Rembang – rembang merah merekah merayap di ufuk timur. Kicauan burung menggugah pagi. Sejuk dan sepi pagi itu. Perempuan – perempuan berpakaian dan berkerudung serba putih berlalu lalang di teras rumah sakit. Suara – suara sepatu perempuan itu beradu dengan lantai memecah sepi.
“ Bapak tidak sakit apa – apa , “ kata dokter yang setiap pagi datang menjenguk Pak Rompas di kamarnya. Sudah tiga hari ini Pak Rompas hanya terbaring di tempat tidur rumah sakit. Tidak jelas penyakitnya. Tapi Pak Rompas bersikeras bahwa ia sedang mengalami sakit yang begitu parah. Dan semenjak itu pula Pak Rompas tidak masuk kerja. Biasanya, pagi – pagi benar ia telah duduk di belakang setir mengantar Pak Ignas ke kantor.
“ Tidak, Dok Saya benar – benar sakit ,” bantah Pak Rompas.

“ Tapi saya tidak menemukan penyakit apa pun dalam tubuh Bapak. Kalau memang Bapak sakit, yang dapat menyembuhkan penyakit Bapak, ya Bapak sendiri dan juga orang – orang yang berada di sekitar Bapak Nah, sekarang Bapak pulang saja ,” jelas Dokter memberi alasan. Tapi Pak Rompas tidak bergeming sesenti pun dari tempat tidurnya. Ia tetap terbaring lesu di tempat tidur. Wajahnya murung dan tampak pucat.

“ Atau mungkin sebenarnya Bapak memiliki suatu masalah yang tak terselesaikan. Saya siap membantu Bapak, jika diperkenankan ,” lanjut Dokter. Pak Rompas sedikit beringsut dari posisi semula. Ia duduk di tempat tidur dan mencoba mencari sandaran. Dokter berdiri di samping ranjang Pak Rompas.

“ Begini, Dok , “ kata Pak Rompas membuka pembicaraan. “ Memang dokter benar, saya tidak sakit apa – apa. Tapi sebenarnya saya sungguh merasa sakit yang teramat parah. Saya selalu dibohongi oleh semua orang yang ada di sekitar saya. Karena saya dapat mendengarkan setiap suara hati orang. Bahkan yang tersembunyi jauh di lubuk hati orang. Dan parahnya, suara yang keluar dari mulut mereka justru berkebalikan dengan apa yang ada dalam hati mereka. Segala omongan mereka tidak sesuai dengan kata hatinya. Mereka berbohong Mereka dusta Bahkan isteri saya, anak – anak saya pun bohong pada saya ,” cerita Pak Rompas. Matanya berkaca – kaca. Air matanya tak tertahan. Ia pun menangis menitikkan air mata.

“ Sa…saya tidak tahan, Dok Makanya saya memilih untuk tinggal di rumah sakit. Saya ingin keluar dari semua kebohongan. Segala kedustaan yang saya dengar,” lanjut Pak Rompas terbata – bata. Kedua tangannya menutupi matanya. Menahan air matanya. Namun ia tak kuasa lagi membendung segala kesedihannya.
“ Baiklah Pak Rompas ,” kata dokter menyela. “ Kalau itu persoalannya, sebaiknya Pak Rompas justru jangan lari dari semua itu. Saya tahu Pak Rompas menderita dengan itu semua. Tetapi itulah kenyataannya. Sulit di jaman sekarang ini mencari orang – orang yang jujur. Yang berkata dan bertindak sesuai dengan kata hatinya. Sangat sulit, Pak Ada baiknya Pak Rompas menjelaskan semua itu pada orang di sekitar Bapak. Saya yakin suatu saat mereka pasti mengerti. “ saran Dokter sambil menepuk – nepuk pundak Pak Rompas.
“ Baiklah…, tapi, Dok Saya masih boleh tinggal di sini kan ? Ya…barang sehari atau dua hari ,” pinta Pak Rompas. Tangannya mengusap air mata yang sedari tadi berlinang membasahi pipinya yang sudah mulai berkerut.
“ Silakan saja, Pak ,” jawab dokter singkat. Dokter pun pergi meninggalkan Pak Rompas sendirian.
Sepeninggalan dokter, Pak Rompas kembali sendiri. Sepi kembali menggelanyut. Hanya rintihan – rintihan orang yang terdengar. Dan suara – suara perawat yang sedang menemani pasiennya.
Ia bimbang. Angannya terbang melayang membayangkan mulut – mulut yang berkata kata mengeluarkan suara dan aroma kebohongan. Mulut isterinya, mulut anak – anaknya, dan mulut Pak Ignas yang selalu menebarkan bau kedustaan. Dan ia ketakutan mendengarkan itu semua. Mendengar bau – bau kebohongan.
Pak Rompas mendengar isterinya yang berpamitan akan ikut arisan di rumah tetangga, tetapi telinganya mendengar kata hati isterinya yang akan pergi dengan lelaki lain ke sebuah villa di luar kota. Isterinya telah selingkuh. Mengkhianati janji perkawinan yang diucapkannya di depan altar dua puluh tahun yang lalu. Suara hati isterinya tak dapat berbohong, dan Pak Rompas mendengar itu semua. Sakit hati Pak Rompas mendengar kata hati isterinya.
Anak – anaknya yang meminta uang untuk membeli buku ini itu, tetapi sebenarnya Pak Rompas mendengar uang itu akan digunakan untuk nonton film di bioskop dan pergi ke kafe dengan teman – temannya. Semua kata hati anaknya itu, terdengar dengan jelas di telinganya.
Pak Ignas yang selalu bercerita keberhasilan – keberhasilannya atau keberhasilan anak – anaknya. Padahal sejatinya, hati Pak Ignas sungguh sedih. Melihat anaknya yang pertama harus masuk ke panti rehabilitasi lantaran kecanduan obat – obatan terlarang. Dan anaknya yang kedua harus nikah dalam usia yang masih muda karena menghamili seorang gadis teman kuliahnya. Tapi semua yang keluar dari mulut Pak Ignas sangat berkebalikan dengan apa yang sesungguhnya ada dalam hati Pak Ignas.
Semua kebohongan itu terdengar jelas oleh telinga Pak Rompas. Seperti ia mendengarkan orang berkata – kata. Gelombang – gelombang suara hati berlomba menelusup masuk ke dalam rongga telinganya. Menggetarkan gendang telinganya. Dan ia mendengar itu semua. Namun ia hanya sanggup mendengarkan saja. Ia tak mampu mencegah kebohongan dan kedustaan itu.
Pak Rompas membayangkan besok ia harus bertemu lagi dengan kebohongan – kebohongan. Segala kedustaan yang mengalir seperti air dari mulut orang di sekitarnya. Bahkan dari orang – orang yang selam ini ia cintai. Isterinya, anak – anaknya. Ia merasa tak sanggup mendengarkan itu semua. Ia lebih nyaman tinggal di rumah sakit. Mendengar kicauan burung setiap pagi. Suara – suara perawat yang dengan tulus hati memperhatikan mereka yang kesakitan. Rintihan dan teriakan orang menahan sakit. Suara – suara kejujuran orang – orang yang lemah tak berdaya berbaring di rumah sakit. Ingin rasa ia tinggal selamanya di sini.
“ Ah…enak ya… menjadi orang yang tuli. Tidak mendengar apa pun. Tidak mendengar kebohongan, kedustaan orang – orang,” kata Pak Rompas dalam hatinya.
“ Atau lebih enak lagi kalau tidak punya telinga sekalian ,” lanjut kata hatinya.
Keesokkan paginya, dengan hati yang bimbang Pak Rompas mengemasi barang – barangnya. Dilangkahkan kakinya menuju pintu gerbang rumah sakit. Kaki seakan terasa berat meninggalkan rumah sakit. Ia tahu di luar, ia akan bertemu dengan orang – orang yang selalu mengeluarkan aroma – aroma kebohongan dan segala kemunafikan dari mulutnya. Tapi itulah kenyataan, yang mau tidak mau harus dihadapi olehnya.

Mangunjaya, 13/01/05
Y.PRAYOGO

========================================
Pengirim : y. prayogo
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone