Padepokan di suatu sore hari;
Ketika melihat acara TV via Kabelvision. Dengan becanda, WW mengkritik
penulis sebagai orang yang plin plan, tidak memiliki pendirian. Penilaian
ini didasarkan karena penulis terlalu menurut mengikuti program TV yang ia
maui. Apa yang ia minta selalu penulis turuti. Kebetulan, sore itu acara
yang bagus adalah TV “Animal Planet” (channel 9) dan TV “AXN” (channel 3).
Tapi, kritik itu dengan mudah penulis membalikkannya dengan merubah
channel, mengganti dengan acara yang lain.

“Nah, saya memiliki pendirian kan sekarang?” ujarku menguji.
“Wah, jangan jangan, J, yang tadi lagi aja ” pinta WW.
Channel pun penulis ganti sesuai dengan permintaan WW semula. Itu adalah
sebuah pelajaran sederhana untuk menguji asumsi WW sebelumnya.

Beberapa hal utama, dan penulis ingin memberikan “pelajaran” pada WW adalah,
bahwa; pertama, penulis memegang betul prinsip “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing
Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”, yang artinya kira kira begini: Ada
kalanya kita berada pada posisi harus bisa memberikan contoh yang baik. Ada
kalanya kita berperan sebatas untuk menumbuhkan minat, dan ada kalanya kita
harus mampu dan bisa memberikan motivasi/dukungan. Jadi, ini adalah
persoalan posisi tempat dan waktu. Kita harus bisa menempatkan diri, kapan
di depan, kapan di tengah, dan kapan di belakang.

Kedua, WW barangkali perlu lebih memahami sesuatu dari isi, tidak hanya
sebatas kulit (permukaan). Memaknai substansi, tidak sebatas esensi.
Memahami yang kontekstual, tidak hanya yang tekstual. Tidak hanya mengetahui
syariat semata, tapi makrifat ataupun hakekat juga perlu diyakini. Jadi,
memahami setiap diri manusia tidak hanya sebatas dari luarnya saja,
permukaannya saja, tapi juga isi dan dalam diri manusia tersebut. Karena
bila tidak, kita akan keliru dalam memahami orang lain. Jika kita hanya
punya kriteria “baik dan buruk” dalam memahami sesuatu secara mutlak, maka
probabilitas kesalahan penilaian tersebut bisa sangat mungkin terjadi.

Ketiga, memahami orang tidak bisa dengan hitam putih. Ketika kekasih atau
istri kita marah, itu bisa diartikan ia masih sayang dan perhatian pada
kita. Bagaimana bila sudah tidak marah lagi?
Ketika kekasih atau istri kita cemburu, itu artinya ia masih mencintai kita.
Cemburu pertanda rindu. Marah pertanda cinta. Intinya, kita harus juga
memahami latar belakang masalahnya, bukan sebatas apa yang terjadi. Memahami
latar belakang marahnya, bukan subyeknya yang sedang marah. Jadi, ini adalah
persoalan latihan menjadi orang yang arif dan bijaksana.

Keempat, penulis mengikuti betul ajaran Mahatma Gandhi; “ahimsa”, yang
bermakna anti kekerasan. Karena menurut Gandhi, apapun bentuknya kekerasan
tak kan bisa diakhiri dengan kekerasan. Gandhi percaya benar bahwa
kemenangan akhir ada pada Kebenaran (satya), yakni Tuhan.
Bila hanya untuk menegakkan hal hal yang tidak prinsipil (mendasar), kenapa
harus dengan kekerasan, intimidasi, teror, merasa memiliki kekuatan? dalam
contoh kasus kecil rebutan channel TV. Tidak harus Justru, cara cara
seperti ini yang sebenarnya menunjukkan kekerdilan jiwa seseorang.

By the way, WW masih tetap adikku yang terbaik. Bagaimanapun, kritiknya
selalu kuharapkan. Bukankah peran seorang sahabat memang harus demikian;
saling nasehat menasehati dalam hal kebaikan? Karena pada dasarnya, setiap
orang akan mengalami fluktuasi keimanan. Karena kita adalah manusia biasa,
bukanlah dewa.
Selebihnya, wallaahualam bi ash showab.

Padepokan Tebet, sehabis Tarawih pertama Ramadhan 1424 H 26/10/03;
© Gus John.

========================================
Pengirim : Gus John
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone