Di sebuah surat kabar kubaca bagaimana seorang bocah X yang rajin dan pandai, suatu hari mencoba bunuh diri.
Dia anak yang baik kata orang, rajin ke mesjid, shalat dan puasa Senin Kamis.
Orang tua cerai dan ibu jadi TKI di Arab Saudi, hidup jadi berubah.
X kehilangan arti hidup ini.
Ia tak tahu mengapa hidup ini begini dan tidak begitu.
Ia berakhir luka para dan kondisinya kritis di rumah sakit.
Tubuhnya luka para karena pisau.

Y seorang bocah yang jauh lebih muda.
Tubuhnya yang tak bernyawa tergantung di dapur rumah kakaknya.
Y tak kuat menahan tekanan rindu yang begitu mengganggu, setelah ibunya meninggal dunia.

Z, juga seorang bocah yang diketemukan tewas bunuh diri dengan menggantung.
Yang lebih menghebohkan tahun lalu adalah seorang bocah yang mencoba bunuh diri dengan mengantung diri.
Alasannya karena malu tak mampu membayar iuran Rp2.500 untuk kegiatan di sekolahnya.
Untunglah nyawanya bisa diselamatkan.
Bayangkanlah harga sebuah kehidupan bocah = Rp 2.500.
Bagaimana hatimu?

Di Jakarta menurut data Kepolisian Metro Jaya, pada tahun 2003 saja ada 62 orang yang bunuh diri.
3 x dibandingkan tahun sebelumnya
Usia korban, dari belasan sampai 65 tahun.
Mereka terdiri dari sebagian besar para penganggur, pelajar, karyawan, pembantu rumah tangga dan buruh yang tak pasti nasibnya.

Di Bali yang katanya pulau Dewata dan surga di tropik, angka bunuh diri pun menggelisahkan.
Dari 30 orang yang mencoba, ada 20 yang sukses bunuh diri.

Ada banyak sebab menyebab orang pada bunuh diri.
Orang bilang para pembunuh diri adalah pengecut yang tak berani hidup
Tapi, bukankah untuk bunuh diri diperlukan keberanian?
Seorang pengecut tak akan bunuh diri, paling tidak dirinya malah siap nrimo apa saja.
Dengan kata lain menyerah pada situasi dan kondisi
Ingat tradisi Jepang Kamikaze dan Harakiri?
Mati dengan kehormatan lebih baik dari pada hidup dengan nista dan malu.

Tapi kalau para bocah yang masih ingusan sudah pada mulai terjun di kali, ini perlu diperhatikan.
Ada sesuatu yang terjadi di alam kita yang menyebabkan bocah tak punya gairah atau tak ingin hidup lagi.
Para orang tua, guru sekolah, ulama dan pemimpin masyarakat perlu memikir dan merenungkannya.
Hidup dan dunia macam apakah yang kita ciptakan, hingga bocah tak mau ada disini?
Makna dan arti hidup yang bagaimanakah yang mereka temui, hingga perlu lari via narkoba, minuman keras yang bikin berlupa atau hidup kluyuran yang berakhir terjun bunuh diri?

Moga moga bunuh diri cuma dalam kisah Romeo dan Juliet.
Moga moga tidak jadi wabah atau budaya seperti KKN.
Berikanlah mereka harapan.
Bukankah harapan adalah milik terakhir yang terbaik yang bisa dimiliki manusia?
Tanpa harapan apalah arti hidup di kolong langit yang bernama Indonesia ini?

Jalanan 2004

========================================
Pengirim : E. Regardie
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone