Anda baru memiliki bayi? Ingat, pola tidur bayi akan sangat menentukan kecerdasannya kelak. Karena hati hatilah, kembangkan pola tidur yang senyaman mungkin 7 8 jam sehari. Namun, Anda juga harus menciptakan pola yang sehat, dengan mengatur tingkat rutinitasnya, terutama di usia 4 7 bulan.
Kebanyakan bayi di usia itu akan hanya tidur 9 jam per hari meski ada juga yang bisa sampai 18 jam. Beberapa bayi, akan tidur siang selama 20 menit, yang lainnya bisa beberapa jam. Tidur siang akan menghindari bayi menjadi rewel pada malam hari dan membantu menjaga kesegarannya saat terjaga.

Kebanyakan bayi pada usia ini akan tidur siang satu kali di pagi hari dan sekali lagi setelah makan siang. Jika merasa tidur siang mengganggu waktu tidur malam hari, bangunkan saat akan tidur lagi di sore hari. Sehingga ia bisa tidur lebih lama di malam hari. Ini akan membuat Anda terhindar dari kerewelannya. Berikut beberapa tips gampang membuai bayi Anda.
Pertama, sebaiknya bayi ditidurkan dalam posisi terlentang, karena ia bisa mencari posisi tidur sendiri nantinya.

The American Academy of Pediatrics menyarankan agar bayi ditempatkan terlentang saat tidur, untuk menghindari sudden infant death syndrome, atau kesulitan bernapas. Kecelakaan ini telah menurun 50% sejak rekomendasi diberikan pada 1992. Bayi yang tidur tengkurap akan menghirup kembali karbondioksida karena mereka jarang berganti posisi kepala. Pengecualian lain seperti bentuk kepala yang bisa menghalangi masuknya udara jika tidur tengkurap.

Kedua, sediakan bantal dan hindari dari kebanyakan bantal atau boneka yang bisa menutupinya saat tidur. Periksa juga tali atau pita pada mainan dan boneka yang bisa menyakitinya. Singkirkan mainan keras dari plastik atau kayu di atas tempat tidurnya.

Ketiga, bantuan lain seperti mandi air hangat bisa membantu tidur malam. Menyanyikan lagu, atau membuainya akan mempercepatnya tidur. Jika ia menangis, biarkan sejenak. Ia bisa berhenti dan terus tertidur. Jika tetap menangis, angkatlah beberapa saat.

Nah, tak sulit kan? Segampang menghadirkannya di dunia ini. (lpc/CN02)

Minggu minggu menunggu bayi

Ada “penderitaan” para ibu hamil saat memasuki minggu ke 32, ketika tubuh cepat sekali lelah, badan mulai pegal pegal, yang membuat Anda malas melakukan apa pun, dan bawaannya tidur terus. Padahal, di minggu minggu itu, Anda seharusnya mulai “bekerja” berat untuk mempersiapkan kelahiran bayi dengan nyaman. Kenyamanan melahirkan bukan saja bersangkut dengan diri Anda pribadi, tapi juga dengan mereka yang akan Anda “tinggalkan” untuk sementara. Karena itu, sebelum memasuki hari H yang penuh ketegangan itu, ikutilah beberapa tips berikut.
Sebulan sebelumnya,

Anda mungkin akan sibuk membersihkan rumah. Tapi, lihatlah kondiri tubuh Anda, ingat jangan sampai kelelahan yang berakibat kemungkinan bayi Anda tertekan dan lahir sebelum waktunya. Lebih baik, urusan rumah ini Anda serahkan pada pembantu, atau suami atau anak anak, atau mertua. Stamina Anda harus maksimal selama masa menunggu itu, demikian juga ketenangan batin.

Yang dapat Anda lakukan adalah berbelanja ke mal, melengkapi kebutuhan rumah untuk hal hal yang vital, misalnya belanjaan untuk keluarga. Susu, kopi, teh dan gula, atau mie instan, belilah dalam jumlah banyak, yang akan “memasok” kebutuhan keluarga saat Anda tak di rumah nantinya. Tapi, siapkan juga kebutuhan bayi Anda, jangan sampai lupa, ya?

3 Minggu sebelumnya,

Ini masa yang cukup krusial, karena bisa saja bayi lahir secara tiba tiba, karena masa sembilan bulan itu sudah dekat sekali. Karena itu, segeralah siapkan kebutuhan Anda dan bayi dalam dua tas terpisah. Pakaian bayi, bedak, popok, minyak angin, handuk lembut, dalam satu tas, dan daster kancing depan untuk Anda, handuk, sabun, sikat gigi, pasta, bedak, dan parfum dalam tas lainnya. Ingat, tata kedua tas ini di atas meja kamar Anda atau dalam lemari pakaian Anda, biar gampang mengambilnya, dan untuk tak lupa. Posisi yang tepat akan membuat Anda gampang ingat saat si bayi sudah menendang perut Anda.

2 Minggu lagi,

Ini saat untuk memanjakan diri, pergilah ke spa atau salon, potong kuku, manikur dan pedikur, creambath, potong rambut, facial, lulur, atau pijat ringan. Ingat, masa melahirkan tinggal amat dekat, dan tubuh Anda harus terawat memasuki hari tersebut. Memanjakan diri di spa juga akan membuat tubuh lebih rileks menghadapi hari H itu.

Seminggu lagi,

Siapkan daftar lengkap kebutuhan keluarga yang biasa Anda tangani dalam catatan kecil. Misalnya kapan anak Anda membayar SPP, membayar rekening listrik dan air, uang arisan, gaji pembantu, yang akan sangat berfungsi ketika Anda meninggalkan rumah dan “berjuang” melahirkan, juga masa menunggu pulih di rumah sakit. Jangan sampai hal “kecil” ini Anda lupakan, karena akan sangat membantu suami dan pembantu serta anak Anda.

Nah, dengan begitu, tak ada lagi hal yang Anda sia siakan ketika masa menunggu si mungil, semuanya terperhatikan.

Memahami bahasa sang bayi

Banyak kaum ibu yang mengeluhkan sulitnya mengetahui apa yang diinginkan bayinya. Ini karena bayi memang belum memiliki kemampuan berkomunikasi untuk menyampaikan keinginannya. Tapi, dengan memahami perasaan Anda, tak sulit untuk mengerti apa sebenarnya yang diinginkan bayi Anda.

Anda tentu sudah membaca banyak buku atau bertanya dengan banyak orang tentang kiat kiat mengurus anak. Anda juga tak mengabaikan naluri Anda sebagai orang tua, karena Andalah yang menimang, memandikan, menggantikan popok, dan sebagainya. Menurut Gwen Wurm, seorang ahli kesehatan anak dari University of Miami School of Medicine, Amerika Serikat, orang tua umumnya mengetahui kebutuhan anak anaknya.
Namun ada kalanya tingkah laku si kecil tak bisa Anda baca dan pahami. Tentu itu membuat Anda khawatir dan kalang kabut. Untuk gampangnya, ikutilah tips ini.

Pertama, ikuti perasaannya.

Perasaan merupakan bahasa pertama bayi. Jadi sebelum ia bisa berbicara, ia berbicara dengan cara mengungkapkan perasaannya: menangis saat ia tak nyaman dan lapar, tersenyum saat perutnya kencang, dan terkekeh kekeh ketika ia bahagia. Bayi juga mengembangkan harapan pada lingkungan berdasarkan tanggapan ibu terhadap perasaannya. Menurut Jay Belsky, dosen psikologi perkembangan di Universitas Pennyslvania, Amerika bila orang yang mengasuhnya hangat dan empatik, bayi akan percaya bahwa dunia ini aman.
Daniel Stren yang menulis Diary of Baby,
berpendapat bahwa ibu tak hanya memahami emosi bayi, tapi juga mengimbanginya dengan cara cara baru yang diciptakan secara spontan. Misalnya, bila bayi senang memainkan Loncengnya, ibu bisa mengayunkan anak layaknya lonceng yang bergoyang sambil tertawa.

Meski penyesuaian ini muncul secara intuitif, tapi makin orang tua mengenal jenis jenis isyarat emosi bayi, makin baik pula kemampuannya memahami si kecil.

Kedua, pahami tangisannya

Menangis adalah reaksi satu satunya cara bayi untuk berkomunikasi. Misalnya memberitahu bahwa ia lapar, terganggu, sakit, kotor, atau lelah. Setiap maksud itu biasanya punya tangis yang berbeda pula. Anda mungkin butuh waktu untuk mengenalinya.

Lalu bagaimana mengindikasikan tangis bayi sebagai suatu masalah? “Tangisan tersebut akan terdengar berbeda dari biasanya. Lebih nyaring atau melengking, terus menerus, dan sulit dihentikan,” ujar Gwen Wurm, MD, MPH, ahli kesehatan anak dari University of Miami School of Medicine, Amerika Serikat.

Tapi kalau Anda tidak mengalami kesulitan dalam menenangkan kembali si kecil, artinya tangisan bayi bukan merupakan masalah serius.

Cara paling mendasar yang dapat dilakukan orang tua dalam menanggapi perasaan bayi adalah dengan berempati. Yaitu memahami apa yang dirasakan bayi, kemudian menangganinya secara tepat. Misalnya, saat Anda mendengar tangisnya; apakah ia menangis karena minta makan, digendong, celananya basah, atau hanya ingin bermain.

Ketiga, tenangkan dengan timang.

Perilaku dan suasana hati si kecil sedikit banyak dipengaruhi oleh gerak. Suasana hati yang tak terkendali sering dialami oleh si kecil. Mereka akan memukul mukul anggota tubuhnya, memasang muka kencang, dan menangis tanpa henti. Menimang nimang adalah salah satu cara untuk menenangkan si kecil. Aktivitas itu akan membantu menyeimbangkan sistem syarafnya.

Pada dasarnya bayi senang bergerak atau digerakkan. Maka ia akan segera menghentikan tangisannya begitu Anda menimangnya. “Biasanya bayi lebih tenang setelah ditimang timang ketimbang cara menenangkan lainnya,” kata Lise Elliot, PhD, dalam Whats Going on in There: How The Brain and Mind Develop in the First Five Years of Life. Aktivitas itu, imbuh dia, juga mampu meningkatkan perkembangan motorik, perilaku, dan kemampuan si kecil untuk belajar. (CN02)
Anda sudah mengikuti tips kami bagaimana memahami bahasa tubuh sang bayi, dan sudah sampai tahap menimang sayang untuk memenangkan dan menyalurkan kasih sang Anda? Kini Anda harus siap untuk menangkap isyaratnya, dan berdialog dengan dia, tanpa harus berbahasa. Inilah tahap berikutnya.

keempat, pahami isyaratnya.

Bayi selalu memperlihat emosi yang tinggi ketika ia mencoba berkomunikasi dengan orang tuanya. Misalnya, ketika ibu masuk ke kamar untuk membereskan cucian, perlahan bayi Anda mendekati, merangkak, dan berusaha menarik perhatian. Menurut Tiffani, PhD, dosen psikologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Miami, Amerika, mula mula bayi akan memandang ibunya untuk memperoleh perhatian. Kemudian ia mulai mengoceh. Kalau dengan cara itu ia tak berhasil menghentikan kegiatan ibunya, ia akan menangis sampai mendapat tanggapan.

Tiffani menambahkan, bayi lebih suka rewel dan merajuk bila kurang perhatian. Tanda tanda bahwa bayi mulai bosan menarik perhatian adalah: membungkukkan punggung, mengembangkan cuping hidung, menyeringai atau bisa saja tiba tiba tertidur.

Kelima, coba berdialog.

Tentu, dialog ini tidak dengan bahasa, tapi mencoba “berbicara” lewat kontak mata, kontak tubuh, membelai atau menyentuh, tersenyum dan memujinya, meski ia belum mengerti. Percayalah, hal itu membuatnya mau berbagi cinta dan menjalani hidup dengan baik.

Jalinlah perasaan psikologis antara orang tua dan sang bayi. Dengan begitu kontak batin menjadi lebih dekat, dan naluri Anda menjadi amat peka. Salah satu cara mendekatkan diri dengan anak adalah kebersamaan saat menyusui. Ketika ibu menyusui bayinya, ayah pun dapat terlibat dengan mengelus dan berbicara pada si kecil.

Pada mulanya anak lekat pada ibunya, kemudian pada ayah dan saudara saudara kandungnya. Ini merupakan hal biasa. Demikian pula jika bayi merengek ke gendongan orang lain, kemudian tenang di gendongan ibunya. Sebetulnya ia bereaksi secara sehat, dan bukan bayi bermasalah. Namun bila bayi mendapatkan kesempatan untuk secara teratur mengenali dan menyesuaikan diri dengan orang lain, maka ia juga akan mampu merasa aman dalam gendongan orang lain. Dan lambat laun ia akan bersikap ramah kepada orang orang selain anggota keluarganya.

Ketujuh, redam emosinya.

Marah merupakan emosi yang mendominasi perkembangan anak usia satu tahun. Eskpresi emosi yang ini mulai tampak jelas pada usia ini. Hal ini karena di satu sisi si kecil sudah mulai memiliki banyak keinginan, sementara di sisi lain ia belum mampu mengekpresikan keinginannya tersebut dengan baik.

Nah, Anda harus memanfaatkan aspek emosi yang lain, yakni kasih sayang. Sejak lahir secara naluriah si kecil sudah ingin membina keterikatan dengan orang yang merawatnya. Dan setelah memasuki bulan bulan terakhir usia pertamanya, hubungan Anda dengan si kecil jadi penuh afeksi, yakni kehangatan perasaan, rasa persahabatan, dan simpati yang ditujukan pada orang lain. Ia selalu ingin duduk di pangkuan Anda, bermain bersama, dan dengan gembira menarik narik tangan Anda. Perilaku si kecil ini menunjukkan bahwa ia masih membutuhkan rasa aman, yang bisa diperolehnya dari Anda.

Nah, jika ketujuh hal di atas Anda lakukan, percayalah, jika bayi Anda menangis, itu hanya tangis kemanjaan saja, karena dia tahu, Anda telah memahami bahasa jiwanya.

Ketika bayi merasakan sakit

Dulu, bayi dianggap oleh para dokter tak pernah merasakan sakit. Tapi kini, mereka mulai meyani, begitu lahir pun, bayi sudah merasakan sakit. Dan para ibu, anjur mereka, harus mulai siap untuk memberikan obat penawarnya. Tapi, bagaimana tanda bahwa mereka kesakitan?

Pakar dari Childrens Hospital of New York Dr. William Schecter mengungkapkan, beberapa tahun lalu anak anak, khususnya bayi, tak dianggap memiliki rasa sakit. Sekarang diketahui, rasa sakit itu telah dirasakan sejak usia dini, oleh bayi sekalipun. Mereka juga perlu obat penawar, kata dokter yang melakukan penelitian tentang rasa sakit ini pada bayi pengidap kanker.

Masalahnya, Schecter mengungkapkan, mengetahui apakah anak merasakan sakit tak gampang, bahkan ini bagian tersulit. “Kita tidak dapat menanyai anak berusia satu setengah atau dua tahun yang belum bisa berkomunikasi untuk menceritakan bagaimana sakit yang dirasakannya,” Dr. Schecter mengungkapkan.

Oleh karena itu, Schecter mengungkapkan, dia sedang mengembangkan petunjuk untuk mengukur rasa sakit yang dirasakan anak. Petunjuk itu berdasarkan skala wajah, bagaimana seorang anak menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan apa yang ia rasakan. Jadi, umpamanya, jika dia meringis, itu pertanda dia sakit.

Menandai wajah ini termasuk sulit, jika ibu meneyrahkan bayi pada asuhan pembantu. Karena itu, sebagai ibu, dekatlah Anda dengan sang bayi, dan selalulah perhatikan ekspresi wajahnya. Karena, jika ada seekor semut pun yang menggigitnya, ia tak bisa mengaduh, hanya wajahnya yang dapat menunjukkan itu. Waspadalah

========================================
Pengirim : Dani Ramdani
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone