Selepas Isya, bayi itu mulai menangis. Suaranya merambat dalam udara gelap malam menyusuri relung relung tak bercahaya menuju sudut sudut persimpangan perasaan manusia. Kemudian suaranya menjalar memasuki halaman rumah disekitarnya dan mengetuk pintu hati para penghuninya. Sardi, sang ayah dan istrinya berusaha untuk menenangkannya. Tapi belum juga berhasil. Susah dihentikan. Biasanya digendong sambil dielus elus kepalanya dan diberikan mainan dia langsung tenang, diam, bahkan sampai tertidur.

Orang yang mendengarnya merasa khawatir. Para tetangga dekat datang ikut membantu menenangkan sang bayi. Segala macam cara ditempuh. Sedetikpun belum bisa menghentikan tangisan itu. Seolah olah bayi itu ingin menumpahkan seluruh air matanya hingga menggenangi kegalauan hati kedua orang tuanya, menggenangi iba orang orang yang mengelilinginya dan menggenangi belas kasihan yang tulus.

Malam semakin larut dan dingin, tangisan itu belum juga mencair. Entah apa penyebabnya, semua tidak ada yang tahu, termasuk juga kedua orang tuanya. Suara tangisnya cukup keras dan nyaring membentur hawa dingin malam dan membelah kesunyian.

Sardi dan istrinya, serta para tetangganya, mulai sedikit putus asa. Semua kasihan pada bayi itu. Tak tega kalau bayi itu harus terus menangis tanpa sedetikpun berhenti. Kini yang ada di dalam kamar hanya bisa menatapnya yang dilentangkan di atas pembaringan. Menangis dan meronta ronta. Bajunya berbandikan keringat. Wajahnya basah dipenuhi butiran butiran air mata. Air mata yang membawa kedua orang tuanya terus terjaga. Air mata yang mengundang para tetangganya hadir dan berkumpul pada waktu yang sangat luar biasa. Semuanya terkalahkan oleh tangisan itu.

Dia tetap tidak akan pernah mengerti, kenapa dia menangis dan untuk apa dia menangis. Tentu saja, jika dia mengerti maka tak akan menangis sampai begitu jauh meninggalkan kegembiraan, meninggalkan keputusasaan orang yang ada disekitarnya. Dan apakah sang bayi bisa merasakan kesedihan dari tangisannya. Semua tidak ada yang tahu kecuali tangisan itu sendiri.
Seolah menemani nyanyian nyanyian binatang yang bersembunyi dibalik gulita malam, tangisan sang bayi menjadi pelengkap. Bagi orang bernyali kecil, tangisan itu akan mengundang rasa takut. Betapa tidak, jika didengar dengan jiwa yang hampa dan ditemani kesunyian dan kegelapan malam, perasaan seolah akan terbawa oleh suara tangisan itu menembus batas batas keberanian. Dan disitulah awal ketakutan itu mulai merangkak masuk melalui pori pori kulit, lalu masuk dalam aliran darah. Dan sedikit demi sedikit menyebar ke seluruh organ tubuh. Hingga sekujur tubuh merasakan datangnya rasa takut.

Semua yang berkumpul sepakat, untuk minta tolong Wak Samir. Seorang sesepuh warga yang tinggal belahan timur kampung itu. Seorang tua yang disegani dan berpengaruh. Biasanya dia selalu dimintai bantuannya, apapun permasalahannya dan entah dia bisa menolong atau tidak itu bukan urusan. Berangkatlah dua orang untuk meminta bantuan Wak Samir.

Tetangga Sardi semakin banyak saja yang datang, mereka saling memberitahu satu sama lain. Tangisan bayi itu telah mengundang para tetangga Sardi untuk berkumpul. Mereka juga kasihan pada Sardi dan istrinya. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak selain menemani kebingungan Sardi. Dan suasana di rumah Sardi berubah menjadi ramai. Ramai sekali, seperti akan ada hajatan esok paginya.

Mereka tidak menyalahkan Sardi, mereka mengerti perasaan Sardi, mereka peka terhadap sesamanya yang sedang dibebani kesulitan. Meskipun sebenarnya tangisan sang bayi telah menganggu istirahat mereka. Menganggu kenyamanan mereka. Tapi sebaliknya mereka dengan ikhlas hadir disitu sebagai bentuk solidaritas. Ya, solidaritas yang tanpa mengenal waktu. Solidaritas yang tanpa kenal materi. Solidaritas yang tak pandang bulu. Mereka berhasil menyingkirkan rasa egonya masing masing. Semuanya rela, ikhlas. Bahkan diantara mereka ada yang secara sukarela membawakan makanan dan mainan untuk sang bayi.

Selang beberapa lama, Wak Samir datang. Ia langsung masuk ke kamar sang bayi berada. �Tolonglah anakku ini Wak, kasihan dia�. Wak Samir tidak menjawab ia hanya menganggukan sedikit kepalanya. Kemudian dia mendekati bayi itu, di tatapnya dalam dalam. Wak Samir mengusap kepala bayi itu beberapa kali, dan berkata, �Kasihan kau nak. Tenanglah. Coba lihat orang orang yang ada disini, semuanya kasihan padamu. Tenanglah�.
Wak Samir terus berusaha menenangkan bayi itu. Sesaat suara tangis bayi itu merendah, seolah bisa merasakan wibawa Wak Samir yang begitu besar. Mata bayi itu menatap Wak Samir, seakan akan ingin mengenal sipa orang Wak Samir.

Sardi kemudian mengelap air mata yang membasahi muka bayi itu. �Ya, mudah mudahan tangisannya berhenti sebentar lagi�, ucap salah seorang tetangga Sardi yang ada disitu. �Benar, kasihan dia, tentu sangat kelelahan�.

Wak Samir terus mengusap ngusap kepala bayi itu sambil bernyanyi ala kadarnya. Beberapa saat kemudian, diluar dugaan semuanya, tangisan yang tadi mulai mereda, kini kembali nyaring. Sang bayi meronta ronta. Walaupun Wak Samir masih berada disampingnya. Sang bayi menangis kembali dan Wak Samir tak bisa berbuat banyak.

Sang bayi menangis, kehadiran Wak Samir disampingnya kini tidak berpengaruh lagi. Istri Sardi sampai tergolek lemas, hampir saja ia tak sadarkan diri, ia sudah tidak mampu lagi bertahan, dan hanya bisa pasrah. Pasrah menerima segala keadaan yang menimpa bayinya.
�Apa yang terjadi pada bayi ini sebenarnya�, ucap salah seorang yang hadir disitu sambil menggelengkan kepalanya. �Aku baru menemui kejadian seperti ini, rasanya sulit untuk dipercaya�, timpal yang lainnya. Wak Samir kini hanya bisa bergabung dengan yang lainnya. Duduk di sisi sisi ruangan yang hanya disinari lampu pijar. Menatap kearah bayi itu, sambil menerawang menyelami perasaan orang orang yang ada disitu.
Hampir dua pertiga malam bayi itu menangis. Embun peralah lahan turun membawa hawa dingin.

Sayup sayup terdengar suara alunan musik bambu yang membentuk irama yang tak beraturan. Makin lama makin enak didengar dan suaranya semakin nyaring menenggelamkan suara suara binatang malam yang sudah mulai kelelahan.

Seiring suara alunan musik bambu itu, terlihat bercak bercak cahaya obor yang semakin lama semakin terang. Dan akhirnya rombongan yang tak lain adalah para peronda yang mulai keliling dengan membawa alat musik bambu sederhana semodel calung , tiba di halaman rumah Sardi. Suasana semakin ramai, cahaya obor menerangi seluruh halaman rumah. Menerangi kegelisahan hati, menyinari harapan yang tertimbun keputusasaan.

Musik bambu terus mengalun, Sardi kemudian membuka jendela kamar. Suaranya kini merambat memasuki ruangan kamar dengan sangat jelas, memasuki sudut sudut rumahnya, kemudian memasuki relung relung telinga, dan mengalir dalam darah lalu menusuk ke dalam hati pendengarnya.

Para peronda kemudian mendekati Sardi yang berdiri di balik jendela. Begitu para peronda berada persis di depan jendela, suara tangis bayi berhenti dan hening. Sardi langsung bergegas mendekati bayinya.

�Alhamdulillah�, ucapnya. Bayi itu terdiam, pandangannya menerawang jauh menembus atap rumah, hingga batas yang tak dikenalnya. Sardi kemudian mengendong bayinya dan mendekati jendela yang masih menganga dengan para peronda yang memainkan musik bambu berada dibaliknya. Musik bambu mengalun. Tangis bayi berhenti. Dan semuanya gembira.

Para peronda itu serentak menghentikan musik bambunya, ketika Sardi berada di dekat jendela. Tapi, serentak saja bayi itu menangis kembali. Semua kembali terkejut. Musik bambu berhenti. Dan bayi menangis kembali. �Dia berhenti menangis karena mendengar alunan musik bambu itu�, ucap salah seorang yang ada disitu.

Sardi meminta para peronda untuk kembali memainkan alunan musik bambu itu. Musik bambu mengalun. Dan tangis bayi berhenti. �Benar, rupanya alunan musik bambu itu menghentikan tangisanku�, ucap Sardi yang kini merasa yakin. Musik bambu terus mengalun. Dan tangis bayi berhenti.

Sardi meminta para peronda masuk ke dalam. Dan memainkan musik bambu diruangan kamar. Musik bambu mengalun. Dan sang bayi terdiam. Dia seperti menikmati alunan musik bambu itu. Sekarang yang ada di ruangan itu merasa lega, gembira, seperti telah selesai menunaikan pekerjaan besar yang sangat berat dan melelahkan.

Musik bambu mengalun. Dan sang bayi masih terdiam. Iramanya menyentuh kalbu dan mendinginkan pikiran. Membawa perasaan hanyut dalam aliran nada nada. Tak seorangpun bersuara, yang terdengar hanyalah alunan musik bambu. Dan sang bayi terdiam.

Sang bayi akhirnya tertidur dengan sendiri. Meninggalkan semua yang hadir disitu. Wajahnya tampak tersenyum, seperti tak ada penyesalan karena tangisan telah mengundang banyak orang datang ke rumahnya. Musik bambu mengalun. Sang bayi tertidur.

Semuanya gembira, Sardi dan istrinya tak kuasa menahan air mata. Dan Musik bambu mengalun. Sang bayi tertidur. Dan Adzan Subuh berkumandang.

========================================
Pengirim : A. Kuntov
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone