AKU dulu pernah sangat bangga menjadi manusia yang hidup di negeri ini. Negeri yang memiliki beragam budaya dan nilai luhur. Negeri yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Negeri yang terkenal religius. Tapi itu dulu, ketika aku masih kecil. Ketika aku masih dikampungku.
Aku teringat masa kecilku yang bahagia. Aku teringat hamparan sawah yang luas bak permadani hijau. Aku teringat luasnya laut biru. Aku teringat gemericik air sungai. Aku teringat suara kicauan burung, semilir angin yang bertiup membelai manja rambutku. Aku pernah berpikir betapa indahnya negeriku. Betapa kayanya negeriku. Betapa orang orang tidak perlu bersusah payah hanya untuk sekedar makan. Alam memberikan begitu banyak kenikmatan. Tapi itu dulu, ketika aku masih kecil.
Aku juga mendengar dari guruku, kisah kisah heroik tentang orang orang besar negeriku. Tentang bagaimana pilar pilar bangsa ini di bangun dengan semangat kegotong royongan. Semua rakyat bersatu menyingsingkan lengan baju, membangun bangsanya. Tapi itu dulu, ketika aku masih kecil.
Aku juga sering melihat bagaimana kakak perempuanku bersama teman temannya pulang mengaji. Aku juga melihat bagaimana mereka menangis karena malu ketika jilbab mereka tersingkap oleh tiupan angina nakal. Aku pernah melihat bagaimana kakak laki lakiku yang terbatuk, ketika pertama kali meminum Sprite. Rasanya menggigit tenggorokan katanya. Dan yang paling seru ketika ayahku menghajar kekasih kakak perempuanku, ketika mereka ketahuan pacaran di belakang rumah. Tapi itu dulu, ketika aku masih kecil.

Kini aku sudah besar, aku bukan anak kecil lagi. Aku kini sudah mahasiswa. Dan aku kuliah di kota. Kota yang berpendidikan. Kota yang berbudaya tentu saja. Ya, karena bangsaku adalah bangsa yang berbudaya. Aku semakin bangga dengan bangsaku. Bangsaku kini telah maju. Bangsaku telah keluar dari kubangan tradisonal, dan menaiki tangga medernisasi. Dan aku semakin bangga, karena aku dapat menikmatinya.
Aku kini sudah besar. Aku bukan anak kecil lagi. Semuanya berganti. Aku tinggal di kota. Sudah sewajarnya aku berubah mengikuti arus zamanku. Tapi terkadang aku jenuh juga. Aku rindu dengan suasana dulu, ketika aku masih kecil. Aku rindu dengan rindangnya pepohonan yang kini telah berganti menjadi rimba beton. Aku rindu dengan lenguhan sapi dan ringkikan kuda penarik pedati yang kini terganti oleh raungan mesin yang mengepulkan asap hitam untuk di hirup oleh hidungku. Aku rindu semua itu.

Aku berjalan menembus malam yang mulai dihiasi oleh lampu kota. Ramai pejalan kaki melintas. Aku duduk di sebuah bangku taman. Kucoba mencari sesuatu yang pernah akrab kulihat. Wanita berjilbab sambil memeluk kitab suci. Kemana mereka? Mengapa tergantikan oleh wanita dengan rok mini, ber tanktop ketat, sehingga tonjolan didadanya tampak busung menantang. Mengapa mereka hanya menenteng ponsel dan kaset VCD. Mereka tak takut pada angin, dan angin pun tak perlu repot lagi untuk menganggu mereka. Angin pun dengan sendirinya malu menggoda. Mungkin ia berpikir tak ada lagi yang perlu disingkap, semuanya telah tersingkap dengan sendirinya. Aku rindu semua itu.
Kupalingkan pandaganku kearah lain. Tampak sepasang remaja dengan asyiknya berpelukan memasuki sebuah hotel. Aku jadi teringat ayahku yang menghajar kekasih kakakku, padahal mereka hanya ngobrol di belakang rumah. Tapi sekarang, selarut ini, gadis itu masih bersama kekasihnya, memasuki hotel pula. Ah, mengapa tiba tiba aku ingin melihat seorang ayah yang memukul kekasih anak gadisnya. Ya, aku rindu semua itu.
Kubeli sebuah surat kabar sore untuk menemaniku malam ini. Aku muak melihat sekelilingku. Itu hanya memancing nostalgia masa kecilku. Kubaca halaman demi halaman, tak ada yang menarik. Semuanya berita mengerikan. Seorang ayah yang memperkosa anaknya. Pembantu yang dianiaya majikannya. Pejabat yang mencuri uang rakyat. Politikus berebut kekuasaan. Ah, kubuang Koran yang baru saja kubeli kedalam tong sampah disebelahku. Aku menyesal hidup di zaman ini. Aku menyesal karena tidak dapat menemukan hangatnya kebersamaan dan semangat gotong royong yang pernah diceritakan oleh guruku ketika SD dulu. Aku menyesal. Aku rindu semua itu.

Aku bangkit, lalu berjalan memasuki sebuah kedai minuman. Aku duduk di salah satu meja menghadap keluar. Agar bisa dengan mudah melihat semuanya dari sini. Seorang waitress cantik mendekatiku.
“Mau pesan apa Mas?” tanyanya ramah sambil menyodorkanku buku menu.
“Red Wine satu,” Kukeluarkan sebungkus rokok dari sakuku. Lalu menghisapnya dalam dalam. Entah mengapa bayangan masa kecilku begitu mengganggu malam ini. Pesananku datang. Waitress tadi menuangkan untukku. Sebelum ia berlalu terlebih dahulu ia mempersilahkanku dengan ramah. Tapi mengapa keramahan itu justru ada ditempat seperti ini? Tampak beberapa wanita tengah meliuk liukan tubuh seksinya mengikuti alunan musik yang mengiringinya. Beberapa lainnya tengah asyik menegak minuman beralkohol. Aku tersenyum geli ketika mengingat kakak laki lakiku yang terbatuk saat minum Sprite dulu. Kontras memang dengan wanita wanita itu, bagaikan meminum air putih saja.
Satu botol telah kuhabiskan. Kepalaku mulai terasa berat. Seorang wanita seksi datang mendekatiku. Dengan manja ia bergelanyut dipundakku. Aku diam saja. Tak berusaha menepisnya. Bahkan aku merasa nikmat ketika ada benda lunak yang menempel di punggungku.
“Pesan minuman lagi ya Mas,” pintanya manja. Aku hanya mengiyakannya. Minuman datang. Kami pun lalu minum berdua. Aku mencoba berpikir sedikit realistik. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tak mau terjebak pada indahnya nostalgia masa lalu yang tak akan pernah kembali lagi. Ini adalah masaku. Ini adalah keindahan, sama seperti dulu. Hanya mungkin berbeda ruang dan waktu saja. Keindahan tetaplah keindahan. Keindahan tidak cukup hanya dikenang. Keindahan harus di nikmati. Maka aku tak menolak ketika wanita tadi memesan botol yang ketiga. Ini adalah keindahanku malam ini.
Malam semakin larut. Tak terasa lima botol telah kosong di atas meja. Kepalaku semakin berat. Aku tak tahu lagi, apakah aku masih bisa bangga sebagai generasi muda bangsa ini? Apa yang bisa diharapkan dari orang orang seperti kami? Bagaimana mungkin kami bisa membebaskan bangsa ini dari krisis? Jika aku, dan orang orang yang mabuk di tempat ini tidak bisa membebaskan diri kami sendiri dari krisis kesadaran. Aku semakin bingung. Aku sudah besar sekarang. Kebanggaan itu milik masa kecilku.
Wanita seksi ini semakin erat memelukku. Akupun semakin menikmatinya. Ia membisikkan sesuatu ketelingaku. Tak jelas apa yang dikatakannya. Aku hanya mengiyakannya. Lalu ia bangkit mengajakku pergi. Entah kemana? Oh, langkah kami menuju ke hotel tempat dimana aku melihat sepasang remaja tadi. Aku sudah tak perduli lagi dengan masa laluku. Aku akan menyusul remaja tadi. Apakah aku salah menikmati zamanku? Aku sekarang sudah besar. Itu dulu, ketika aku masih kecil.

Jogja menjelang sahur awal puasa, 15 Oktober 2004

Deddy S. Tamorua

========================================
Pengirim : Deddy S. Tamorua
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone