Kurebahkan tubuhku di atas rerumputan hijau sambil menikmati indahnya gumpalan awan yang mengantung diri di langit langit biru. Berarak arakan, berkejar kejaran seturut titah dan desau sang angin. Pergi. Seketika belaian angin sepoi nan lembut mendadak ganas menerpa daun daun beringin yang menaungi diriku jatuh berguguran. Kuhitung helai demi helai. Satu, dua, tiga…hingga aku tak mampu menghitungnya. Napasku pun terengah engah. Sang angin, mengapa engkau menampar sahabatmu beringin seperti itu?
Sejenak kutengadahkan mataku pada cabang cabang pohon itu. Astaga, jari jemari sang angin telah merobek busana “daun” dari ranting ranting beringin itu dengan rakus. Malu. Cabang cabang itu berdiri telanjang tanpa sehelai daun di tubuhnya. Bugil. Seolah olah seiring dengan tiupan angin itu, sang beringin menjulurkan ranting rantingnya untuk meraih kembali daun daunnya yang terjatuh di dekapannya seperti semula. Tapi, tak kuasa. Sahabatnya sang angin telah merenggutnya lebih dulu. “Kasihan.. Sial benar nasibmu sang beringin,” begitu aku membatin.
Seiring dengan itu kupejamkan mataku dan kutarik napasku dalam dalam. Ah.. Serasa ragaku ini kosong tak berjiwa. Hampa. Laksana dedaunan kering digigit sang api terbakar hanggus. Ku sesali diriku sendiri. Nasib persahabatanku tak ubahnya daun daun kering yang termakan oleh api. Jadilah aku debu tak terpakai. Karena sahabat, demi sahabat, oleh sahabat, kurelakan jiwaku ditelanjangi. Nuraniku dicabik cabik, dicincang cincang dengan pisau kemarahan. �Tolong beritahukan sahabatmu. Kalau tidak, sahabatmu akan kutikam dengan kata kata tajam,� bentak seorang sahabat padaku tanpa ber ba bi bu bagaimana duduk permasalahannya.
Perlahan lahan kususuri lorong lorong pikiranku dengan jiwa gontai. Aku harus bagaimana? Apakah aku harus menegur sahabatku secepatnya? �Tidak.. � Aku membantah bisikkan kalbuku. Ingin menegur tapi perasaan berat selalu menghantuiku. Lagi lagi niat itu kuurungkan dan kubunuh pelan pelan. �Lebih baik aku menangung sengsara dari pada hilang seorang sahabat. Jangankan berkata kata, sahabatku, berbisik pun aku tak mampu,� begitu kalbuku berbisik.
Bisikkan desau angin malam menyapa diriku dengan lembut. Jari jemarinya membelai belai diriku tertidur pulas dalam ranjang mimpi nan empuk. Pikiranku tenggelam dalam mimpi mimpi indah. Nyanyian kenangan masa lalu hadir dalam setiap khayalku. Canda tawa, ketawa ketiwi, bisikan mesra bertubi tubi datang dan pergi sesuka hati. Sejengkal sunyi dikupingku terngian kembali bisikkan sahabatku, �Aku menyesal.. � beber sahabatku kala pertama kali kami bertemu. Aku tertegung tanya, �Maksud, Lu?� Dengan penuh hati ia berujar, �Dalam hidupku, aku baru menemukan seorang sahabat sebaik seperti Anda. Aku tak akan melepas dirimu dalam situasi apapun,� paparnya sambil memeluk tubuhku erat erat.
Sejenak hening benih benih persahabatan di petak hatiku tumbuh mekar merekah. Hari merangkak ke hari, tahun menjalar ke tahun, persahabatanku dengan sahabatku kian erat. Pohon persahabatan yang kami tanam bersama sama cabang cabangnya terpenuhi dengan daun daun persahabatan. Subur dan lebat. Jalan bareng, berbagi pengalaman, berbagi ide, saling memberi menerima, dan saling bantu membantu adalah daun daunnya. Dan, daun persahabatan itu laksana dedaunan beringin yang akrab dengan sahabatnya sang angin bersatu dalam kesejukkan. Segar.
Kesejukkan mimpiku itu terduduk di sudut sudut hati yang paling dalam. Mimpiku kian mendonggak dan menjulurkan kepalanya sambil mendesak batinku untuk merenung. Entahlah, canda tawa, kesejukkan seketika jadi gersang. Kering. Bahagia jadi benci. Benci karena disakiti dan menyakiti. Aku merasa bersalah pada sahabatku sendiri. Kala tengah asyik bersanti ria, tangan tangan nakalku meraih dan menarik segumpal daging pada raga [dadanya] sahabatku hingga terluka. Ia berteriak histeris, sakiiiiittt.. Tapi aku tak perduli. Tarikanku kian keras hingga ia mengeliat kesakitan. Augggg..
�Ah, hau kanek tiha ona (Ah, aku terluka).. � bebernya sambil buka kancing bajunya dan memperlihatkan lukanya dengan tangan gemetaran. Mukanya memerah dibarengi dengan rintihan panjang. Tiba tiba, dalam kalbuku hadir penyesalan yang sangat dalam. Mengapa aku menyakiti sahabat karibku. Rasa sesal yang ada di dasar hatiku aku muntahkan. �Maafkanlah aku sahabatku.� Tapi, sahabatku tak menyahut. Ia malah diam membisu. Lagi lagi kutatap matanya dalam dalam sambil berdesis, �Tolong sahabatku. Kupinta Anda memaafkan aku untuk kali ini saja.� �Nggak apa apa, kok. Aku nggak memarahimu, �ujarnya dengan suara serak.
Serasa penyesalanku tak terjawab dengan hati yang bening. Kok kering banget.. Secepat kilat kulingkarkan kedua tanganku memeluk sahabatku erat erat. �Kau marah, iya. Maaf dan sejuta maaf padamu.� Sekejap dari balik pelukan hangat itu suara sahabatku bergemuruh, �Aku nggak marah padamu, sahabatku. Nggak marah, kok. Sungguh aku tak memarahai dirimu.� Mendengar ungkapan itu kutarik napas legah dalam dalam. �Terima kasih, sahabatku,� beberku sambil melepas lilitan tanganku yang melekat erat di tubuhnya.
Perlahan lahan Kuteteskan setetes tanya pada cangkir sahabatku, �Mengapa engkau tak mau memarahi dan enggan memukuli diriku, sahabatku?� Sebuah jawab mengalir pelan, �Tidak. Aku tidak sanggup melakukan perintah itu.� Mengapa? �Sebab. aku takut kalau nantinya engkau tak mau memberi apa apa lagi kepadaku,� desinya sambil berlalu pergi menghilang seperti angin lalu. �Tunggu.. � Aku berteriak sambil menahannya tapi sahabatku sekan akan tuli, tak mendengarkannya. Pergi..
Astaga, suara Teriakanku itu sekejap membuat aku kaget dan terbangun dari ranjang mimpiku. Ternyata aku sedang menghayal. Begitu kubuka mataku seakan sang rembulan menyapa diriku dengan senyumnya yang aduhai. Manis. Angin berhenti berdesau. Dan, seolah olah rerumputan dan pepohonan di sekitarku tersipu malu. Mengapa aku menyendiri di alam bebas hingga malam tiba? Andaikan alam ini dapat berbisik mereka akan bertanya pada diriku: �Mengapa engkau berteriak sendiri dengan kata �Tunggu.. ??�
Tunggu apalagi.. Aku pun bangkit berdiri sambil ayungkan langkah kakiku dengan gontai menuju tempat peraduanku. Aku merasa kepergian sahabatku tadi bagaikan angin topan yang telah mengugurkan daun daun pohon persahabatan yang kami tanam di taman taman hati persahabatan. Kini cabang cabang persahabatan itu berdiri telanjang tanpa berbusana �daun�. Yang telihat ranting ranting telanjang yang dibalut dengan kebohongan, kepura puraan, dan kerakusan yang menyengsarakan. Mudah tertiup angin dan menghilang saat daun daun persahabatan kering termakan oleh kerakusan. Selamat jalan sahabatku. Detak detak langkahmu adalah detak detak doaku.

Oleh Cancio “Cassimata” Ximenes

) Kupersembahkan kepada sahabat karibku BRAND�O �ER� di jantung Kota Dili

========================================
Pengirim : Cancio Cassimata Timor Leste
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone