Menurunkan berat badan yang berlebihan itu sangat baik. Sayangnya, banyak orang memilih jalan pintas menggunakan obat obatan penurun berat secara tidak semestinya. Akibatnya, bukan berat badan yang turun, tapi berbagai penyakit
malah hinggap, termasuk gagal ginjal.

Siapa yang tidak ingin langsing? Tubuh model yang langsing dipajang di mana mana, seolah olah menjadi satu satunya patokan, sehingga yang sudah kurus pun tetap merasa dirinya belum seramping mereka. Contohnya Felly, karyawan bank swasta yang sebetulnya sudah memiiki tubuh ideal. “Ah, masih gemuk nih, belum seperti Kris Dayanti,” ujarnya beberapa bulan lalu. Berbagai cara pun ditempuhnya supaya bisa bertubuh ramping. Karena ingin mendapat hasil yang
cepat, Felly memilih obat bebas yang katanya bisa menurunkan berat badan dalam waktu singkat. Merasa timbangan badannya bergerak turun tapi lambat, ia mulai konsultasi ke dokter. Obat penurun berat pun diangsurkan oleh sang dokter.
“Sebenarnya dokter sudah menuliskan resep yang sesuai, tapi saya ingin cepat melihat hasilnya. Maka, saya naikkan sendiri dosisnya. Harusnya sekali sehari, menjadi tiga kali dua tablet setiap hari,” ungkapnya. Memang berat badannya
segera turun, tapi akibatnya ia gagal ginjal.

Pengalaman serupa juga terjadi pada Poppy, sebutlah begitu namanya. Ibu dua remaja ini rupanya menjadi kurang percaya diri ketika mendapati dirinya mulai menua dan sedikit lebih gemuk.

Mulailah ia menjadi langganan salon kecantikan dan dokter ahli gizi untuk memperbaiki berat badannya. Dan kedua sumber itu ia mendapatkan obat. Dokter memberinya obat sesuai aturan, juga salon kecantikan yang sangat diragukan kepakarannya dalam urusan diet itu. Poppy memadukan obat dan kedua sumber itu
dengan porsi berlebihan pula. Seperti halnya Felly, beberapa waktu kemudian Poppy akhirnya justru harus berurusan dengan rumah sakit karena mengalami kerusakan ginjal.

Obat Tiroid

Menurut Dr. Walujo Soerjodibroto, Sp.G. Ph.D., dokter spesialis gizi dari FKUI, selain karena dosis yang ditambah, penggunaan obat obat yang bukan untuk diet juga bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal. Terlebih bila sebelumnya orang yang
minum obat tersebut sudah bermasalah dengan ginjalnya, Tiga bulan pemakaian bisa kena ginjal. Tapi, kalau yang normal, sekitar lima tahun baru ketahuan.”

Sejauh ini, Dr. Walujo melihat kalau penggunaan obat diet yang tidak benar turut menyumbang terjadinya kejadian penyakit ginjal. Meskipun data pasti tidak dapat diketahui, beberapa pasien yang pernah ditemui mengaku kalau ginjalnya rusak
gara gara penggunaan obat penurun berat badan.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Dr. Rully Roesli, Sp.PD KGH, konsulen ginjal hipertensi. Menurutnya, kasus penggunaan obat diet memang bukan faktor utama penyebab kerusakan ginjal yang selama ini ada.

“Tapi, ada obat yang menyebabkan gagal ginjal, seperti yang pernah saya temui waktu sekolah di Belgia. Gara garanya mereka mengonsumsi obat penurun berat badan,” ujar direktur umum RS Khusus Ginjal Ny. R.A. Habibie, Bandung ini. Pada
waktu itu pemerintah Belgia segera melarang penggunaan obat tersebut.

Untuk Indonesia, diakui para pakar bahwa penggunaan obat diet kadang tidak
terkontrol. Sebabnya, pasien tidak mengikuti petunjuk dokter dan pihak yang tidak berwenang malah turut mengurusi penurunan berat badan.

Ada beberapa obat yang diberikan kepada pasien seperti tiroksin, yaitu hormon untuk tiroid. Padahal, sesuai dengan fungsinya, tiroksin mestinya hanya
digunakan untuk orang orang yang kekurangan hormon tiroid. Efek yang diberikan oleh tiroksin ini memang bisa menurunkan berat badan.

“Tiroksin ini membuat pembakaran energi lebih banyak. Tapi, ini sama artinya dengan memberi penyakit pada orang tersebut,” ujar Dr. Walujo. Inilah yang disebutnya sebagai obat yang bukan untuk menurunkan, tapi mempunyai efek
terhadap berat badan.

Maksimum Empat Kg

Selain tiroksin, masih banyak obat lain yang juga berefek sama. Obat obatan yang dikatakan Dr. Walujo dapat membuat fly, seperti ecstasy atau amfetamin, juga memberi pengaruh serupa. Obat obatan jenis ecstasy akan membuat orang sulit
tidur. Karena tidak bisa tidur, pembakaran energi pun akan berjalan terus. Karena itu, obat obatan jenis ini tidak dianjurkan, malah dilarang keras.

Amfetamin bisa mempengaruhi ginjal. Dijelaskan oleh Dr. Rully, amfetamin dapat menyempitkan pembuluh darah. “Dengan begitu, darah yang bergerak ke ginjal juga akan berkurang. Akibatnya, ginjal akan kekurangan asupan makanan,” paparnya.

Sebenarnya penggunaan obat penurun berat badan tidak akan berdampak seperti itu bila jenis dan dosisnya sesuai dengan yang diberikan oleh dokter. Biasanya obat diet yang diperbolehkan itu adalah yang berfungsi mengurangi nafsu makan,
merangsang pembakaran lemak, dan menghambat penyerapan minyak dalam batas tertentu.

Setidaknya efek pengurangan berat badan yang terjadi adalah sekitar 3 4 kg per bulan. Semua jenis obat seperti ini tentu saja harus sesuai dengan resep dokter, dengan penggunaan antarindividu yang berbeda.

Yang harus diwaspadai adalah bila terjadi penurunan berat badan lebih dari empat
kg dalam satu bulan, obat yang digunakan sudah pasti tidak benar. “Atau kalau dokter menawarkan penurunan berat badan lebih dari empat kg dalam sebulan, ia pasti memakai cara yang tidak wajar,” sebut Dr. Rully.

Waspadai Pencahar

Obat penurun berat badan sesungguhnya tidak hanya yang diresepkan oleh dokter. Ada banyak obat bebas lain yang juga mudah dijumpai di pasaran. Sayangnya banyak orang menyalahgunakan penggunaan obat tersebut. Sebut saja beberapa obat yang mengandung pencahar ataupun diuretik. Bila digunakan terus menerus dan tanpa pengawasan atau konsultasi dengan dokter, penggunanya dapat mendenta penyakit ginjal atau liver.

Obat yang mengandung jati belanda misalnya, dapat membuat diare karena fungsinya memang sebagai pencahar. Sesuai dengan fungsinya, obat tersebut mengakibatkan tidak terbentuknya tinja atau feses. Kotoran menjadi encer dan penyerapan
makanan terganggu.

“Zaman dulu obat pencahar diberikan enam bulan atau setahun sekali bila ada masalah. Hal ini dimaksudkan supaya usus bersih terus,” katanya.

Hanya saja, obat pencahar ini sekarang diperlakukan secara berbeda, menjadi bahan yang dikonsumsi harian. “Ada satu pasien yang menjalani cuci darah hanya karena ia menggunakan obat urus urus ini,” kata Dr. Walujo. Yang sering terjadi, penggunaan obat obatan seperti itu tidak hanya untuk satu dua, melainkan
berhari hari, bahkan sampal hitungan bulan dan tahun. Bayangkan saja, apa jadinya bila setiap hari tubuh dipaksa untuk diare?

“Usus tidak punya kesempatan untuk meregenerasi. Hasilnya, dinding dan jonjot
usus akan mengalami kemunduran,” ujar Dr. Walujo. Iritasi pada usus besar juga dapat terjadi. “Bahkan beberapa penelitian menyebutkan terjadinya kanker pada usus.” Inilah efek berantai yang akan terjadi sampai akhirnya bisa menimbulkan kerusakan pada ginjal.

Penggunaan obat pencahar, seperti diutarakan Dr. Walujo, haruslah hati hati. Sebab, bila terjadi urus urus atau diare terus menerus akan menyebabkan
kemunduran jonjot usus.

Pelancar Kencing

Selain pencahar, obat jenis diuretik atau pelancar kencing juga berpengaruh terhadap kesehatan ginjal. Bila digunakan tidak wajar, air yang dikeluarkan terus menerus akan membuat ginjal kering dan rusak. Ginjal yang banyak
terbebani, apalagi kalau sudah rusak, juga akan mengganggu liver. Pada akhirnya, kerusakan yang terjadi akan terus merembet ke berbagai tempat.

Dr. Walujo menyarankan untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu bila ingin
menurunkan berat badan. Obesitas terjadi biasanya akibat asupan energi lebih banyak daripada yang dikeluarkan.

“Melakukan aktivitas fisik yang banyak membakar energi harus lebih sering dilakukan bila ingin langsing. Asupan makanan juga harus dikontrol. Penggunaan obat obatan sebenarnya hanya diberikan bila obesitas yang dialami oleb pasien
sudah membahayakan kesehatannya,” katanya

========================================
Pengirim : Barry Kusuma
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone