Padepokan Tebet, di suatu malam Jumat.
Langit di atas bumi Padepokan dipenuhi awan pekat. Beberapa hari belakangan ini, badai memang mengguncang di beberapa wilayah Nusantara. Banjir, tanah longsor, hujan deras tiada henti, angin puting beliung, pepohonan tumbang, membuat panik dan hiruk pikuk warga. Terutama yang tinggal di daerah pesisir.

Kulihat langit dari tengah taman padepokan, di bawah pohon cemara yang menjulang tinggi. “Malam ini, hujan mungkin akan turun dengan derasnya,” gumamku. Segera aku masuk ke dalam kamar. Kututup pintu. Kuletakkan buku yang tadi kubaca, kubiarkan menumpuk berserakan di sebelah tv, lalu kumatikan lampu. Hanya tv channel ESPN yang menemani.

Di antara titik kritis kesadaran. Wussss, gurden biru yang menutupi kaca di sebelah utara kamar tiba tiba tersingkap. Sosok laki laki berjubah putih muncul dari balik gurden itu. Ia berdiri tegak. Mematung, memandangiku dengan diam di pojok kamar sebelah barat, dekat tv yang telah mati. Jubah putih itu terlihat sangat terang di balik kegelapan yang menyelimuti kamar, tapi wajah laki laki itu samar samar masih bisa kulihat dan kukenali.

“Kiai Mujurono????” ujarku menjerit kaget.

“Assalamualaikum, Gus,” sapa lelaki yang kukenal sebagai Kiai Mujurono; sosok kiai misterius yang hingga kini aku sendiri tak mengerti akan kedekatannya denganku.

“Wa alaikumus salam, Kiai,” ujarku membalas dengan tergagap gagap. Kucoba untuk menenangkan diriku sejenak. “Ada apakah gerangan kiai malam malam begini menemui saya?”

Kiai Mujurono menarik nafas sebentar, lalu mensedekapkan kedua tangannya. Kali ini kepalanya mulai bergerak. “Saya ingin mengajak sampeyan jalan jalan, biar sampeyan tahu dunia lain di luar sana.”

Aku hanya bisa terdiam. Masih meraba raba, ini nyatakah atau hanya dalam mimpi? Seakan tak ingin memberiku kesempatan untuk menjawabnya, serta merta Kiai Mujurono menarik lenganku dimana diriku masih terbaring di atas kasur lusuh. Dan laksana secepat angin, ia membawaku pergi.

Jombang, di kala sang waktu sulit untuk kutentukan.
Di kala dimensi waktu teracak dengan sadis, membuat buyar memory akan keteraturan sang waktu.

Tanah lapang di tengah pesantren itu menjadi putih terang. Sekitar ratusan orang berkumpul sambil duduk bersila di atas daun pisang, daun kelapa, daun jati, dan dedaunan lain di tengah lapang itu. Surban, kain penutup kepala, dan sarung warna putih menjadi warna dominan dalam halaqah raksasa yang penuh wibawa.

“Astaghfirullah hal adzhiima…………..” 3x
(Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung). 3x

Seorang kiai yang masih muda memimpin acara di pagi yang cerah itu.
“Bukankah itu Kiai Wahid Hasyim??”, pekikku tertahan penuh keterkejutan.

“Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyil adzhiim”. 3x
(Tiada daya dan upaya, tiada kekuatan kecuali dengan [pertolongan] Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung). 3x

Ratusan orang yang menjadi jamaah di tengah lapang itu serentak menirukan lantunan doa yang dibaca sang kiai muda berpeci hitam agak miring, yang kukenal sebagai Kiai Wahid Hasyim, putra tertua Hadratussyaikh, tuan rumah bagi hajatan akbar yang sedang berlangsung itu.

“Allaahumma shalli alaa sayyidina muhammadin wa alaa aali muhammad”. 3x (Wahai Allah, berilah rahmat kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga beliau). 3x

Tanah lapang itu seperti penuh sesak, meskipun mereka hanya berjumlah sekitar ratusan orang. Tidak seperti sekarang, dalam setiap istighotsah (doa bersama), jamaah yang datang bisa ribuan atau bahkan ratusan ribu, datang dari berbagai daerah di pelosok. Tapi acara itu, mengumpulkan orang dalam jumlah ratusan di era kompeni pasca Perang Jawa (1825 1830) bukanlah hal yang mudah. Sejak tertangkap dan dibuangnya Pangeran Diponegoro ke Makassar, banyak kiai yang melarikan diri ke daerah pedalaman. Mereka sembunyi teratur, menghilangkan jejak tapi pantang menyerah. Tetap melanjutkan perlawanan. Hubungan antar kiai masih terjalin dengan erat. Bisa lewat pertalian hubungan pernikahan ataupun meningatkan hubungan silaturahmi. Lambat laun, perlawanan itu tidak hanya terjadi secara fisik, tapi secara kultural. Maka, bermunculanlah banyak pesantren di daerah pelosok. Dalam perkembangan selanjutnya, pesantren tidak hanya menjadi institusi yang mencetak kader ulama penerus ajaran para nabi, tapi juga menciptakan para pejuang (syuhada) bagi kemerdekaan bangsanya.

Bila tanah lapang itu bukan pesantren milik orang yang memiliki pengaruh besar di tanah Jawa, tentu itu sebuah kemusykilan. Kompeni sangat alergi dengan kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Apalagi, para kiai memilih sikap non kooperatif dengan mereka. Sebuah perlawanan yang tiada akhir, hingga para ulama, para santri, bisa mengusir penjajah kafir itu dari bumi Nusantara; bumi para syuhada.

(bersambung……….)

========================================
Pengirim : Gus John
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone