Wartawan Eddy Hasby memampangkan foto foto anak cacat bernama Deni yang
berjuang bersama ayahnya yang sangat mencintainya untuk meraih rasa percaya
diri, kemandirian, dan tetap punya pengharapan. Dalam rangkaian foto yang
dimuat di Harian Kompas edisi Minggu, 25 Agustus 2002, itu tergambar betapa
Deni yang tidak memiliki tangan, lengan bawah, kaki, dan tungkai itu belajar
menulis dan melakukan aktivitas sehari hari.

Di sana sini Deni mesti dibantu orang lain, semisal ketika harus gosok gigi.
Namun, tampak sekali ia tidak gampang putus asa, berupaya mengembangkan
semangat juang, terutama untuk belajar menulis. Ia tampak tekun mengikuti
pelajaran di kelas Yayasan Pembinaan Anak Cacat di Jakarta Selatan.

Mungkin Deni justru tergolong cukup beruntung bisa mengarungi semangat hidup
dan semangat juang yang terus terpelihara karena proses pendidikan yang
dialaminya. Proses pendidikan itu terutama diejawantahkan oleh sang ayah dan
lembaga sekolah yang setiap hari melingkupinya. Proses itu mencoba mengantar
Deni untuk menjadi insan yang percaya diri, mandiri, dan punya harapan.

Lihatlah tiga kata kunci itu: percaya diri, mandiri, punya harapan. Bukankah
ketiganya adalah hal hal hakiki yang sangat bernilai untuk kehidupan
kemanusiaan yang bermartabat dan bertumbuh kembang?

Pada perspektif ini Deni cukup beruntung, kendati dia cacat tubuh cukup berat.
Walaupun juga dia hidup di tengah keluarga sangat sederhana yang dipilari oleh
seorang ayah yang sehari hari bekerja sebagai pengasong rokok di kawasan
Stasiun KA Jatinegara.

Di Indonesia banyak anak seusia Deni, atau yang lebih muda dan lebih tua
usianya, mungkin memiliki tubuh paripurna, bebas cacat. Mungkin pula mereka
hidup di tengah keluarga kaya raya, atau setidaknya berkecukupan. Mungkin
mereka bersekolah di lembaga pendidikan “favorit”, dengan uang sekolah ratusan
ribu rupiah per bulan. Mungkin mereka setiap hari berangkat ke sekolah dengan
diantar mobil mewah dan membawa peralatan sekolah bermerek. Namun, sungguhkah
mereka meraih dan mengalami proses pendidikan hari demi hari, yang mengantar
mereka menjadi insan insan yang percaya diri, mandini, dan punya harapan? Tidak
serta merta.

Anak anak di Indonesia, terutama di kota kota besar, sungguh dibebani ambisi
irasional dari orang dewasa dan orang tua, yang begitu ingin menjadikan mereka
manusia “serba bisa . Di sekolah mereka dijejali “ilmu” yang jumlah dan
bobotnya demikian besar. Mereka mesti menguasai semua “ilmu” itu dengan
nilai nilai ujian yang gemilang. Sepulang sekolah, anak anak itu pasti menjadi
sangat sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah, dan belajar untuk persiapan
pelajaran besok atau ulangan. Tidak jarang, mereka masih harus mengikuti kursus
ini itu, atau kegiatan ekstrakurikuler ini itu pula.

Maka, mereka yang mestinya tampil dengan kesegaran, kelincahan, dan keceriaan
alamiah kanak kanak itu justru sering tampil loyo, raut muka kusam,
bersungut sungut, dan tegang jiwanya. Ada juga yang menjadi gampang
tersinggung, impulsif, kurang refleksif. Luar biasa, anak anak belia itu
memiliki kesibukan rutin, yang tidak kalah dibandingkan orang dewasa yang
bekerja.

Di tengah kondisi supersibuk itu, anak anak sangat jarang memiliki menit menit
penghayatan hidup, untuk berpikir secara bebas dan kreatif. Mereka menjalaninya
bagaikan mesin otomatis belaka. Akibatnya, mereka cenderung bosan, jenuh, lalu
daya kreatif dan daya kritisnya menumpul.

Di tengah kondisi demikian, dapatkah mereka meraih kebanggaan diri dan percaya
diri nan sejati? Bisakah mereka meraih dan mengembangkan aneka pengharapan atau
cita cita luhur yang asli mekar dari dirinya sendiri? Bukankah tanpa sadar
mereka telah menjadi insan yang dijejali harapan dari luar, yang tidak
senantiasa relevan dengan diri mereka?

Lalu bagaimana dengan pendidikan anak anak di desa? Bisa jadi nuansa pembebanan
yang terlalu berat tetap terjadi di sana, kendati mungkin tidak seberat di
kota kota besar. Namun, kurangnya beban bukan kanena pendidikan di desa desa
berlangsung lebih baik, melainkan karena di sana fasilitas dan tenaga pendidik
serba kurang.

Indah sekali, jika para perancang kebijakan pendidikan bisa mempersembahkan
rancangan dan kebijakan pendidikan yang tidak muluk muluk. Rancangan dan
kebijakan yang mengantar setiap peserta didik untuk secara wajar dan memadai
memiliki rasa percaya diri kemandirian, dan pengharapan. Bisa dibayangkan,
mereka akan tampil sebagai generasi yang siap bertumbuh kembang dalam perilaku
rasional, sekaligus mampu bertumbuh kembang dalam keprofesionalan yang andal.

Kebalikannya, insan yang tidak percaya diri, bergantung, dan tak punya harapan,
akan merebakkan serbaneka problem. Mulai problem perilaku yang kekanak kanakan
dan irasional, sampai ketidaksiapan meraih, serta menumbuhkembangkan
keprofesionalan dalam aneka bidang.

Mungkin boleh dipikirkan perancangan pendidikan yang nanti mengejawantah dalam
praktik pendidikan yang tidak terlalu ambisius menjejali peserta didik dengan
segala macam ’ilmu” yang tidak semuanya perlu dan tidak semuanya penting.
Pilihlah beberapa mata pelajaran pokok yang sungguh perlu dan penting. Lalu
selebihnya, waktu dapat dimanfaatkan oleh para pendidik untuk menggalang relasi
pendidikan dengan peserta didik, agar para peserta didik menjadi insan insan
yang percaya diri, mandiri, dan punya pengharapan.

Relasi seperti itu niscaya penuh teladan kebaikan yang andal, penuh pengertian,
disiplin, penuh nilai kejujuran, penuh penerimaan, serta penuh cinta kasih

========================================
Pengirim : Barry Kusuma
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone