Sebuah suku di daerah Qazwin memiliki kebiasaan untuk menghias tubuh mereka
dengan tato. Mereka menggambari kulit mereka dengan lukisan lukisan yang gagah,
seperti lukisan seorang pejuang yang memerangi kejahatan.

Seorang pemuda dari Qazwin pergi menemui tukang tato yang pekerjaannya ialah
menggambar tato dengan jarum yang cukup tajam. Ia meminta tukang itu untuk
mentato tubuhnya dengan gambar singa yang amat buas. “Bintangku adalah Leo,
jadi singa adalah gambar yang amat pantas bagiku. Hiasilah punggungku yang
kokoh ini dengan gambar singa.� Tukang itu menyanggupinya.

Pada saat tukang tato itu menancapkan ujung jarum untuk mulai menggambar,
pemuda itu merasa amat kesakitan. Punggungnya diderita nyeri yang luar biasa.
Ia menjerit, “Oh, jarum itu menyakitiku Apa yang kau lakukan?�dannbsp; Tukang
itu menjawab bahwa ia sedang menggambar singa seperti yang diperintahkan.

“Bagian apa dari tubuh singa yang sedang kau kerjakan?� tanya pemuda itu seraya
menahan sakit.
“Aku baru saja akan menggambar ekor singa ini,� jawab tukang tato. Pemuda itu
meminta agar singa itu tak usah memiliki ekor karena gambar ekor itu ternyata
amat menyakiti punggungnya. Kalau ujung ekornya saja sudah sedemikian
menyakitkan, apalagi jika keseluruhan ekor yang panjang itu digambar, “Biarkan
singaku tak memiliki ekor. Hatiku tak tahan akan ujung jarum tatomu.�

Tukang itu pun mulai menggambar bagian lain dari singa di atas punggung pemuda
itu. Kembali pemuda itu berteriak keras, “Apa yang kau tato sekarang?� Tukang
itu menjawab bahwa ia sekarang tengah melukis bagian telinga.

“Biarkan singaku tak memiliki telinga. Demi Tuhan, tinggalkan saja bagian
telinganya,� pinta pemuda itu. Tukang tato itu pun dengan patuh pindah
mengerjakan bagian lain. Kembali, pemuda itu berteriak kesakitan, “Oh, tukang
tato yang terhormat, kali ini apa yang sedang kau kerjakan?� Tukang itu pun
menjelaskan bahwa ia tengah melukis bagian perut.

“Tinggalkan bagian perutnya. Aku tak memerlukan bagian perut dari singa itu
untuk tatoku � pemuda itu menjerit.
Akhirnya, tukang tato itu benar benar kehilangan kesabaran. Ia berdiri
keheranan. Dengan kesal, ia membanting jarumnya dan memaki, “Kau ini gila Tak
ada di dunia ini seekor singa pun yang tak memiliki ekor, telinga, atau perut

Tuhan pun tak akan menciptakan singa semacam itu �
Rumi menutup cerita ini dengan berkata, “Saudaraku, tahanlah rasa sakit dari
‘jarum’ itu. Pada akhirnya ia akan memberikanmu kenikmatan yang luar biasa.
Matahari, Bulan, dan Angkasa akan menghormati ketahanan dirimu.� Bersabarlah
menanggung derita dan segala kepedihanmu karena kebahagiaan di akhir hanya akan
diperoleh melalui penderitaan sebelumnya.

========================================
Pengirim : Conan
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone