Sudah berjam jam pengarang Manhad duduk di depan komputer. Tapi sungguh, tak ada satu cerita pun yang berhasil ditulisnya. Keterlaluan, desisnya. Masak seorang tukang cerita seperti aku tidak bisa menulis? Sontoloyo.

Aku harus bisa. Bisa Harus ada kisah hari ini. Besok jam sepuluh pagi naskahnya harus sudah disetor. Sesungguhnya sudah tiga hari yang lalu ia mendapatkan order untuk menulis sebuah cerita pendek. Bukan cerita pendek biasa.

Soalnya kawan redaktur, pemesan cerita pendeknya juga bukan dari majalah atau koran biasa. Redaktur kawan pengarang Manhad bekerja di sebuah majalah kebudayaan bergengsi yang berani membayar tinggi honor penulisnya. Bahkan bisa dibilang honornya paling tinggi untuk menulis cerita pendek di kota tempat tinggalnya yang sumpek dan panas ini.

Mendengar tawaran ini pengarang Manhad langsung menyetujui. Apalagi sudah beberapa lama ia tidak menulis lagi. Pengarang Manhad sadar dirinya memang belum begitu dikenal. Tapi sel sel kecil kelabunya berseru tawaran ini tak bakal datang dua kali. Namanya akan segera melesat tercantum sebagai penulis papan atas jika naskahnya berhasil dimuat di situ, di samping honornya yang cukup besar bakal menghidupi dirinya paling tidak selama sebulan.

Apalagi sang redaktur, kawannya sendiri bekas teman kuliahnya yang menawarkan. Ini tawaran bagus, pikir pengarang Manhad.

Tapi, sial. Setelah pulang ke kamar kosnya yang sempit ia menemui hard disknya error seperti sedang merengek rengek minta pensiun. Tak hanya itu, naskah naskah cerita pendeknya yang lama musnah seketika luluh lantak diterkam virus. Untung berkat bantuan seorang kawan yang rela dibayar dengan makan siang, komputernya masih bisa bekerja kembali.

Sayang seribu sayang, kegembiraan itu hanya berlangsung sekejap. Hard disknya yang sudah terbilang tidak up to date lagi sudah terlampau lelah menyimpan lautan bit.

Berjam jam sampai berhari hari pengarang Manhad merutuki nasib sialnya. Separuh dari kekayaan ide idenya yang paling pribadi telah musnah. Mau tak mau pengarang Manhad harus membuat sebentuk kisah kisah baru lagi sebelum kawan redakturnya berubah pikiran.

Hari hari terus berlalu. Karena masih terus memikirkan nasib sialnya, tak ada satu kisah pun yang lewat di kepala pengarang Manhad. Kumpulan kliping tulisan tulisannya yang pernah dimuat di koran dan majalah pun tak banyak membantu untuk memancing ide.

Terbayang tawaran kawan redakturnya itu, “Majalah ini tidak mau memuat cerita pendek biasa. Kau punya kesempatan bereksperimen seluas luasnya, seedan edannya. Memang sepertinya aku salah satu juri yang punya suara. Tapi aku tidak sendirian,�
Pengarang Manhad linglung.

Pengarang Manhad tidak stabil. Pengarang Manhad putus asa. Waktu tinggal sehari lagi naskahnya harus disetor. Alamak Pengarang Manhad tak tahu harus berbuat apa. Di telepon ketika sedang mengeluh kawannya menghibur, “Sudahlah, semua orang siapapun dia pasti pernah mengalami writer’s block,� Writer’s block…celaka. Jadi

aku sekarang sedang mengalami writer’s block? Oh

Untuk menghilangkan sejenak nasib sialnya
pengarang Manhad pergi ke toko buku. Beberapa toko buku langganannya dikunjungi. Nihil. Tak ada satu pun buku buku yang menarik perhatiannya. Membeli buku buku saja uang tak punya. Ia sadar harus berhemat demikian keras kalau masih mau bertahan. Perpustakaan di kampus tak ketinggalan.

Kawan kawannya yang masih kuliah dan sekiranya punya kartu anggota perpustakaan didatanginya. Barangkali masih ada harapan.
“Wah, kartu perpustakaanku sudah lama hilang,�
“Kartuku sudah habis masa berlakunya. Kamu sih terlambat baru mau pinjam sekarang…�
“Hmmh, bagaimana ya? Aku sudah lama nggak ke kampus. Kartuku sudah hilang nggak tahu kemana…Malu ketemu teman teman senior. Apalagi skripsiku nggak selesai selesai,�

“Pergi ke kampus lagi? Aduh, yang lain saja, ya? Malu nih ke kampus. Aku harus mengulang lagi di semester ini. Lagipula aku ada pekerjaan lain di luar yang belum selesai,�
“Hmmh, bagaimana ya? Aku malah lagi cuti, nih. Dulu sih aku pinjam kartu perpustakaan pacarku…dan…�

Bagaimana dengan kawan kawan lainnya?
“Wah, nggak tahu tuh. Dia pergi nggak pamit,�
“Anda sedang terhubung dengan pelanggan kosong delapan satu dua lima delapan…�
“Maaf, sepertinya tidak ada di tempat. Ada pesan?�
“Nomor telepon yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi,�
“Wah, aku baru mau pergi ke luar kota. Seminggu lagi aku pulang. Maaf, ya.�
“Aku ada janji mendadak, nih. Besok saja, ya?�
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lagi,�

Pengarang Manhad pusing tujuh keliling. Dibongkarnya kembali perpustakaan pribadinya. Lagi lagi ia merutuk. Beberapa buku bukunya tak ada di tempat. Ia pun sudah lupa siapa yang meminjam. Pengarang Manhad lalu pergi ke rental video. Barangkali ada film film bagus yang bisa ditonton sebagai pemancing ide daripada pergi ke bioskop, di samping duitnya sendiri sudah mulai cekak.

Setibanya di tempat rental hati pengarang Manhad bersorak. Beberapa film film bagus menanti untuk ditonton. Tapi begitu pengarang Manhad sudah memilih dan menghadap kasir, petugas itu malah geleng geleng kepala.
“Wah, sudah banyak yang keluar, Mas. Belum dikembalikan,�

“Kapan saya bisa menyewanya?�
“Ya, paling paling tunggu dua atau tiga hari lagi. Maaf, ya, Mas.�
Zeg Jadi, berjam jam tadi aku mencari cari sekian banyak judul bahkan sampai rentalnya sudah mau tutup ternyata film film pilihanku dipinjam semua? Astagfirullah Sial betul aku

Lagi lagi pengarang Manhad merutuki nasib sialnya. Heran, kenapa kesialan kesialan itu datang bertubi tubi? Apa sih salahku? Apa dosaku? Pengarang Manhad merenung. Sudah cukup lama namanya sendiri tak terbaca di majalah atau koran. Bahkan belakangan ini pengarang Manhad malah terlibat pekerjaan pekerjaan aneh yang tak ada sangkut pautnya dengan bakatnya sebagai pengarang. Ironisnya, untuk beberapa pekerjaan pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga itu tidak ada kawan yang membayarnya dengan layak.

Kedengarannya memang tak masuk akal bahwa pengarang Manhad mau berbuat begitu, meskipun jelas ia sendiri perlu uang. Tapi, kata orang orang yang dikaguminya, para seniman seniman sering berbuat aneh aneh supaya kelihatan eksentrik. Apalagi beberapa kawan kawannya adalah pejuang pejuang idealis dan berani mati sering berbuat begitu seperti dirinya.

Pengarang Manhad tidak tahu kenapa ia mendadak jadi macet dan mandul. Pengarang Manhad jadi gelisah dan jengkel. Tiap kali ia mencoba menulis, pekerjaannya selalu terhenti di tengah jalan. Ada saja yang terjadi setelah hard disk komputernya meraung minta pensiun. Dan kini ketika pengarang Manhad mencoba mengulang, tetap saja ada jalan buntu yang tak pernah berhasil diterobosnya.

Pengarang Manhad lalu mengangkat kedua tangannya seraya membaca istighfar. Hari kiamat nampaknya sudah keburu datang pada profesinya sebagai pengarang. Dan, besok dengan sangat menyesal pengarang Manhad tak bisa memenuhi janjinya. Pupus sudah harapannya menjadi pengarang. Honor tak dapat, tulisan tidak jadi, kesialan melulu yang kian menghadang. Celaka. Celaka. Celaka.

Pengarang Manhad merenung. Pengarang Manhad telah lama memilih jadi penulis, mencoba setia sampai serela relanya jauh dari perhitungan logika akal sehat yang masuk akal. Tapi pengarang Manhad pantang menyerah. Memang, kawan kawan yang kira kira bakal menjadi tumpuan harapannya sedang tak bisa membantu. Dan, disinilah harga kreativitasnya sebagai pengarang sedang ditimbang timbang. Disinilah tantangan kreativitasnya sedang diuji. Sebuah lubang besar seperti sedang menanti di hadapannya. Berjalanlah atau kau akan terperosok dalam lubang besar itu. Sebuah guillotine nampak sedang menanti menebas kepalanya. Ini puncak karirmu, cetus pengarang Manhad kepada dirinya.

Sekarang, coba pikirkan yang baik baik saja. Lupakan nasib sialmu. Bagaimana kalau kamu terus bekerja? Dunia belum kiamat. Aku harus bisa, desis pengarang Manhad. Sebungkus rokok dan segelas kopi kental sudah disiapkan menemaninya begadang.

Belum cukup, ada dua kaleng bir di sebelah. Malam ini pengarang Manhad memantapkan dirinya untuk menulis. Yeah, menulis dan menulis.

Tiiing, jresss Sebatang rokok dibakar. “Untuk memulai anda hanya membubuhkan warna hitam di atas kertas putih,� kata Guy de Maupassant dalam sebuah tulisan. Ya, betul. “Kita tidak menulis dengan tujuan agar dipahami melainkan untuk memahami,� tambah C. Day Lewis. Wah. Berarti masih ada harapan. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih banyak waktu untuk berpikir lagi.

Tapi, bukan itu yang sekarang dikhawatirkannya. Bagaimana kalau waktunya sudah lewat naskahnya tidak jadi jadi juga? Sudah karyanya lama tak dimuat muat, bakalan tenggelam selamanya jadi penulis. Pernah ia dengar seloroh seorang kawan, menanggapi kegagalan karyanya yang selalu kembali ke alamatnya, jangan jangan kau sendiri sudah dilupakan karena terlampau sibuk ini dan itu…Celaka. Celaka.

Pengarang Manhad segera berlalu dari meja kerjanya. Direbahkan dirinya di atas kasur. Ditatapnya langit langit kamar sambil menerawang menghembuskan asap rokok. Kalau begitu aku harus mulai lagi dari awal, desis pengarang Manhad. Cobalah dahulu draft pertama. Pasti bisa. Oke, oke. Aku pasti bisa.

Tapi istirahatlah dulu. Barangkali nanti ia akan mengalami mimpi yang hebat hebat hingga seperti sinar lampu senter yang menyinari benaknya akan ada peringatan, “Hai, pengarang Tulislah ini � Ya, ya. Aku tidak boleh mengantuk, aku tidak boleh berhenti, desis pengarang Manhad.

Pengarang Manhad bangkit dari kasurnya. Ia duduk kembali di depan komputer. Jari jarinya mulai mengetik. Dalam beberapa jam jadilah draft pertama naskah cerita pendeknya. Ini cerita tentang seorang pemuda dan perempuan cantik, istri muda dukun sakti. Bukan sembarang dukun sakti, ia bahkan dianggap tokoh masyarakat di kampungnya. Istri muda sang dukun ternyata hidupnya tersiksa. Ia selalu mendapat siksaan selagi bercinta.

Tombak sang dukun memboikot tak mau bangun apabila ia tak memukuli terlebih dahulu istri mudanya. (Nah. Jadilah cerita action yang bagus, desis pengarang Manhad. Ada unsur sado masochisnya.) Padahal sang dukun adalah orang yang sangat dihormati si pemuda di kampungnya. (Wah, ini bakal jadi cerita yang seru.) Sang dukun adalah warga yang sangat dihormati, tokoh masyarakat yang selalu hidup dengan citra baik di mata warganya.

Bagus, ini bakal jadi sebuah pertentangan. Karena bersimpati pada cerita dan sedu sedan sang istri muda, si pemuda lalu mengajaknya kabur. Tak hanya itu, si pemuda berniat membongkar kebusukan sang dukun.

Dalam pelariannya mereka larut dalam percintaan yang membara.
Tubuh si istri muda diperlakukannya dengan hati hati. Kulitnya yang putih mulus bak pualam dielusnya dengan penuh cinta. Bau keringatnya yang harum menusuk pemuda itu hingga nafasnya terasa sesak dan mengencang ketika badannya melekat pada badan perempuan itu.

Seluruh tubuhnya dipanasi oleh darahnya yang mengalir demikian kencang dan kuat.

Perempuan itu lalu mendorong kepala pemuda itu ke bawah membawa mulutnya mencari cari buah dada yang ranum, yang kemudian mengeras di antara kedua bibirnya sementara tangannya yang lain meremas remasnya dengan halus.

Mereka lalu mengerang erang sehingga kemudian seperti dihempaskan tinggi ke atas dan bawah oleh ledakan ledakan besar yang memenuhi seluruh tubuh mereka. Pemuda dan perempuan itu kembali menaiki arus panas yang membawanya ke puncak puncak yang tinggi, lepas dari daya tarik bumi.

Baru menyelesaikan draft pertama pengarang Manhad menghentikan kisahnya. Ia ingin membacanya kembali dari awal. Setelah dibacanya kembali sambil memperbaiki ejaan pengarang Manhad kebingungan menyelesaikan kisahnya.

Aduh Kenapa jadi begini, ya? Tapi pengarang Manhad tidak putus asa. Pertama tama, tulislah dulu apa yang ada di kepala, batin pengarang Manhad. Ya, ya, ya. Maka ia melanjutkan lagi dengan draft kedua. Sebuah kisah yang lain.

Adalah kisah perselingkuhan antara perempuan muda bernama June. June adalah sosok perempuan muda yang punya karir cemerlang sebagai jurnalis. Suatu ketika, June bertemu dengan Fred, rekannya sesama jurnalis. Mereka bertemu ketika meliput peristiwa perang di Arnhem. Mereka saling bertukar informasi, bahu membahu dalam tugasnya sehingga terlibat cinta lokasi.

Pengarang Manhad lalu menggambarkan percintaan mereka di sebuah rumah kosong, ketika berlindung di tengah peperangan di Arnhem. Dalam perlindungan sementara itu dibawanya Fred ke dalam percumbuan panas membara. Fred tentu saja tak bisa menolak desisan June ketika June mulai menciumi dada Fred.

June yang cantik, mengagumkan dan sensual layaknya sebagai gadis idaman para dewa. Kulit tubuhnya yang lembut dan putih bak pualam menyeret gairah Fred.

Draft kedua itu selesai sampai di sini. Pengarang Manhad lagi lagi kehabisan akal untuk menyelesaikan draft keduanya. Pengarang Manhad putus asa. Jari jarinya hampir saja men delete kedua draft itu.

Mendadak ia teringat sebuah tulisan, “Jangan buang ide ide ke keranjang sampah,� Pengarang Manhad segera teringat awal mula ujung pangkal kesialannya, komputer rusak yang sudah menghancurkan seluruh naskah naskahnya pun bakal naskah yang belum selesai.

Pengarang Manhad tak jadi menghapusnya. Dibiarkannya kedua draft naskah itu.
Sekarang, coba baca lagi dari awal. Satu, dua, tiga. Yeah, untunglah semangatnya bermain masih berkobar kobar.

Setelah pengarang Manhad membaca kembali dua draftnya yang belum selesai dan tak berjudul itu, benaknya teringat pada kawannya, si redaktur.
“Pengarang Manhad, aku perlu cerita pendek yang hebat untuk edisi perdana Contemporaneos.

Terserah kamu mau bikin realis kek, mau yang aneh aneh kek. Panjangnya maksimal 20.000 kata dan aku perlu cepat,�

“Kapan?�
“Jumat pagi naskahmu harus sudah sampai di mejaku. Bisa nggak?�
“Bisa �

Tapi setelah pengarang Manhad membaca kembali kedua draft naskah itu, tak kunjung membuatnya puas. Oalah. Pengarang Manhad termenung. Dimatikannya komputer. Ditinggalkannya kamar kos. Aku mau cari angin dulu, lelah kepalaku memikirkan cerita, bisik pengarang Manhad.

Disambarnya kunci sepeda motor yang tergantung di tembok. Pengarang Manhad segera meluncur ke jalan menembus malam.

Kurang lebih dua jam pengarang Manhad menghabiskan waktunya berjalan jalan. Desakan zaman, batin pengarang Manhad, desakan zaman dari dunia yang semakin menciut oleh efisiennya komunikasi. Bola dunia sekarang sudah menjadi sebutir kelereng. Di tengah tengah masyarakat, keluh pengarang Manhad, kenapa menulis cerita pendek masih dianggap hanya dunia kaum remaja yang sedang menggelepar gelepar dalam gelombang birahi?

Anggapan ini memang tidak pernah diucapkan. Akan tetapi pengarang Manhad mengamati telah banyak orang orang dewasa terjulang namanya setelah tidak lagi menulis. Mereka telah menjadi pedagang besar, pejabat besar, penjahat besar, hakim besar, politikus, jenderal agung, presiden direktur, direktur multinasional, penari profesional, penyanyi pub, pegawai perusahaan bonafid dengan gaji besar sampai ada juga yang jadi kere gede….lantas, ya, lantas kenapa berhenti menulis? Kenapa?

Jadi, menulislah sekarang pengarang Manhad Tapi, pengarang Manhad tak bisa berkonsentrasi. Betapa tidak, sepulangnya dari berjalan jalan perkataan pedagang mie rebus di warung sebelah itu terngiang terus di kepala.

“Kemarin Marguerita datang ke sini,� katanya.
“O, ya?�
Pikirannya segera melayang pada kekasihnya, Marguerita. Tapi bukankah Marguerita sedang pergi ke luar kota?

“Dia menggandeng seorang lelaki.�
“Oh?�
“Wajah lelaki itu saya kira mirip kamu. Tadinya saya kira kamu, pengarang Manhad. Setelah saya kenakan kacamata ternyata bukan kamu. Tangannya, tangan lelaki itu menggandeng Marguerita seperti pengantin baru,�

Pengarang Manhad bengong. Pemilik warung itu tak mungkin bohong. Pengarang Manhad dan kekasihnya adalah langganan warung ini. Mendadak pengarang Manhad tergeragap. Apalagi setelah pemilik warung itu berkata lagi seraya berbisik,

“Mereka, ah, saya tak tega mengatakannya kepadamu. Mereka seperti pengantin baru yang belum bosan kawin,�
“????�
“Kau harus percaya apa yang baru saja saya lihat, kawan. Sebagai teman yang baik aku memberitahukannya.�
“Kamu yakin?�

“Yakin seyakin yakinnya. Mereka seperti pengantin baru yang belum bosan kawin,�
Emosi pengarang Manhad pun megap megap ketika pemilik warung itu menyambung, “Mengapa tak kau putuskan saja kekasihmu?�
Gila, memangnya gampang apa?

Pengarang Manhad berdoa dalam hati semoga yang dilihat pemilik warung itu adalah kesalahan yang memang benar benar salah. Tak mungkin Marguerita yang santun dan lembut itu berbuat aneh aneh.

“Ya, sudahlah kalau kau tidak percaya. Seeing is believing. Barangkali kau baru percaya kalau melihatnya sendiri seperti Thomas yang tidak percaya gurunya telah bangkit pada hari ketiga,� ucap pemilik warung itu.
Pengarang Manhad tertegun. Lamunannya mendadak terputus.

Seorang laki laki berambut gondrong yang duduk di sebelah menegurnya.
“Rupanya saya pernah mengenalmu,� kata laki laki gondrong itu.
“O, ya?�
Laki laki gondrong itu menyeruput teh manisnya.
“Ah, akhirnya saya ingat,� kata laki laki gondrong itu,

“Apakah kau mempunyai hubungan dengan Marguerita?�
“Ya,�
“Kira kira tiga jam yang lalu saya bertemu dia,�
“Oh?�
“Marguerita saya lihat berjalan dengan seorang lelaki,�
“Apakah kamu tidak salah lihat?�
“Tidak, mereka seperti pengantin baru yang belum bosan kawin…�

Zeg Pengarang Manhad hampir saja menampar wajah laki laki gondrong itu. Untung pengarang Manhad bisa menahan diri. Sabar itu subur, batin pengarang Manhad. Tapi ia tak bisa memaafkan laki laki yang tak dikenalnya itu sembarangan saja ngomong. Sekonyong konyong pemilik warung itu nyerocos,

“Coba dengar. Seperti kata orang orang tua, kemarahan itu hendaknya jangan disimpan. Dia harus dihadapi. Sekarang mari kita lihat apakah kau akan mundur mendekati Marguerita atau semuanya akan berulang kembali. Setidak tidaknya kita mengerti mengapa segalanya telah terjadi hanya untuk itu, sebab itu akan menyebabkan jiwamu sehat kembali. Saya tidak ingin kamu meneruskan hubungan yang tidak sehat ini. Kamu lebih baik menolakkan Marguerita daripada kamu menolakkan diri kamu sendiri, sebab…�
Dan seterusnya.
Dan seterusnya.
Pemilik warung itu bicara terus. Pengarang Manhad merasa dirinya seperti tertindas. Tiba tiba pemilik warung itu di mata pengarang Manhad seakan seperti setumpukan kaca yang menantang untuk dipecahkan.
Pemilik warung itu lalu menyebutkan nama orang orang yang pernah melihat Marguerita jalan berduaan dengan lelaki yang semula dikiranya pengarang Manhad. Baru setelah pemilik warung itu selesai pengarang Manhad angkat bicara.
“Saya tidak percaya semua ini,�
“Lalu apa yang kamu percayai?�
“Hidup kita hendaknya jangan dimain mainkan seperti ini,�
“Memainkan bagaimana?�
“Maksud saya…�
“Tidak, saya tidak main main atau memainkan kamu, pengarang Manhad. Barangkali ini sebuah pertanda, adalah sebuah peringatan yang mengatakan bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah…�
Dan seterusnya.
Dan seterusnya.

Tak diperhatikan lagi omongan pemilik warung itu. Pengarang Manhad segera membayar dan buru buru pulang. Ia segera teringat masih ada sesuatu yang harus dikerjakan. Sebuah hutang. Sebuah janji. Sebuah hutang adalah janji. Pengarang Manhad sadar sesadar sadarnya ia hanyalah seperti orang kebanyakan yang malas berjanji. Tapi malam ini ia harus menyelesaikan naskahnya. Di perjalanan pulang masih terngiang ucapan laki laki berambut gondrong itu, “Mereka seperti sepasang pengantin yang belum bosan kawin…�
Ruangan lengang dan malam terasa kosong. Jam menunjukkan tepat pukul duabelas. Pengarang Manhad harus menyelesaikan naskahnya untuk disetor ke majalah.

“Mereka seperti sepasang pengantin yang belum bosan kawin…�
Setibanya di kamar kosnya yang sempit, ia pencet tombol tombol, mengumpat, melempar kesal, memanggil manggil seperti teriakan di musim kemarau mencoba memanggil hujan. Pengarang Manhad merasa dirinya telah ditikam oleh sesuatu yang terasa tajam nan pedih. Tapi pengarang Manhad tidak menyelesaikan draft naskahnya. Sebuah kisah baru ditulisnya.

“Mereka seperti sepasang pengantin yang belum bosan kawin…�
Sementara pengarang Manhad mengetik, bayangan bayangan wajah pemilik warung, wajah Marguerita, wajah laki laki gondrong, wajah kawannya yang memperbaiki komputer, wajah ibu kos, wajah redaktur, wajah kawan kawannya di kampus, wajah kawan kawannya di kos, wajah kawan kawannya di galeri, wajah orang orang yang menanti bus, wajah almarhum ayahnya, wajah ibunya yang kisut, lalu wajahnya sendiri bersliweran, berganti ganti dengan cepat, secepat cepatnya.

Pagi yang diam. Warnet masih lengang. Pengarang Manhad berjalan dengan gontai setengah mengantuk, terhuyung huyung menghampiri meja komputer yang kosong. Dibukanya e mail hendak dikirimkannya naskah yang baru saja diselesaikannya dengan susah payah. Seingatnya ia hanya satu jam tertidur. Waktu sudah jam sembilan lewat tigapuluh menit.

Pengarang Manhad belum mandi, belum sikat gigi apalagi mengganti kaus oblongnya yang sembab oleh keringat. Masih ada waktu setengah jam sebelum kawan redaktur itu melupakan namanya sebagai penyetor naskah terakhir.

Dimasukkannya disket. Ditekannya perintah attachment file: Pengarang Manhad.doc. Dua menit, tiga menit, lima menit, sepuluh menit. Send. Your message has been successfully sent.

Setelah file naskah cerita pendek itu terkirim pengarang Manhad merasa seperti lepas dari rangkulan harimau.

“Sudah selesai,� desisnya seperti Mesias setelah mencecap anggur pahit yang disodorkan sebelum detik detik kematiannya.

Palmerah Rawamangun Manggarai, Mei 2003.

Untuk Hikmat dan Ana yang selalu menyulut semangatku menulis.

========================================
Pengirim : Donny Anggoro
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone