Tatkala kehidupan manusia berada pada ambang keputusasaan, terkadang orang lain harus menanggung korbannya. Peristiwa ini persis yang dialami Flora, gadis kecil yang berumur enam tahun. Gadis lugu dan masih polos suatu saat meminta kepada ibunya untuk dibelikan mainan seperti yang dimiliki oleh anak anak yang lain.

Saat itu, orang tuanya sama sekali tidak memiliki uang untuk membelikan mainan tersebut. Ayahnya adalah seorang buruh pabrik sepatu yang sedang mengalami proses diPHK. Praktis dalam kondisi seperti ini, mereka tidak lagi memiliki uang untuk membelikan mainan. Uang yang ada dimaksudkan untuk membeli kebutuhan pokok mereka sehari hari. Saat itu ayahnya berada dalam posisi kebingungan untuk mencari pekerjaan.

Alih alih ayahnya Flora jelas berada dalam situasi putus asa. Sebagai wujud protesnya, karena permintaannya tidak terpenuhi Flora menangis dan tidak mau mau makan. Melihat anaknya terus menangis, Ayahnya yang sedang merokok serta merta menampar dan menendang Flora. Florapun diam, karena takut kalau kalau tidak hanya tamparan,dan tendangan yang dialami, tetapi juga kekerasan dalam bentuk lain yang dilakukan oleh ayahnya.

Inilah potret akumulasi sikap dan perilaku seorang ayah yang sedang mengalami keputusasaan dan melampiaskan segala kekecewaannya melalui anaknya. Repotnya, Flora, gadis kecil tidak mengetahui kondisi ayahnya. Ia hanya mengetahui bahwa masa kecilnya dapat dinikmati. Lantas siapakah yang harus dipersalahkan?

Anak anak kadangkala harus menjadi korban. Masa kecilnya merupakan masa yang menyenangkan, karena dapat mengalami kegembiraan, kebahagian dan keadaan dicintai. Namun seringkali yang terjadi adalah hak mereka untuk senyum, menangis, bermain dirampas oleh orang tua mereka. Menciptakan keadaan anak dalam situasi kekerasan, dan tidak dicintai akan membuat luka tersendiri dalam diri anak. Pada akhirnya anak juga akan bertumbuh dalam suasana tanpa cinta.

Situasi seperti ini, sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya orang tua tetap menfondasikan KASIH dalam mendidik anak anak mereka. Sehingga anak tidak menjadi korban dalam keluarga. Ada banyak contoh bahwa anak seringkali merasa tidak at home di rumah, berontak dan melarikan diri dari rumah karena merasa tidak dicintai. Menciptakan keluarga penuh cinta membuat anak akan bertumbuh menjadi seorang pribadi yang mampu mencintai orang lain.

Religion No, Religius Yes

========================================
Pengirim : Mans Werang
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone