SEJAK dua tahun lalu ia memikirkan tentang demonstrasi. Tepatnya ketika ia masih berpakaian putih abu abu. Ia tidak pernah absen mengikuti berita tentang demonstrasi di televisi. Entah mengapa ia merasa sangat bangga melihat seseorang yang berdiri di antara kerumunan massa sambil memegang alat pengeras suara, melakukan orasi. Ia berjanji dalam dirinya, kelak ia akan berada di antara orang orang itu.
Keinginannya itu mungkin didasarkan karena keinginannya untuk membela kebenaran dan keadilan. Selama ini ia hanya mendengar kabar bahwa demonstrasi dilakukan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Benarkah demikian, entah lah?.
Selama itu pula, ia menganggap demonstrasi adalah satu satunya alat yang paling ampuh untuk berjuang. Ia melihat bahwa mahasiswa selalu berhasil mengulinggkan rezim manapun hanya dengan satu tindakan, DEMONSTRASI. Wajar saja jika ia berpikir begitu. Menganggap demonstrasi adalah dewa penolong. Padahal ia mungkin tidak tahu bahwa demonstrasi dilakukan karena ketidakmampuan kelompok yang lemah melakukan perundingan untuk mencapai kata sefakat dengan kelompok yang kuat. Atau kalau boleh menggunakan istilah lain, demonstrasi adalah pertarungan antara kelompok anti dan pro status quo.
Musyawarah yang selama ini dianggap cara paling santun, ternyata tidak mampu menyelesaikan setiap persoalan. Impian indah musyawarah untuk mencapai mufakat yang selalu diajarkan sejak kecil tidak pernah terwujud. Itu semua karena nilai nilai mulia dalam musyawarah tidak mampu melawan yang namanya kekuasaan. Akhirnya musyawarah selalu dinodai oleh aksi demonstrasi yang terkadang anarkis. Bahkan yang paling menyedikan adalah tempat musyawarah di negeri ini pun, tidak luput menjadi sasaran aksi demonstrasi.

Kini setelah ia menjadi mahasiswa. Keinginan itu masih tetap kuat bahkan sekarang semakin bertambah. Menurutnya dengan menjadi seorang mahasiswa, harapannya untuk menjadi seorang demonstran terbuka lebar. Untuk itu sengaja ia memilih perguruan tinggi yang selama ini memiliki intensitas demonstrasi yang tinggi. Dan tak tanggung tanggung ia pun mengambil jurusan politik. Biar lebih matching, alasannya.
Anjuran orang tuanya pun tidak digubrisnya yang menginginkannya menjadi seorang dokter. Entah apa yang ingin dicarinya.
“Memangnya kamu besok mau jadi apa?” Tanya ayahnya pada suatu malam
“Apa kamu ingin menjadi politikus,”
“Politikus sudah tidak dipercaya lagi di negeri ini,”
“Untuk mengubah yang tidak dipercaya menjadi dipercaya,” jawabnya mantap.
“Pokoknya ayah tidak setuju semua itu,”
“Apalagi ide gilamu ingin demonstrasi,” lanjut ayahnya dengan nada tinggi
“Apa kamu mau mati seperti binatang yang ditembak pemburu”. Rupanya ayahnya sangat mengkhawatirkan anak semata wayangnya. Ia tidak ingin kejadian buruk yang menimpa para mahasiswa yang harus kehilangan nyawa saat berdemonstrasi, terjadi pada anaknya. Sebuah kekawatiran yang seharusnya dipikirkan oleh setiap ayah.
Ayahnya tak habis pikir, setan apa yang merasuki pikiran anaknya. Tapi melihat semangat yang sedemikian rupa pada diri anaknya. Ia terpaksa mengalah dan mencoba berpikir lebih arif. Mungkin bukan setan, tetapi mungkin seorang malaikat yang menuntunnya untuk menjadi penyelamat dan memberikan perubahan pada bangsa ini. Atau mungkin darah mudanya yang tengah bergejolak. Darah yang bersih. Darah yang belum terkontaminasi oleh bakteri kepentingan. Hati yang bersih. Hati yang belum dikotori oleh kerakusan kekuasaan.
“Tapi ayah juga harus mengormati pilihanku,” ujarnya berargumen.
“OK, ayah akan memberimu kesempatan. Tapi ingat ini adalah pilihanmu. Baik dan buruk, kau yang akan menanggungnya.”

Di awal awal perkuliahan semuanya berjalan lancar. Ia sekarang menjadi salah satu anggota kelompok yang dianggap paling radikal dan menjadi target petugas. Konon ajaran kelompoknya dianggap dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Benarkah demikian? Atau bukannya mengancam bangsa, tetapi justru mengancam posisi penguasa bangsa. Situasi saat ini memang banyak para penentu kebijakan yang mengatasnamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Tetapi kenyataan yang dilakukan jauh dari apa yang digembar gmborkan.
Kemarin mereka melakukan demonstrasi untuk menuntut hak hak kaum buruh. Menurut mereka kebijakan selama ini tidak berpihak kepada kepentingan buruh. Tetapi hanya menggemukkan para pemilik modal. Dan lagi lagi mereka harus berhadapan dengan kaum bersenjata negeri ini. Mereka tak henti hentinya menggoda kaum bersenjata itu tanpa rasa takut sedikit pun.
Sepertinya pemandangan aksi dorong mendorong antara kelompok mahasiswa dengan kaum bersenjata adalah hal yang biasa. Setiap hari dapat kita saksikan dengan jelas dilayar TV. Bahkan kampus pun tak luput dari tindakan arogan kaum bersenjata. Apakah memang kaum bersenjata ditakdirkan untuk perang?. Kalau memang iya, mengapa harus berperang dengan bangsa sendiri. Mengapa kelompok intelektual selalu disambut dengan pentungan dan moncong senjata. Apakah sedemikian mahal harga sebuah kebenaran dan keadilan sehingga untuk mendapatkannya harus melalui proses perjuangan yang penuh pengorbanan. Bahkan nyawa manusia pun seperti tak ada harganya, begitu mudah tercabut dari raga.
Suatu pagi dengan bangga ia menunjukan fotonya yang dimuat di Koran pagi kepada ayahnya. Ayahnya hanya melihat sekilas tanpa komentar. Sangat jelas bahwa ayahnya tidak terlalu setuju dengan pilihan anaknya. Tapi ia tak kuasa untuk bersikap otoriter. Alam demokrasi saat ini telah banyak memberikan perubahan. Orang tua seakan akan tidak punya hak lagi atas pilihan dan masa depan anaknya. Orang tua dituntut untuk memberikan kebebasan seluas luasnya, kalau tidak ingin di cap sebagai orang tua yang tidak demokratis.
“Satu hal yang harus kau ingat, kau tidak selamanya seperti ini”
“Jadi pikirkan juga masa depanmu dan keluagamu. Kata ayahnya, mencoba untuk selalu menasehatinya.
“OK dad. Trust me; I know what I’m doing” jawabnya mantap sambil menepuk dadanya. Ayahnya hanya bisa menggeleng melihat tingkah anak semata wayangnya itu.

Setahun berlalu tanpa terasa. Entah mengapa ia merasa ada yang berubah. Yang jelas ia sedikit kurang menikmati lagi aktivitas demonstrasinya. Entah karena perasaan atau memang benar adanya. Ia merasa perjuangan mereka saat ini bukan lagi murni gerakan moral seperti ketika awal awal ia bergabung bersama teman temannya. Ia merasa bahwa gerakan mereka ditunggangi oleh kelompok tertentu. Atau bahkan mulai masuk kedalam manajemen konflik para pelaku politik.
Ia berusaha untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang masalah ini dan berharap perasaannya itu tidak benar adanya. Ia tetap menunjukan loyalitas kepada kelompoknya untuk sekedar menunjukkan rasa solidaritas. Walau nun jauh didasar hatinya kecemasan selalu menghantuinya. Ia melihat bahwa idealisme kawan kawannya mulai menipis. Itu ditandai dengan isu isu yang mereka usung tidak lagi memihak kepada kepentingan rakyat. Yang lebih gila lagi adalah ada isu yang membela seseorang yang selama ini jelas terbukti bersalah menurut pengadilan. Ia merasa sedang tidak berada dikelompoknya. Ia merasa asing dan jauh. Entah berada dimana ia sekarang?.

Akhirnya pada suatu hari ketua kelompoknya mengumumkan untuk melakukan demonstrasi. Ia sendiri tidak jelas dengan isu mereka hari itu. Ia hanya tahu bahwa mereka berdemo untuk mendukung seseorang. Ia sengaja tidak bertanya banyak. Ia berpikir mungkin hari inilah waktu yang tepat untuk membuktikan kegelisahan hatinya selama ini.
Pada mulanya demonstrasi berjalan dengan aman dan tertib. Beberapa perwakilan kelompok, termasuk dirinya telah menyampaikan orasi. Para petugas yang telah lengkap dengan pakaian khusus saat mengamankan demonstrasi, tetap berjaga dengan baik. Mungkin karena memang sudah tugas mereka. Tak pernah ia sangka sebelumnya bahwa itulah demonstrasi terburuk yang pernah ia ikuti selama ini. Dan kelak akan menjadi demonstrasi terakhir baginya.
Tak jelas awalya tiba tiba dari arah belakang ada yang melempar bom molotop kearah para petugas. Kontan saat itu juga keadaan menjadi kacau. Petugas yang sejak tadi berdiri dengan tenang mendadak menjadi beringas, bagaikan singa lapar yang siap menerkam siapa saja sebagai mangsanya. Kelompoknya sudah tidak terkendali lagi. Semua berlari mencoba untuk menyelamatkan diri masing masing, kalau tidak ingin menjadi santapan empuk pentungan rotan petugas. Bahkan terdengar suara letusan senjata, entah itu tembakan peringatan atau bukan karena bercampur dengan teriakan histeris dan jerit kesakitan.
Beruntung ketika huru hara terjadi ia berada agak jauh dari petugas. Segera ia melucuti atribut demonya dan berbaur dengan masyarakat yang memenuhi tempat itu. Ia dengan mudah melihat teman temannya yang ditarik paksa oleh petugas, dipukuli, ditendang, untuk kemudian dibuang keatas truk layaknya sebuah karung sampah. Ia hanya bisa mengucapkan syukur karena lolos dari penangkapan petugas.
Keadaan mulai tenang. Petugas masih tetap berjaga dengan penuh waspada. Ia mencoba merogoh sakunya, mengeluarkan benda mungil alat komunikasi. Ia memungut benda itu ketika ia terjatuh dan benda itu tepat berada didepannya ternyata benda itu adalah milik ketua kelompoknya yang mungkin terjatuh ketika ia mencoba untuk menyelamatkan diri.
Iseng dibukanya kotak pesan sekedar ingin tahu pesan apa saja yang ada disitu. Saat itulah ia terkejut ketika membaca sebuah pesan: SAATNYA BERAKSI. Keterkejutannya bertambah ketika ia tahu nomor pengirimnya dalah nomor seseorang yang sedang mereka demo barusan. Dan ketika ia melihat waktu pengirimannya, ternyata pesan itu dikirim sesaat sebelum peristiwa huru hara tadi terjadi.
Ia mengangguk paham atas semua ini. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Terbukti sudah kekhawatirannya selama ini. Satu hal yang paling membuatnya sedih, ternyata selama ini demonstrasi yang begitu ia banggakan tak lebih dari sebuah ajang konspirasi kotor pihak tertentu. Siapa lagi yang harus ia percaya. Masih adakah cara untuk berjuang di negeri ini yang bersih dari sampah kepentingan? Hal itu sungguh memudarkan kepercayaannya terhadap demonstrasi, kelompoknya, kawan kawanya. Dan ia berjanji dalam hati tak akan demonstrasi lagi.
Untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa kata kata ayahnya selama ini benar. Ingin rasanya ia cepat sampai di rumah. Memeluk ayahnya dan meminta maaf.

Yogyakarta, 14 September 2004

========================================
Pengirim : Deddy S. Tamorua
========================================

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *