O, tidak, tidak. Jangan salah. Aku bukan mereka. Aku bukan pembunuh seperti
yang kalian cari cari itu walau sejarah banyak menceritakan pujangga dan
seniman seperti Heichi kebanyakan jatuh dalam kegelapan dengan mengenaskan,
atau membunuh jiwanya sendiri.

Aku tinggal bersama sama kalian. Aku hidup bersama sama kalian di tengah
kehirukpikukan yang sumpek dan picik. Percayalah, aku ada di tengah tengah
kalian. Aku hidup di tengah tengah kalian, makan, tidur, mabuk mabukan bahkan
bercinta dengan kalian.

Aku bukan pembenci Heichi. Aku, seperti juga kalian adalah pembaca setia
dongeng dongeng Yokosuka. Aku membunuh Heichi karena aku mencintainya.
Barangkali ini konyol sehingga kalian tak habis pikir kenapa aku yang
melakukannya. Tetapi percayalah, kawan. Akulah yang melakukannya.

Sungguh, akulah yang melakukannya. Aku sangat mencintai Heichi yang kalian
sanjung sanjung sebagai penulis dongeng Yokosuka. Aku ingin Heichi hidup dalam
rabuku selama lamanya. Ya, selama lamanya. Aku menyimpan abunya di rumahku.

Kutebarkan abunya di sekeliling rumahku agar jiwanya senantiasa bersemayam di
hatiku. Heichi, Heichi. Aku mencintaimu. Aku tidak membencimu. Aku tak tahan
melihatmu menderita, menderita dalam siksaanku.

Kau buai penduduk Kyoto dalam dongeng dongeng kasmaran Yokosuka. Kau buai
mereka dalam khayalanmu. Sungguh, aku pun adalah pemujamu Heichi. Aku
mencintaimu tapi kau tak mau menerima tawaranku karena kau tetap menyingkirkan
Nagami dalam kisah Yokosuka.

Aku tak mau Nagami kau singkirkan sehingga Yokosuka hidup berbahagia dengan
Michiko. Aku lebih menyukai Nagami yang cantik, welas asih dan buta itu.
Sewajarnya Yokosuka dapat hidup berbahagia dengan Michiko, tapi aku tak rela
kau biarkan Nagami meninggal dalam dekapan malam.

Kau tak pernah memberiku jawaban memuaskan mengapa kau singkirkan Nagami.
Mengapa kau tak berikan Nagami seorang kekasih sehingga dia dapat hidup
berbahagia bukannya mati dalam perang? Kau tak pernah membiarkan Nagami
berbahagia. Kau sesungguhnya hanyalah seorang yang egois hingga begitu tega
menyingkirkan Nagami.

Berkali kali kubilang padamu bahwa Nagami seharusnya dapat berbahagia dengan
kekasih lain yang bisa kau ciptakan dalam dongeng dongeng kisah kasih haru
birumu.

Ketika kukatakan ini kau berkilah bahwa dengan melenyapkan Nagami berarti kau
membiarkan Nagami bahagia. Aku paham kau sesungguhnya hanya melulu berpihak dan
memikirkan tentang Yokosuka. Bukankah dongeng dongengmu berkisah tentang
Yokosuka sehingga kau lebih mengutamakan kebahagiaannya? Heichi, Heichi.

Aku mengerti kau lebih memikirkan Yokosuka. Tapi kenapa kau begitu tega
melenyapkan Nagami? Nagami telah banyak berkorban pada Yokosuka. Ketika
pertempuran tengah berlangsung di Okinawa siapa yang memberikan persembunyian
kepada Yokosuka? Memang Michiko, adik Nagami yang merawat dan menyembuhkan
luka luka Yokosuka. Tapi siapa yang pertama kali menjumpai Yokosuka? Siapa yang
rela menyembunyikan Yokosuka dari kejaran para perampok perampok itu kalau
bukan Nagami?

Kau tidak pernah mendengarkan aku. Aku sungguh sungguh kecewa dan kau
kelihatannya tetap enggan kepadaku sehingga kau teruskan dongeng Yokosuka
bersama Michiko. Mengapa kau tak memberikan Nagami seorang kekasih, Heichi?
Ketika kutanyakan ini kau menjawab sudah selayaknya Nagami menerimanya. Aku
tidak mengerti kenapa kau begitu tega, Heichi. Aku terluka. Kau telah tega
melenyapkan Nagami. Kenapa kau lebih merelakan Michiko? Apa hebatnya Michiko?
Aku cemburu Heichi.

Kalau aku jadi Nagami aku akan terluka dan barangkali akan melakukan sebentuk
pembalasan. Tapi kau membuatnya seolah olah hal itu terjadi begitu saja, tanpa
rasa bersalah hingga kepergian Nagami.

Heichi, Heichi. Aku sungguh sungguh kecewa kepadamu. Aku benci sifat keras
kepalamu sehingga dengan sangat menyesal aku terpaksa menyekapmu. Sesungguhnya
aku tak tega menceritakan bagaimana aku menyekapmu. Aku tahu kau mudah tergoda
kepada perempuan perempuan seperti aku. Dengan mudah kupikat kau ketika kau
berada di Sujaku. Kau tak sadarkan diri setelah kita minum sake banyak banyak.
Setelah itu kau tertidur dalam dekapanku hingga dengan mudah kubawa dirimu.

Aku tak mau kau teruskan dongeng Yokosuka tanpa kejelasan nasib apa yang telah
menimpa Nagami. Bahkan di depan bara api yang menyala nyala kau masih tetap
saja menolak meneruskan sebentuk kisah untuk Nagami sehingga aku jadi
kehilangan kesabaran. Aku marah. Aku kecewa. Aku marah dan kecewa, Heichi. Tapi
aku tetap berusaha dan terus menerus memohon agar kau bersedia menuliskan
sebentuk kisah kisah lain untuk Nagami.

Aku tak rela dia mati sedangkan Yokosuka, tokoh yang kau ciptakan sebagai
karakter utama dongengmu itu hidup dengan perempuan lain walau ia, Michiko
adalah adik Nagami.

Memang dalam penyekapanku kau akhirnya mau juga menuliskannya. Namun setelah
kubaca baca kulihat kau ternyata tidak secara sungguh sungguh menuliskannya.
Kau tidak menuliskannya dengan hati. Kau menuliskannya dengan terpaksa karena
kau takut kepadaku. Kau menuliskannya karena kau ingin segera lari dalam
penyekapanku, sehingga kau bisa memberitahukan kepada orang orang bahwa akulah
yang selama ini menawanmu, bahwa akulah selama ini yang menculikmu.

Tidak, Heichi, tidak. Aku tidak suka kau menuliskannya karena terpaksa.

Heichi, Heichi kemana bara dongeng yang kau tawarkan? Semuanya hilang lenyap
dalam kisah kisahmu. Tidaklah kutemukan jiwa sesungguhnya dalam dongeng dongeng
yang kau tulis itu sehingga aku benar benar marah.

Aku masih rela memberikan kesabaran dan rasa maafku hingga kubiarkan kau
berkelana dalam khayalanmu. Aku berbuat begitu agar kau bisa melarikan
setan setan kecil dalam kepalamu sehingga kau akan memberikan kehidupan baru
pada Nagami. Tapi kau tetap tidak melakukannya. Kau melakukannya tapi kau
sekali lagi, ya, sekali lagi tidak melakukannya dengan hati. Kau menuliskannya
dengan amarah, kau melakukannya dengan keterpaksaan.

Kau malah menghina aku. Hanya bara kebencian yang ada dalam hatimu. Kau benci
kepadaku. Aku lagi lagi kecewa sehingga terjadilah itu.

Kupaksa kau bercinta denganku agar kau tahu bahwa aku melakukan hal ini karena
aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Heichi. Heichi, oh, Heichi, oh, lelakiku,
pujannku. Tapi kau meludah dan menghardikku dengan kasar. Kau bilang aku gila.
Kau bilang aku telah mengekang imajinasimu. Kau bilang aku sudah keterlaluan
setelah apa yang kau kerjakan tak lagi memuaskanku.

Aku kecewa, Heichi. Aku kecewa. Aku kecewa kau telah berkata begitu pada
pemujamu. Aku kecewa kau tidak memberikan kebahagiaanmu yang sungguh sungguhg
kepada Nagami. Aku mulai merayumu agar kau berubah pikiran. Tetapi saat
kukedipkan mataku kepadamu kau malah menunduk. Tak sedikitpun kau mau
melihatku. Aku tak bermaksud apa apa. Aku hanya ingin, hanya ingin, ya,
barangkali kau akan berubah pikiran setelah kesurahkan diriku kepadamu. Tapi
kau memang keras kepala. Aku jadi marah. Sangat marah. Terpaksa kupaksa dirimu.

Aku tahu sesungguhnya kau tak punya kekuatan untuk mati. Kau masih punya
kekuatan untuk hidup. Aku tahu dari sinar matamu. Sinar mata yang setiap saat
menyimpan kegairahan untuk berontak, keinginan untuk lari. Lari dari kenyataan.
Aku tak rela, Heichi. Aku tak rela. Jadi, terpaksa kulakukan itu.

Aku menunduk, lama memperhatikan wajahmu. Lalu kucium bibirmu. Tanganku kini
pindah memuntal muntal ujung rambutku yang kupotong pendek tidak rata sehingga
sebagian jatuh ke dahi dan pipi. Celana dalammu terlihat begitu sangat nyaman
dikenakan sehingga seluruh isi pinggang dan pinggulnya dapat masuk menempati
celana itu tanpa meluap keluar. Kelihatan sekali kau sangat memelihara tubuhmu
seperti merawat kuil.

Aku senang bersamamu. Barangkali jika kucurahkan segala kemampuanku aku dapat
membuatmu senang. Tanganku kini meluncur menyelinap ke celana dalamnya hingga
menuju tonjolan itu. Aku selalu ingin memerah penis dan meremas buah zakarmu
itu. Namun karena aku begitu terburu buru kau akhirnya melakukannya walau
tombakmu malah memboikot tak mau bangun.

Kau begitu kelelahan. Kulingkarkan tali di tanganmu, kedua duanya dan
menyatukannya. Ikatannya memang tak begitu erat. Lalu kutarik dan kutuntun
menjauh seperti aku menuntun ternak yang di hidungnya disilangkan tali menuju
ke sebuah tempat.

Sementara itu dalam penglihatanku aku melihat diriku dengan tali kekang
memegang kuda berkaki delapan, kuda besar dari utara tempat asal salju dingin
berkuasa. Ada dua ekor gagak di pundakku. Aku melihat sebelum orang yang
menuntunnya menarik dan menyingkapkan kain yang menutup badannya. Kau dalam
penglihatanku adalah budak yang tak boleh melihat wajah tuannya sebelum
diperkenankan.

Aku lalu mencambukmu sehingga kau akan menurut seperti anjing. Kau akan
menuruti perintahku, majikanmu karena kau tak punya lagi kekuatan untuk
menolaknya. Badan yang kau miliki kini hanya bisa merasakan perih dan sakit,
lapar dan haus. Badanmu gemetar diterkam dinginnya butiran es yang terbawa
angin. Setelah kulakukan, kulepas mantel untuk dipakaikan pada dirimu. Kau
begitu kelelahan setelah berkali kali kulakukan kepadamu.

Tapi, begitu kulihat dirimu begitu kelelahan aku tak tega. Aku ingin kau tetap
bersemangat sehingga kau mau bersedia menuliskannya kepadaku. Sayang, hati
kecilku berkata lain. Aku berpikir lebih baik kau bersemayam dalam hatiku.
Barangkali jika kau bersemayam dalam hatiku kau tak akan membangkang lagi, atau
aku bisa memerintahmu untuk menulis kisah baru untuk Nagami? Siapa tahu…

Dua batu asah dan air telah kusiapkan. Kugesekkan di antara mata tombak.
Bunyinya sungguh menyilet kuping. Pelan pelan dan kutarik searah batu itu.
Pelan dan pasti maka tombak itu mulai berkilat dibersihkan air yang sesekali
aku kucurkan. Ketika kurasa sudah cukup, dengan ibu jariku aku menyentuh ujung
runcing mata tombak. Aku bisa merasakan ketajamannya. Aku bisa melihat
bayanganku dan tombak itu ada di antara bola hitam matamu. Aku mengedipkan
kelopak mataku. Dengan sisa sisa tenaganya kurasakan kau sudah membaui kematian
yang akan segera mendekatimu.

Kau hentakkan kaki belakangmu, tapi tak mungkin kau lari. Dua utas tali
mengikat mulutmu, membuatnya terpancang. Aku mengangkat tombak mengambil
ancang ancang. Kau gelisah melihatku membuka kaki selebar bahu dengan tangan
kananku mengenggam tombak. Mata tombak itu bersinar seperti matahari kecil. Aku
yakin, dengan satu hempasan tombak itu akan masuk menembus jantungnya,
menghentikan segala beban dan penderitaannya.

Napasmu terengah engah mengeluarkan uap dari mulut dan hidungnya. Matanya
membesar. Kau membungkuk menekuk lutut di depanku. Tombak kuturunkan, seluruh
ototku yang tadi telah menegang kubiarkan lemas kembali. Sekonyong konyong
sebuah suara menyergapku, menyergap telingaku. Dan tombak itu kuhunjamkan pada
dadamu. Aku serahkan padamu demi cintaku padamu, Heichi. Kau tergolek. Matamu
kemudian terpejam. Kini aku telah mengantarmu ke alammu yang baru. Sesungguhnya
aku tak punya kekuatan lagi setelah kuhunjamkan tombak itu pada dirimu, Heichi.

Setelah kau tergolek meregang nyawa kuserahkan diriku. Aku memohon pengampunan
yang kesekian kali. Sungguh aku melakukannya karena aku mencintainya. Sungguh,
ini karena cintaku padamu Heichi itulah yang mendorong aku memerkosa dan
membunuhmu, Heichi.

Bertahun tahun kusimpan rahasia ini. Kuceritakan pada semua orang Heichi telah
pergi. Heichi telah pergi selama lamanya tanpa menuntaskan kisah kisahnya,
kisah dongeng Yokosuka. Heichi sudah pergi terbunuh dalam peristiwa perampokan
dan pembunuhan yang sangat keji oleh seorang bernama Tajomaru. Tajomaru kalian
incar incar sampai aku akhirnya menari nari di atas kuburannya.

Tajomaru yang malang itu telah mengorbankan dirinya sebagai sang pembunuh
Heichi. Kisah itu telah berhenti sampai disini, kataku. Kalian lalu menyiapkan
upacara terakhir. Jasadmu terbakar dan sebagai penghormatan terakhir kusimpan
abumu sebagai tanda cintaku kepadamu, Heichi. Aku ingin kau tinggal dalam
rabuku, Heichi.

Kawan kawan, kini sampailah aku pada akhir zuihitsu ini. Aku tak kuasa
menahannya lagi, kawan. Aku sadar, sesadar sadarnya dan aku tahu
serapat rapatnya aku menyimpan rahasia ini tetap akan terbuka juga. Aku tahu
inilah saatnya sebelum selubung kesunyian itu segera menyelimutiku.

Akulah sang pembunuh itu. Akulah pembunuh Heichi yang kalian cari cari. Akulah
jawaban dari teka teki yang selama ini menyelimuti benak kalian. Akulah jawaban
dari misteri terbunuhnya pencipta dongeng Yokosuka. Akulah awal dan akhir dari
kehidupan seorang bernama Heichi.

Memang itu bukan sepenuhnya dosa Heichi. Jika semua itu karena dosa dosa
Heichi, tentu aku tak mengalami penyiksaan berat dalam kegelapaan. Dan ketika
Heichi meninggalkanku seperti dalam mimpi dan dongeng dongeng haru birunya itu,
aku berteriak seakan menjadi gila. Sekarang dengan teriakan itu mampu membuatku
sendiriku terpelanting ke dalam ngarai kegelapan tanpa dasar. Kutenangkan
diriku. Lalu aku kemudian menyilangkan tangan.

Sambil kusilangkan tanganku kulakukan zazen sesaat setelah kepergian Heichi
yang tak jua menghantarkan Nagami seperti yang aku inginkan ke dalam
dongeng dongeng haru biru kisah kasih Yokosuka.

Sekarang ijinkanlah kuakhiri zuihitsu ini sebelum kulihat seseorang yang tak
berwajah, entah siapa dia itu, bergerak perlahan. Kegelapan telah menyelimutiku
sehingga orang tak berwajah itu kemudian mencabut pelan pelan sebentuk pedang
kecil dari pinggangnya. Aku tak bisa bergerak. Nafasku sesak dan seluruh
tubuhku kaku. Bersamaan dengan itu darah mengalir.

Aku terkapar di sana dalam selubung kesunyian yang dalam. Ketika dadaku semakin
dingin, sekonyong konyong aku melihat wajah Heichi. Heichi, kutahu kau telah
menjemputku. Kini aku akan datang dan kita akan bersama selamanya dalam satu
dunia.

Kesunyian yang kurasakan begitu dalam hingga tak terdengar satu kicau burung
pun di langit di atas lembah pegunungan itu. Cahaya segera menjadi semakin
redup sampai akhirnya pohon pohon cedar dan bambu lenyap dari pandangan. Pedang
kecil itu sekali lagi menancap begitu mantap ke dadaku. Tenggorokanku tercekat.
Dan sekali lagi kusaksikan darahku mengalir. Sejak saat itu dan barangkali
untuk selama lamanya aku telah tenggelam dalam ruang kegelapan.

Rawamangun, April 2003

catatan :
zuihitsu = catatan esai yang ditulis berdasarkan kesan yang menarik.

zazen= meditasi

========================================
Pengirim : Donny Anggoro
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone