Kubuka mata dan kutatapi langit langit putih kamarku.Alhamdulillah, Alloh
masih memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmari hari pertama di bulan
suci ini. Setahun lalu, terbersit khawatir, akankah aku akan berjumpa bulan
penuh rahmat ini ataukah saat tiba masa terindah sepanjang tahun ini, aku
sudah berpulang kembali, menemui Pemilik Jiwa dan Raga.

Suara suara sesuatu digoreng terdengar dari bawah, aku tersenyum itu pasti
Mbah yang sedang menyiapkan santap sahur, dan lalu kerinduan yang memuncak
begitu menyelimuti, kepada suara suara berisik ibu di kala sahur. Sungguh,
kerinduan begitu menggelayutiku..pada suara lembut ibu yang setia
membangunkanku, atau suara gedor pintu ayah yang sedang membangunkan adik
laki lakiku..dan pekerjaan paling aku senangi, membangunkan adik perempuan
bungsuku.dan itu adalah kenangan termanis dan yang selalu terkenang dalam
setiap ramadhan ramadhanku di kala jauh dari kampung halaman..

Kebersamaan sahur pagi masa itu terasa menyenangkan, tetapi kenangan itu
begitu erat di dalam ingatan.. dan dari kesunyian dalam keramaian waktu itu
samar samar dan dalam bayangan, sosok ibu yang sedang sibuk menghangatkan
makanan, lalu sosok adik kecilku yang masih malas malasan di meja makan.dan
adik laki laki satu itu pasti akan datang terakhir tatkala sahur bersama
telah selesai.”kan sunnah Rasul, mengakhirkan sahur”..argumen itu selalu
jadi senjata andalannya.dan itu yang membuatku selalu tertawa
mengingatnya..

Mungkin benar, bila sesuatu akan terasa begitu indah dan berarti di kala
kita sudah jauh darinya.semakin jauh dari sesuatu itu akan semakin betapa
kita sadari bahwa semua itu telah berlalu dan tak akan kembali.
Kenangan kenangan yang berawal dari hal hal kecil dan sepele, tatkala jauh
hari kita mengenangkannya, ia akan jadi semanis madu. Waktu terus berputar
dan berputar, ia takkan lelah memutarkan roda kehidupan hingga Sang Pemilik
Waktu menghentikannya.

Aku jadi menyadari sesuatu bahwa begitu berat tugas seorang ibu rumah
tangga. Di pagi dini hari begini harus sudah bangun menyiapkan makanan,
sedangkan panggilan Rabb nya juga tiada boleh ditinggalkannya. Di kala orang
serumah masih larut dalam buai mimpi indah malamnya, seorang ibu tidaklah
boleh ikut bermalas malasan. Asap dapur pun adalah teman setia pertamanya,
tetapi dzikir adalah juga harus jadi teman utamanya. Kelelahan adalah rasa
fitrahnya, tapi kesabaran dan kelembutan adalah hal utama yang harus
dijadikan senjatanya, saat sulit membangunkan putra putrinya, saat cucian
piring begitu menumpuk dan rindu pada usapan halus tangannya, saat masalah
demi masalah bertubi tubi datang mengujinya…dari yang sepele hingga yang
begitu menggelisahkan hati.

“Ibu, maafkan putramu ini yang tiada sanggup membantumu dalam kesibukan
ramadhan kali ini..”

Tiada kenangan yang akan habis tentang sebuah nama, “ibu” dan tiada hati
yang akan pernah terputus dari ikatan hati ibunya. Tiada kerinduan yang
pudar dari kerinduan kepada ibu, dan tiada suara seindah suara lembut ibu di
telingaku, serta tiada cinta setulus cinta ibu.

Ramadhan kali ini, aku begitu jauhnya dari ibu dan hatiku begitu rindunya
kepadanya.

Ramadhan selanjutnya, akankah aku akan ada di dekat ibu atau saat itu aku
telah mempunyai dunia lain yang berbeda dari dunia yang sedang aku jalani
kini dan kenangkan dulu, sebuah dunia yang sungguh masih merasa takut untuk
menemuinya.

Ya Rabb, seandainya Engkau mengambil semua yang kucintai di dunia ini,
tegarkanlah hatiku, dan cukuplah hati dan perasaanku bila Engkau
mencintaiku.

Ya Rabb, seandainya segala yang kusayangi dan kusenangi di dunia ini Engkau
jauhkan dariku, tabahkanlah hatiku, dan cukuplah kebahagiaanku bila Engkau
ada did ekatku.

Bdg, 1 Ramadhan 1242 H

========================================
Pengirim : Dik Asih
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone