanan 2004

========================================
Pengirim : El Camino
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone