Bila orang orang melewati salah satu bangku di taman kota Hening, tepat di tengah taman di depan air mancur berpatung putri emas. Mereka pasti akan menghentikan langkah sebentar untuk melihat ada apa di bangku itu. Tidak ada apa apa, hanya ada seorang gadis cilik duduk disana, diantara pewarna pewarnanya yang berserekan disekelilingnya. Dengan buku gambar dipangkuannya.

Gadis itu duduk disana, hanya terus menggambar, tanpa bicara, mungkin tak bisa. Ia hanya menggambar tanpa sekalipun memedulikan sekelilingnya, tak sekalipun ia mengangkat kepalanya untuk mecari ide untuk gambarnya, atau tak sekalipun ia mengangkat kepala untuk memberi salam pada orang orang yang menggagumi gambar gambarnya, ia tak akan peduli pada kupu kupu atau burung burung yang sedang bermain main di dekat air mancur putri emas. Ia tak pernah mengangkat kepalanya, walau ada orang yang memujinya, walau ada oarang yang mengomentari gambarnya, walau ada oarng yang menyapanya, bahkan mungkin saat ada bom didepannya, tidak sebelum matahari hampir tenggelam. Ia baru akan mengangkat kepalanya dan membereskan barang barangnya dan pergi dari taman itu, menyusuri jalan raya yang hampir gelap, tak cocok bagi anak seusia dia. Begitulah ia setiap hari, ia sudah ada pagi pagi sekali, saat matahari baru mulai menampakan diri dan akan pergi saat hampir tenggelam.

Gadis itu tak penah bicara, paling tidak, tak seorang di sana penah mendengarnya berbicara. Tak seorang pun orang orang yang lewat disana, menyapanya atau mengajaknya berbicara langsung, mereka hanya mengomentari dan memuji gambar gambarnya. Gambarnya aneh, ia selalu seperti hilang dalam keasyikan sendiri saat menggambar, gambarnya seperti cerita, disekelilingnya berserakan kertas kertas yang sudah ia gambari dan dibiarkan terbang begitu saja. Bila orang tidak melihat ia menggambar, mereka mungkin mengira itu adalah foto asli, gambarnya begitu elok.

Beberapa tahun setelah ia selalu muncul tiap pagi, ia masih selalu datang tiap pagi dan pergi di saat hari hampir gelap. Masih tak ada yang mengajaknya bicara langsung juga ia masih tak pernah bicara, hanya gumaman kecil yang terdengar dari bibirnya yang mungil. Ia masih seorang gadis kecil, bahkan ketika tahun tahun berlalu dengan cepat, karena saat kita melihatnya muncul untuk pertama kali disana, dia masih berumur 3 tahun, sehingga saat beberapa tahun berlalu ia tetap seorang gadis kecil

Gambar gambarnya masih sama seperti dulu, masih terlihat seperti rentetan kejadian nyata, tiap detilnya terlihat, lubang tikus di trotoar, tetesan keringat, ulat di pohon, karat di tiang listrik, bahkan serangga kecil di rerumputan. Entah kapan kejadian itu, entah dimana terjadi. Tak ada yang tahu.

Ia masih tetap duduk dikursi yang sama di depan air mancur taman Kota Hening, seorang wanita muda berdiri di depannya dan meperhatikan dirinya, tidak seperti orang orang yang lainnya, dia memperhatikan gadis itu terlebih dahulu, bukan gambarnya, lalu dialihkan pandangannya pada gambar gambarnya.

” Kamu cantik ya…” kata wanita itu padanya, mengagetkan si gadis itu, ia tidak menyangka ada yang memujinya selain gambarnya.

”Siapa namamu?” tanya wanita itu lagi, si gadis itu masih tercengang tapi lalu tersenyum, dan menjawab
”Indah…” segnyum mungil menghiasi wajahnya dan mereka berbincang bincang, orang orang yang melihat hal itu malu, mereka sadar mereka mengira anak itu gila hanya karena mereka tidak pernah berbicara langsung padanya, mereka sering tidak acuh pada siapa pelukisnya, mereka hanya peduli pada gambarnya dan pernah beberapa orang mengambil barang itu dan menjualnya.

Mereka berbincang bincang seolah mereka telah lama saling mengenal, entah mengapa ada yang kemiripan antara mereka.

” dimana rumahmu?”
” Di suatu tempat di sudut kota.”
” Apa yang ingin kau lakukan, jikan sudah besar, apa cita citamu?’
” Tidak ada, aku hany ingin menjadi bintang di langit, untuk menerangi hari yang gelap dan mengihiasi langit agar indah. Dan aku akan menghibur anak anak malang seperti aku, dari langit.
”Orang tuamu pasti bangga denganmu, bagaimana dengan orang tuamu?
” Entahlah, mungkin tak punya.”
” Mksudanya?, mau cerita padaku?”
” Sebetuknya aku tak tahu namaku, oranbg sering menyebut ’indah, maka namaku Indah, aku tidak tahu orang tuaku, bahkan dimana aku dilahirkan. Kata orang aku turun dari langit, saat malam gelap dan saat sebuah bintang jatuh meniggalkan secercah cahaya membelah langit gelap dan saat itu juga tangisku merobek kesunyian malam.”

Setelah itu wanita muda tersebut, pergi dengan langkah gontai menuju rumah mewahnhya. Di kamarnya ia ingat saat delapan tahun yang lalu, saat ia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan, lalu ia lakukan lagi kesalahan untuk kedua kalinya. Ia ingat saat ia meningalkan bayinya di tempat sampah di pojok kota.
Saat itu langit gelap, ia ingat, tepat ia meletakan bayinya, sebuah bintang jatuh menjelma menjadi bidadari, dan tepat saat itu juga ia telah menyia nyiakan kedatangan bidadari itu.
Deangn penyesalan, ia berlari secepat kilat kembali ke taman. Sesampainya di sana, bangku itu kosong hanya ada pewarna yang berserekan dan beberapa gambar yang terbang tertiup angin. Dipungutnya gambar itu dan ia tersentak kaget, gambar itu begitu nyata. Begitu nyata seorang remaja dengan wajah ketakutan, sedang meletakkan seorang bayi yang masih merah dekat tempat sampah. Dengan latar belakan langit malam yang gelap, dibelah seleret cahaya bintang jatuh. Itulah dirinya delapan tahun yang lalu, dirinya masih begitu muda, bellum siap jadi seorang ibu.

Terlihat benyak orang dibelakang taman itu, sedang memindahkan seorang gadis ke dalam tandu, dan menutupinya dengan ain putih, para ibu meratapi nasibnya yang malang, seoarng lagi mengambil secarik kertas dari genggaman tangannya.

” Kasihan sekali dia, ia itu seperti bidadari, siapa ibunya?”
” Tega sekali ibunya, membiarkan seorang bidadari cilik kedinginan tiap malam.”
” Dia datang begitu saja, bagai turun dari langit, sekarng ia pergi begitu saja juga.’
” Hei lihat ada tulisannya untuk seseorang ”
” Cepat bacakan, kami ingin dengar ”
” Terima kasih ibu, kau telah melahirkan aku ke dunia ini, walau kau sudah membuangku, tapi aku bersyukur karena kau pernah mengantar aku ke dunia, walau waktuku begitu singkat. Tugasku yang terakhir sudah selesai, yaitu memastikan kau baik baik saja,sekarng aku bisa mewujudkan cita citaku untuk menjadi bintang di langit. Aku akan kembali saat waktunya tepat. Anakmu Indah.

dia sudah tahu ibunnya, tapi dia tidak marah. Malah bersyukur dan berterima kasih, walau nasibnya malang sekali.’ Semua orang terdiam, berkaca pada diri mereka sendiri.
Saat itu hari sudah gelap, ia memandang ke angkasa, disana terlihat sebuah bintang yang paling terang, sedang tersenyum padanya, itu Indah sednag mewujudkan cita citanya untuk menjadi bintang di langit. Bayi yang pernah ia buang.

Beberapa tahun setelah itu, di malam hari yang gelap, seleret cahaya membelah malam, dan suara tangis bayi memecah kesunyian. Seorang bayi dalam pelukan ibunya, ibu yang sudah dewasa, siap menjadi ibu baginya, dengan orang tua yang lengkap. Disambut dengan kasih sayang, dan tanpa penolakan. Seorang bidadari kembali lagi, turun dari langit, berupa seleret cahaya keemasan, bidadari yang tak lagi disia siakan.

29 10 2004.

========================================
Pengirim : Ivy Londa ( Glade)
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone