Senyum bahagia merekah menghiasi lembar lembar keseharian hidupku. Jabat tangan, ungkapan tegur sapa dari sahabatku kian mempererat ikatan tali persahabatan. Terkadang pelukan dan tawa cekikan warnai setiap derap langkah menuju singgasana persahabatan. Duduk, berdiri, berjalan selalu berduaan. Sesekali mengelus pungungku, Deco, sahabat karibku berkata pelan, �Hanya kaulah sahabat satu satunya yang paling mengerti aku.�
Bagai disambar petir aku pun kaget sambil melempar tanya. �Dalam rangka apa dan apa gerangang?� Tapi, sahabatku tak menyahut. Ia malah mendekap diriku erat erat. Seolah olah ia menenggelamkan tubuhku dalam pelukannya dengan penuh kasih. Kadang ia mau bicara sesuatu tapi terkadang ia sulit membahasakannya. Aku tambah bingung. �Apakah ungkapan itu benar benar keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Ataukah sebuah ejekan [rayuan] yang terbalut dengan kepura puraan,� begitu kalbuku berbisik.
�Hmm.. � Kutarik napasku dalam dalam. Sesekali aku terpaku diam dalam tatapan mata nan kosong. Tanpa dikomando kupusatkan perhatianku pada sebuah titik merah di tembok rapuh yang menghalangi penglihatanku. Aku merenung tanya. Dan, aku membatin. �Jangan jangan ungkapan itu hanyalah seberkas kata hampa yang maknanya tak merasuk ke jantung kalbuku.�
�Tolonglah aku sahabatku. Aku butuh uang US 10.00,� pinta sahabatku Deco dengan nada memelas dan setengah memaksa. Seketika aku bertanya padanya, �Untuk apa?� Lagi lagi ia tak menjawab. Sementara tangan kanannya mulai merayap ke dalam kantong celanaku dengan leluasa. Aku berteriak, �Jangan.�
Tapi ia tak perduli. Tingkahnya kian mejadi jadi. Akhirnya selembar uang bernilai US 20.00, yang kusimpan dalam kantongku ia cabut pelan pelan. Sambil ia kipaskan di udara, �Oh, Tuhan. Yang kuminta sepuluh dolar malah yang kudapati dua puluh dolar. Terima kasih Tuhan,� celotehnya sambil melepas lilitan tangannya berlalu pergi.
�Tungguh.. � Aku mencoba menahananya tapi ia berlari lebih cepat. Aku hanya berdiri terpaku menatap kepergiannya hingga di titik kejahuan. Hilang. Sendiri lagi. Dalam kesendirian itu kugulung ingatanku kembali ke lembaran hari kemarin. Tak ada lembaran yang tak ternoda. Sama saja. Ternyata lembaran itu dipenuhi dengan tingkah sahabatku, Deco, yang seragam. Minta uang. Terima. Ambil. Pergi. Itu saja. Aku malas. Sahabat kok parasit banget sih.
Kumaki diriku tak karuan. �Aku bodoh. Aku goblok. Aku kurang ajar. Dan, aku bego.� Hingga aku tak tahu diri. Mengapa aku bersahabat dengannya? Terlambat. Sudah terlanjur akrab. Milikku telah menjadi miliknya. Cuma anehnya, miliknya tak pernah menjadi milikku. Apakah ini adalah dosaku? Ataukah dosa sahabatku?
Entahlah.. Tiba tiba aku memeluk diri dan larut dalam permenungan. Goblok. Ini adalah dosaku yang paling fatal. Kemarin ia minta uang aku sodorkan. Kemarin dulu ia pinjam uang aku serahkan. Mungkin aku terlalu baik hati dan lapang dada padanya. Ia ketagihan. Bahkan setiap akhir bulan, ia selalu merogoh uang di kantongku dengan rayuan nan licik. Gila.. Datang saat membutuhakan sesuatu dan pergi setelah sesuatu itu ada dalam genggamannya. Sial.
Kurasa kepalaku kian pusing. Dan, emosiku makin mendongak. Seakan sederet laku sahabatku itu membuatku kian tak mengerti. Mengapa? Kuamati tutur katanya penuh dengan kepura puraan dan kebohongan. Kemarin sore ia berjanji bertandang ke rumahku untuk acara ulang tahunku, tapi batang hidungnya tak pernah nongol. Bohon. Ia ingkari janjinya sendiri kala mengajakku berlibur di kampung halamannya. Bohon�bohon berkali kali� Ia tak pernah memenuhi janjinya. Tak pernah datang. Dan, begitu esoknya bertemu kata �maaf� puntak pernah meluncur dari kelopak bibirnya. Sahabat apaan, tuh..
Sejenak hening kurampas dan kuambil pena di dekatku. Kuoret oret rasa kecewaku dalam secarik kertas kusam berwarna kebiru biruan. Aku menulis dan tuangkan rasa sesalku yang selama ini menganjal di hatiku. Sesal akan tingkahnya yang cuek bebek. Dan, sesal akan tuturnya yang terpenuhi dengan kebohongan dan kemunafikan. Ujung penaku menari nari di atas kertas seturut irama bisikkan suara hati yang tak kunjung henti. Penaku terus menari� Seketika penaku muntah dan menorehkan titik titik noda hitam yang sulit dihapuskan.
Dear Deco.
Sahabatku, kemarin berlalu dengan irama persahabatan nan indah. Kemarin pun merayap dengan melodi lagu persahabatan yang iramanya beragam warna. Hari ini, wana warni bunyi melodi itu kurang enak didengar. Kabur. Laksana musik tanpa nada. Atau guitar tak berdawai.
Sahabatku, kemarin pun bunyi melodi lagu persahabatan itu kau senandungkan memenuhi angkasa biru. Kemarin jua kau nyanyikan syair persahabatan penuh arti. Namun, hari ini segalanya sirna. Seakan dengan tingkahmu yang kusam, kau hapus nada senyummu tanpa minta permisi.
Sahabatku, jejek jejak langkah persahabatan kita masih membekas. Hari ini aku ingin menjejaki ulang satu per satu. Tapi percuma. Hari kemarin telah merebutnya dari genggamanku. Aku terlambat. Hari ini aku ingin menapaki jejak baru. Dan, mencari sahabat baru untuk menjejaki hidupku.
Sahabatku, ijinkanlah jari jemariku bersahabat dengan petikan guitar �persahabatan� baru yang berdawai. Biarkanlah petikanku kian nyaring dan makin digemari oleh sahabat sahabatku di sekitarku, termasuk Anda. Aku tak membencimu. Aku jauh. Aku pergi karena persahabatan kita ibarat lagu tanpa nada. Kering. Sebuah lagu yang nada atau tun awalnya sangat kabur. Kusam. Pecah. Retak. Permisi, aku mau pergi�
Dari sahabatmu, Cassimata.
Lama kutunggu, seminggu kemudian, ternyata jawabannya tak kunjung hadir. Hampa. Ia enggan membalas. Malas atau marah? Entahlah. Kadang bertemu di jalanan ia selalu buang muka. Terkadang enggan tersenyum dan tak mau menyapa. Sekatapun tak terucap. Terserah�terserah�
Akhirnya batinku berbisik kaku, �Terima kasih sahabatku. Tingkahmu telah membuat lagu �persahabatan� kita kian tak bernada. Bahkan gema melodi pun tak senyaring yang kita senandungkan dulu. Apakah Anda lupa, bahwa persahabatan itu di dalamnya ada saling memberi, saling menerima dan saling mengerti?�

(Cancio Cassimata Timor Leste)

)Penulis adalah Mantan Reporter Majalah Remaja O�SIS dan Mantan Reporter Program Radio Pengungsi �Moris Hamutuk� Fondation Hirondelle

========================================
Pengirim : Cancio Cassimata Timor Leste
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone