Belum diselidiki. Tulisan itu selalu dicatat di atas gambar petanya. Dan itu berarti, bahwa dirinya menemukan tempat asing yang perlu diselidiki. Apa yang terdapat di pulau itu? Bagaimana keadaan penduduknya? Pertanyaan semacam ini timbul, jika ia menjumpai belahan dunia yang mengandung rahasia. Dan kali ini yang mendapat giliran diberi tanda adalah .. Benua hitam Afrika.

David Livingstone paling suka akan pelajaran ilmu bumi. Rasa ingin tahu selalu timbul, jika ia menemukan tempat yang baru dipelajarinya.

“Mengapa Afrika seperti daerah tertutup?” kata David Livingstone sambil pandangannya tertuju pada peta. Keinginan untuk menyelidiki pedalaman Afrika mulai tumbuh. “Bagaimana kalau saya pergi kesana? Tentulah menyenangkan. Kalau di daerah sana para penduduknya belum mengenal baca tulis, akulah yang akan mengajarnya. Jika mereka terserang penyakit, akulah yang akan menolong mereka,” kata David. Kalimat itu sering diucapkannya kepada setiap teman yang dijumpai.

“Tetapi perlu kau ketahui, David,” kata salah seorang temannya, “mereka yang mencoba memasuki daerah gelap itu, selalu menemui bahaya Dokter Lacerda dari Portugal, tidak pernah kembali sampai sekarang. Itu hanya salah satu contoh saja dari mereka. Afrika adalah kuburan orang kulit putih ” Kata kata itu bertujuan untuk mengingatkan David. Tetapi bagi David, tekadnya sudah tidak dapat ditunda lagi.

Pada tahun 1841, Livingstone mendarat di Cape Town, ujung selatan Afrika. Dengan membawa sextant (semacam kompas), beberapa lembar buku, alat peneropong, dan obat obatan, David livingstone memulai perjalanannya. Kakinya yang kokoh, menapak rumput rumput hutan yang tumbuh liar. Telinganya seringkali mendengar suara binatang yang tersembunyi di balik belukar. Naluri David selalu mengingatkan, kalau dirinya senantiasa dibuntuti bahaya. Bagaimanapun beraninya seorang David, tak urung hatinya bergetar juga. Tetapi kedua kakinya menyuruh, agar ia terus melangkah ke dalam hutan

Pagi itu langit sangat cerah. Sekawanan hewan berlarian ketakutan. Telinga David menangkap suara langkah kaki yang berat dan terseret seret. Dari balik semak yang rimbun, matanya menangkap pemandangan yang sangat mengecewakan hatinya. Orang orang yang terdiri dari kaum laki laki, perempuan dan anak anak terbelenggu kedua tangannya. Sementara di belakang mereka, seorang lelaki berjalan dengan cambuk ditangan.

“Budak budak belian ” jerit David dalam hati. Ia sudah mendengar dari teman temannya tentang perbudakan di Afrika. Kenyataan ini yang mendorong kakinya untuk terus melakukan perjalanan. Dia harus melenyapkan praktek perbudakan di Afrika.

David Livingstone meneruskan perjalanan kembali. Penduduk pribumi yang berpapasan dengannya merasa aneh dengan kehadiran David. Sikap yang tidak bersahabat, ditunjukkan oleh suku Hottentot kepada David. Suku Hottentot adalah suku pertama yang dijumpai David. Mereka segera mengurung David dengan senjata senjata di tangan mereka. Segera David Livingstone mengangkat tangannya.

“Turunkan tombak tombak kalian Jangan takut Akulah yang akan menolong kalian dalama kesulitan. Turunkan senjata itu Kita bersahabat, ya?” kata David dengan bahasa isyarat. Dihampirinya salah seorang suku Hottentot yang sakit demam. David segera menyingsingkan lengan bajunya. Dengan obat obatan dan kata katanya yang ramah, David Livingstone mendapat sikap ramah dari suku Hottentot.

“Akan kuajarkan pada kalian, tentang cara pengobatan. Dan akan kuperlihatkan cara merawat tanam tanaman dengan baik,” kata David ditengah tengah suku Hottentot.

“Apa gunanya bercocok tanam, kalau disini tidak pernah ada hujan? Apakah Tuan sanggup mendatangkan hujan?” kata salah seorang dari mereka, dengan menggerak gerakkan tangannya.

“Kalian tidak usah tergantung pada hujan,” jawab David. Kepada suku itu, David menganjurkan untuk membuat saluran air. Sehingga mereka dapat mengambil air sungai, dalam jarak sejauh satu setengah kilometer.

Hubungan antara David Livingstone dengan suku Hottentot semakin akrab. David segera mengutarakan maksudnya untuk merundingkan perdamaian di lingkungan berbagai suku di Afrika. “Afrika harus bebas dari perbudakkan ” kata David pada suatu hari. Dengan hadirnya David di tengah tengah mereka, rasa aman dan damai terasa sekali bagi suku Hottentot. Ketika David Livingstone akan kembali, kepala suku Hottentot merasa sangat kehilangan. Mereka khawatir akan keselamatan David Livingstone.

“Tinggallah bersama kami, Tuan. Suku Bechuana di sebelah utara, tidak suka akan perdamaian seperti kami. Mereka tentu akan menyakiti Tuan,” kepala suku itu memohon kepada David. Tetapi kekhawatiran mereka dijawab dengan gelengan kepala oleh David.

“Kalian tidak mengenal orang orang Bechuana. Itulah sebabnya kalian takut kepada mereka,” jawab David. Setelah mengucapkan salam perpisahan, David melanjutkan perjalanan ke utara. Tetapi perjalanan kali ini, disertai beberapa orang dari suku Hottentot. Mereka sangat memikirkan akan keselamatan David.

Perjalanan sejauh seratus enam puluh kilometer menuju perkampungan suku Bechuana. Livingstone beserta rombongan disambut oleh kepala suku Bechuana. Ternyata mereka telah mendengar nama David, sebagai tabib yang sakti.

“Tuan, tolonglah anak kami dalam keadaan sakit. Sudah bermacam macam ramuan dari beberapa dukun, tetapi tidak mampu menyembuhkan anak kami,” kata Sechele, kepala suku, memohon kepada David. Dan bagi David sendiri, mengobati sakit demam bukanlah pekerjaan yang sulit. Dalam waktu yang tidak lama, puteri kecil suku Bechuana terhindar dari maut. Rasa terima kasih yang berlebihan, menjadikan David disanjungg sebagai dewa penolong yang murah hati.

David Livingstone segera melanjutkan perjalanan kembali. Beribu ribu mil ia berjalan menempuh hutan dan padang padang pasir. Setiap menjumpai penduduk pribumi, David Livingstone mengajarkan cara pengobatan dan melarang perbudakan sesama manusia. Baginya, perbudakan adalah penyakit yang harus diberantas di muka bumi. Tetapi niat baik David ini, seringkali bertentangan dengan beberapa suku di pedalaman. Hampir saja ia mendapat celaka dengan niatnya ini. Hanya berkat kepandaiannya dalam mengobati penyakit, dan kata katanya yang ramah, David dapat terhindar dari bahaya itu.

Perjalanan yang terus menerus, membuat David Livingstone terganggu kesehatannya. Beberapa kali ia rebah tak sadarkan diri, karena demam yang menyerangnya.

Pada suatu hari, seorang utusan dari Inggris membawa surat untuk David. Isi surat itu menyuruh David segera pulang ke Inggris. “Negara akan memberikan hadiah dan Anda akan memperoleh kehormatan karena pengabdian Anda,” demikian bunyi surat itu. Tetapi David tidak memperdulikan semua itu. Ia terus melakukan petualangan di Afrika, dan baru mau pulang ke negaranya, setelah para petugas negara menemukan mayatnya.

========================================
Pengirim : Conan
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone