OMBAK itu terus saja membenturkan dirinya pada kokoh karang di tepi pantai. Entah apa yang diinginkannya? Mungkinkah ia ingin menggetarkan karang itu? Ataukah ia ingin meluluhlantakan karang itu? Mustahil. Pernah ku dengar kabar dari camar bahwa ombak itu mencintai karang, bahkan ia terlalu cinta. Tak pernah lelah ia berlari dari tengah samudera untuk menggapai pantai. Tapi rupanya karang itu telalu kuat untuk sebuah ombak seperti dirinya. Terkadang ombak itu datang bagaikan raksasa lapar yang siap menerkam mangsanya, kadang pula ia datang hanya dengan riak kecil yang tampak malu menyentuh curam angkuh sang karang.

Tak ada salah dalam cinta. Setiap insan berhak untuk itu, begitu juga dengan ombak. Ia bebas mencintai siapa saja termasuk juga karang. Tapi sayang, untung enggan padanya. Malang nasib ombak. Itulah cinta, ia begitu misteri. Ia buta. Ia tak melihat siapa dan pada siapa. Jadilah ia budak dari cinta. Ombak adalah budak cinta sang karang. Karena kebutaan cintanya ia rela melakukan apa saja demi sang karang. Padahal karang hanya menjadikan deburnya pecah tak bermakna.

Apakah takdir yang menjadikan karang begitu kokoh? Apa kelebihan karang yang kasar, keras, dan tajam? Bukankah ia hanya akan mencelakakan orang bila tak berhati hati? Tapi kau juga harus ingat kawan, karang itu indah. Keunikannya justru ada pada kasar, keras dan tajamnya. Bentukan alam yang dengan kokoh menancapkannya pada tepian pantai memberikan rupa yang tak terlukiskan. Ketegarannya menantang badai menjadi inspirasi bagi manusia.

“Byaaarrrrr, byaaarrrr ” kembali debur ombak yang pecah itu mengirimkan jerit pilunya ketelingaku. Dari sebuah lereng pebukitan terus saja kuperhatikan ombak yang berkejaran seakan berlomba meraih karang, sebelum akhirnya lebur menyisakan buih putih merana. Kalau saja kau mendengar dengan perasaanmu kawan. Suara gemuruh yang selama ini sering kau dengar, tak lebih dari sebuah tangisan jiwa, atau gemericik riak kecilnya adalah desah kekecewaannya selama ini. Kegagalannya menaklukkan hati karang. Memang tampak garang ketika ombak memukul karang, tapi itu sia sia. Ego karang terlalu kuat untuknya.
Karang memang tak tahu diri. Ia lupa bahwa ombak telah menyelematkannya dari gersang kehidupan. Ketika bara matahari memanggang punggungnya, ombaklah yang datang membasuhkan air kesejukkan. Tapi aku yakin, sebenarnya karangpun tahu tentang itu. Ia tahu bahwa ada cinta pada setiap riaknya. Apakah ia malu pada wujud ombak? Mengapa harus malu? Mengapa enggan tuk mengatakan pada samudera, pada pantai, pada camar, pada nelayan, pada senja, dan pada semua isi alam bahwa ia juga membutuhkan sang ombak. Mengapa takut menunjukkan pada dunia?
“Sudahlah kawan, lupakan karang itu. Pulanglah kawan, disana ada hamparan pasir putih yang akan menyambutmu dengan cinta.” Kataku suatu waktu. Iba aku melihatnya, di tengah malam buta ketika seluruh alam terbuai dalam timangan mimpi tapi ia terus saja berkorban menunaikan tugasnya menyapa karang dengan cinta. Ia coba berbesar hati ketika nyiur melambaikan tangan memanggilnya dari pantai, atau pada senja yang menitipkan semburat kemerahannya.
“Aku begitu cinta kawan.” Jawabnya lirih.
“Kau jangan bodoh. Ini sia sia. Kau akan rugi.”
“Tak ada untung rugi dalam cinta kawan. Aku ingin ia sadar akan ketulusanku. Aku yakin waktu akan membantuku.”
“Tapi sampai kapan, sampai kau tak punya lagi sesuatu untuk dikorbankan?” Diam. Hening, mungkin ia berpikir. Tapi sesaat kemudian.
“Byaaarrrrr, byaaarrrr.” Kututup telingaku. Pergi menjauh darinya. Pulang.

Lewat tengah malam, hujan baru saja membasuh malam dan sisa rintiknya yang terbawa angin. Sesekali membentur kaca jendela kamarku. Tubuh malam menggigil dalam balutan angin sepoi basah. Angin dingin menyeruak masuk, menyelinap bebas melalui jendela kamar yang sengaja kubuka. Sedikitpun hawa dinginnya tak mengusik pori pori kulitku. Aku malah berharap hawa itu semakin bertambah agar dapat menyejukkan bara gundah hatiku. Malam seperti ini memang terkadang sangat menyiksa. Ketika insan lain terbuai dalam mimpi, aku tergugah gundah yang dalam.
Kubenturkan pandanganku pada langit langit kamar. Kucoba melukiskan wajahmu dengan rinduku. Ku mulai menorehkan kuas ingatanku untuk membuat indah matamu, mancung hidungmu, tipis bibirmu yang selalu menghadiahiku senyuman teramat manis, atau helai hitam rambutmu yang acuh berjuntai di pipi. Temaram lampu kamar semakin mempertegas kulit hitam manismu. Aku tersenyum puas ketika kau telah terlukis dengan sempurna. Tapi tiba tiba.
“Byaaarrrrr, byaaarrr.” Suara debur itu menggetakan seluruh ruangan. Meretakkan bayangmu. Jatuh berkeping di lantai. Suara itu terus mengikuti telingaku. Betapa aku jadi teringat nasib malang ombak itu, yang tak lain adalah nasibku.
Ratusan malam telah aku lewati dengan berjuta tanya dan ragu. Entah mengapa malam ini aku merasa sangat tersiksa? Beberapa malam lagi adalah malam yang pernah sangat membahagiakan bagi aku dan dia. Di sudut utara, dalam dinginnya malam kami menyatukan hati, menggantungkan harapan dalam cinta.
Sayang semua itu pupus dalam nyata. Benar kata orang bahwa kenyataan lebih menyakitkan dari pengharapan. Aku punya harapan cinta itu indah. Cinta itu bisa membuat hidup lebih bermakna. Cinta itu bagaikan warna yang menjadikan polos kanvas lebih berharga. Tapi siapa nyana malah duka yang kurasa. Keindahan apa yang dapat aku nikmati dalam ragu.
Aku sering berpikir, apa salahku? Apa salah moyangku sehingga cinta tak sudi berpihak padaku. Sebenarnya gunung tanya itu telah ada sejak pertama istana cinta itu kami bangun. Agak sulit logikaku menerima kata katanya saat itu.
“Aku ingin hanya kita berdua tahu, tak ada orang lain.” Saat itu memang aku tak mempermasalahkannya. Aku mencoba berpikir jernih, mungkin saja ia belum siap mental dan itu perlu waktu. Hanya karena cinta yang dalam dan tulus aku selalu berusaha untuk mengikuti keinginannya dan selalu mencoba untuk membahagiakannya. Termasuk keinginannya untuk menutupi hubungan kami. Aku berpikir jika ia bahagia dalam rahasia, mengapa tidak?
Seiring guliran waktu, aku merasa ada sesuatu yang lain. Aku mulai merasa tersiksa dengan caranya. Aku iri dengan kemesraan orang orang. Aku iri dengan orang orang yang mampu menunjukan pada dunia tentang cinta mereka. Akupun ingin berbagi kisah nikmat kebersamaan yang sering di bisikkan angin kepada setiap telinga. Tapi itu semua hanya tinggal mimpi. Itu semua bagai barang langka yang tak ada di dunia. Aku begitu tersiksa kawan. Kalian tahu betapa menderitanya hidup dalam penjara cinta, penjara ketakberdayaan.
Malam semakin malam tapi kantuk entah kemana. Kubenamkan diriku dalam khayal. Andai saja kau memberikan satu kesempatan maka aku berjanji bahwa bahagia itu hanya milik kita. Andai saja karang hatimu dapat luluh oleh debur pengorbananku, tentu kapal cinta kita telah bersandar pada pantai kebahagian. Di kejauhan malam, sayup debur ombak masih terdengar. Semakin lama semakin samar. Lalu lenyap di balik malam kelam. Mungkinkah ia telah berhasil menaklukkan sang karang? Ataukah ia putus asa lalu pulang? Tapi aku, entahlah?

Jogja, 20 Januari 2005
Buat sahabatku Ombak yang mencintai Nona Kota Karang

========================================
Pengirim : Deddy S. Tamorua
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone