31 Desember 2004 ..
Suatu siang di tenda penampungan pengungsi di Blang Bintang, Banda Aceh.
Seperti hari hari lalu, banyak orang lalu lalang diantara barisan pengungsi
yang tercerai berai dari keluarganya. Ada pejabat pejabat yang menghibur
dan membesarkan hati mereka. Juga relawan yang hilir mudik mengemasi
sumbangan para penderma. Diantara kesibukan itu, suara tangis terdengar
lamat lamat. Seorang gadis kecil duduk di pojok tenda, berbaju tidur motif
kembang. Wajahnya suram, air matanya mengalir bak sungai kecil.

Kepalanya dililit perban, menutupi rambutnya yang pendek. Diantara tangisnya
berulang kali gadis itu menyebut “Papa … Mama” dan air matanya berurai
deras lagi setelahnya.Hari memang tiba tiba amat cepat bergulir bagi Putri.
Sepuluh tahun masa lalunya di Lampasah, Banda Aceh, digulung ombak dalam
waktu setengah jam, di sebuah hari menjelang pagi lima hari sebelumnya.
Sekejap saja, gadis kecil bermata bulat itu kehilangan semuanya. Rumah,
boneka, empat saudara dan sepasang orang tua. Juga mal di Banda Aceh
tempatnya makan ayam KFC jika akhir pekan bersama keluarganya, yang hancur
diterjang gelombang tsunami.

“Ada boneka banyak ..juga terbawa. mama dan papa juga,” bisiknya lirih.
Matanya menatap tayangan televisi. Minggu (2/1), ketika sebuah stasiun
televisi menayangkan gambar Banda Aceh dengan hiruk pikuk terakhir,Youlanda
Putri justru sudah ribuan kilo jauh dari sana. Tangisannya di pengungsian,
memilukan banyak orang yang mendengarnya. Beruntung, tiba tiba seseorang
mendekat, mengajaknya ikut terbang ke Jakarta.

“Melihatnya nangis terus, saya tanya itu anak siapa. Katanya anak polisi
juga, tapi sudah nggak ada semua. Entah gimana, saya merasa ada sesuatu
disini dan lalu ingin membawanya,” kata Didi Widayadi, menunjuk dadanya.
Selama bertahun tahun, ia dan Siti Aisyah, istrinya, berangan memiliki anak
perempuan, setelah putra semata wayangnya, Endi, beranjak dewasa.

Siapa nyana, anak perempuan itu disiapkan Tuhan bagi keluarga Didi, di
pengungsian. Gadis kecil yang kurus dengan luka menganga di dahi sampai
pangkal kepala. Luka itu justru baru diketahuinya ketika sudah membawa Putri
ke Jakarta. Sabtu (1/1) malam ketika sampai di Jakarta, Didi curiga melihat
cairan yang terus meleleh di dahi Putri. Meski anak adopsinya itu tak
mengeluh, rasa penasaran membuatnya ingin tahu seperti apa luka di dahi
Putri.
“Ketika dibuka perbannya, lukanya begitu dalam. Ketika disana katanya sudah
dijahit, jadi saya tenang. Nggak tahunya lukanya hanya disumpel kapas lalu
diperban. Ketika kita buka, luka itu sudah busuk dan bau, nanahnya juga
banyak sekali sampai habis tisue di kamar,” urai Didi sembari
menggeleng gelengkan kepala.
Putri juga nangis terus sambil menjerit jerit “Papa, tolong Ade. Papa nggak
sayang Ade. Papa nggak
sayang Ade ” Putri pun dilarikan ke rumah sakit Soekanto, Kramat Jati
Jakarta Timur. Hasil rontgen, Sabtu (2/1) siang memperlihatkan ada sebuah
paku sepanjang 3 cm di pelipis kanan Putri. “Menurut ceritanya, ketika badai
itu kepala Putri terhantam meja yang melaju deras digulung ombak. Mungkin
paku dari situ yang masuk kepalanya,” kata dr. Harry Sugiarto SpB, ahli
bedah yang mengoperasi kepala dan kaki Putri di rumah sakit Soekanto Kramat
Jati, Jakarta Timur.

Khawatir ada infeksi yang bisa menjalarlah yang membuat kepala Putri di
rontgen. Ternyata, tengkorak kepalanya bagus, hanya dahi sampai pangkal
kepala yang terluka parah. Beberapa jam setelah rontgen, meski resminya hari
itu libur, diputuskan untuk mengoperasi kepala Putri, mengeluarkan paku di
pelipis kanan dan menjahit luka menganga di dahinya.

“Beberapa kali ada bayi di rumah sakit, gemuk, lucu. Anak saya bilang Ma,
lucu bayinya. Adopsi aja. Tapi saya selalu bilang Nggak ah, saya belum
sreg,” kenang Siti Aisyah. Tapi Jumat (31/12) itu,
ia merasa takdir menyiapkannya bertemu Putri, gadis yang selamat karena
susah payah menunggang bantal ketika gelombang air dahsyat hendak
menggulungnya. Melihat gadis itu begitu ketakutan, menderita dan butuh
perlindungan, hatinya luluh.

“Saya nggak ada pikiran apa apa lagi. Tahu tahu hati kecil saya bilang iya
dan kami bulat membawa anak itu ke Jakarta,” lanjutnya.
Dalam waktu beberapa jam saja, ia merasa Putri bagai terlahir sebagai anak
kandungnya. Setiap kali, tangan Putri seperti tak ingin lepas bertautan
dengan tangan orang tua barunya. “Mama jangan tinggalin Ade ya,” bisik Putri
selalu. Beberapa kali, kalimat itu sempat membuat mata Siti Aisyah
berkaca kaca.

Diakuinya, banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Sifat Putri yang keras
kepala, rasa trauma yang dalam karena kehilangan keluarga asalnya, menjadi
masalah yang kelak harus dihadapi pasangan ini
terhadap anak adopsinya.
“Tapi saya sudah ikhlas mengambilnya sebagai anak saya. Selama ini sama Endy
nggak pernah sekalipun saya nangis. Tapi pas liat dia (Putri) kesakitan,
saya betul betul sedih dan nangis,” kata Didi.
Apalagi ketika ia tanya apa yang bisa membuat Putri bahagia, gadis kecil itu
menjawab “Aku ingin Mama dan Papaku.Mereka sudah ketemu belum?” .

Meski dalam kondisi tertekan, Putri cenderung tenang untuk ukuran anak
seusianya. Sepintas, kecepatannya beradaptasi di keluarga barunya seperti
menjelaskan gadis kecil itu cukup cerdas. Syahdan, anak keempat dari lima
bersaudara itu selalu ranking di sekolahnya di Lampasah, Banda Aceh. Ayahnya
Brigadir Sudirman, adalah anggota Intel Polda NAD. Ibunya, Juariah, lebih
sering menemaninya main boneka di rumah. Kini, hanya kenangan yang hidup
dalam dirinya, setelah kelaurganya hilang belum tentu rimbanya. “Mama pintar
bikin asam manis. Ikan asam manis. Kita juga suka ke mal makan KFC (Kentucky
Fried Chicken),” kata Putri sambil tersenyum kecil. Sesekali, tangannya
sibuk berkonsentrasi memencet tombol tombol handphone barunya. “Lagi sms an
sama kak Sasha,” lanjutnya

ketika ditanya asyik ngobrol sama siapa.Kadang, ketika rasa kehilangannya
muncul, Putri yang semula pendiam berubah menjadi rewel dan keras kepala. Ia
merengek rengek minta boneka atau makanan kesukaannya. “Tapi setelah
dibelikan, boneka itu cuma diliatin. Makanan juga cuma beberapa sendok lalu
dia nggak mau lagi,” keluh Siti Aisyah. Jika sudah begitu, yang bisa
dilakukan hanya bersabar.

Karena kini, cuma itu satu satunya jalan. “Saya cuma ingin menolongnya.
Semoga saya mampu menyekolahkannya sampai selesai,” bisik Siti Aisyah, Senin
(3/1) siang itu. Sesekali, ia mengintip Putri yang terbaring tenang dalam
tidur

“Memang harus sabar, ini menyangkut kondisi psikisnya juga. Untuk luka di
kepalanya itu butuh waktu 1 bulan. Tapi operasi kosmetiknya lebih baik
dilakukan nanti 6 bulan lagi setelah benar benar pulih,”
ujar dr Harry Sugiarto, ahli bedah yang menangani Putri. Pun demikian, garis
luka di dahi Putri diyakini tak bisa hilang benar. Kalaupun bisa, hanya
disamarkan dengan bedak.Daging di ujung pergelangan kaki kiri Putri pun
sebagian harus di buang karena sudah busuk. Pertumbuhan kulit barunya juga
harus menunggu 1 sampai 2 bulan lagi.

“Papa sayang Ade nggak?” kalimat pelan itu seperti memecah malam.
Padahal saat itu, Minggu (2/1), Putri sedang nonton film kartun di televisi,
sambil tangan kirinya memegang erat tangan kanan Didi Widayadi, papa barunya

“Sayang sekali dong. Ade kan anak Papa,” Didi tersenyum, menyembunyikan rasa
haru yang mulai terlihat di matanya. Diluar, malam mulai merayap tanpa suara
Setelah beberapa tamu datang menjenguk Ade, panggilan sayang Putri, gadis
kecil itu tampak lelah. Makan malam dari rumah sakit hanya dicicipinya
sedikit.

“Asin. Nasinya lembek,” keluhnya sambil menjauhkan mulutnya dari piring
makannya. Sekilas, bibirnya cemberut. Lalu tersenyum lagi ketika disinggung
umurnya.
“11 tahun … mmm … 8 Mei nanti. Masih lama ya?”katanya sambil matanya sekilas
menerawang. Mungkin ia sadar, ketika tiba saat yang empat bulan itu, umurnya
bertambah dalam kesendirian. Tanpa Sudirman dan Juariah, orangtua sedarahnya
Tanpa empat saudara kandungnya.Tapi Putri punya orang tua dan
saudara saudara baru, yang mungkin belum dimiliki anak anak lain di tempat
pengungsian Aceh, sampai saat ini. Ada boneka pink berbentuk tulang yang
hangat menyangga kaki kirinya yang masih sakit dibelit perban. Juga kawanan
boneka lain yang mulai berdatangan di kamar sejuknya di rumah sakit.

Malam itu, Putri tidur mengapit tangan papa barunya. Ayah dan anak itu
sama sama baru mengakhiri penantian. Di tempat tidur yang hangat, tanpa
takut kedinginan dan kehilangan perlindungan lagi, mata Putri beberapa kali
mengerjap, lalu tidur lagi. Masa kecilnya masih bisa ditempuhnya dengan
indah, segera setelah pulih lahir dan bathin. Sementara ribuan kilo dari
sisinya, ribuan anak menanti nasib baik,di berbagai pelosok Aceh. Mereka
pasti menanti suatu malam dimana mereka bisa tidur dalam pelukan hangat
orang tua – orang tua yang tulus, yang membuat masa kecil mereka bisa
berlanjut. Seperti Putri.

========================================
Pengirim : Gendhis
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone