Cuaca terlihat cerah. Sinar matahari bersinar malu malu. Bunga bunga di pinggir jalan mengangguk angguk di topangan batang lunglai, diterpa angin yang melesat dari keangkuhan mobil yang lewat. Beberapa orang tampak menikmati atmosfer sore ini di bangku bangku taman, yang tak sepanjang tahun dapat menjelma seindah ini. Beberapa angsa dengan megak dan jumawa meluncur menyayat permukaan air. Tak ada yang mengganggu mereka. Semua damai dan tenang. Permukaan air di danau kecil tersebut pun terlihat bak agar agar bening hijau. Tenang. Sesekali tampak mobil mobil menggelinding ke arah kebun binatang di Bulevar Ilinden, tak jauh dari stadion sepakbola di pinggir Sungai Varda.

Udara Skopje memang di sekitar pertengahan tahun seperti ini nikmat dinikmati, terutama oleh orang orang yang datang dari Asia sepertiku. Mungkin itu alasan Vey memintaku datang ke sini bukan ke Belgrade, di mana ia berkonferensi�untuk menemuinya (selain alasan utama: menemuiku tanpa diketahui suaminya). Terletak di bagian tengah agak ke utara Masedonia dan dihiasi bukit bukit dan gunung di bagian utara, Skopje merupakan kota yang cukup indah. Paling tidak, itu kesan yang ditangkap dasar hatiku. (Rasa itu pula yang mengguliri urat dalam dadaku tiap aku akan bertemu Vey).

Hampir satu jam aku menelusuri jalanan. Dari Bulevar Partizan, hingga sampai di perempatan Bulevar St. Kiment Ohridskike. Gereja yang menjulang indah dengan dengan kubah di bangunan utamanya�yang aku pikir merupakan salah satu hasil percampuran budaya barat dan Islam�menghentikan langkahku. Tekstur mosaik kaca yang berwarna warni menyelimuti bagian muka gereja. Mencengangkan. Sudah cukup jauh aku berjalan dari Best Western Hotel Turist di Gjuro Strugar Street 11, tempatku menginap. (Vey yang memilihkan tempat itu untukku.�Permadani dan temboknya berwarna biru. Cocok untuk orang pemarah sepertimu.� Itu yang diucapkannya saat memintaku datang ke kota ini.). Tapi, tak ada lejar terasa. Apalagi, rasa solot atau jengkel seperti saat aku berjalan di Jakarta.

Aku lalu berbelok ke jalan Orce Nikolov, menuju sebuah restoran di pinggir Sungai Varda. Vey sudah memesan tempat di lantai dua. �Kita akan bisa melihat air sungai mengalir seperi pecahan kaca yang bergerak,� begitu katanya saat membujukku supaya menunggunya di restoran saat aku berkeras ingin menemuinya di hotel saja.

Vey benar. Restoran ini sangat indah. Bangunannya merupakan gedung tua yang megah. Hanya catnya yang tampak baru dan cemerlang. Halaman luas mengelilingi restoran itu. Rumput hijau dan bunga bunga kecil berwarna kuning pekat terang, merah, dan oranye menghiasi halaman tersebut. Saat melangkah masuk, pandanganku dibenturkan oleh tata ruang dan perlengkapan interior yang modern. Lampu lampu kristal menggantung di langit langit ruangan, seperti anggur bening yang tampak fragile.

Kepada resepsionis kukatakan bahwa aku telah memesan tempat atas nama Nurvi Sulaksmono (Sulaksmono adalah nama belakang suami Vey). Resepsionis kurus dan jangkung itu menggelengkan kepalanya. Matanya yang ramah berbinar dari balik kaca mata bundarnya. Ia mengatakan bahwa nama Nurvi Sulaksmono tak ada di dalam daftar pemesan tempat.

�Could you check it again, please?�

Matanya tampak menyiratkan upaya kerasnya untuk memahami maksudku. Bahasa Inggris bukan sesuatu yang akrab dengan penduduk Masedonia. Bahasa Turki mungkin lebih dimengerti.

Kuulang kalimatku dengan pelafan yang lebih jelas dan chunking yang selalu kugunakan saat aku mengajar siswa siswa tingkat dasar di Jakarta dulu. Tak lupa kutunjuk buku tamu hitam di meja tinggi di hadapannya.

Si jangkung tersenyum. Ia memeriksa lagi baris baris nama dalam bukunya. Telihat jelas bahwa ia ingin aku menangkap kesan bahwa ia melakukannya dengan serius dan seksama.

�There�s no Nurvi Laksmono. Sorry, Sir.� Ia menatapku dengan mimik menyesal, seperti anak anjing yang minta dibelai.
�Are you sure?�
�Yes.�
�How about Vey Sulaksmono?�
�Vey Sulaksmono?� Ia kembali menekuri barisan nama nama itu. Ya Tuhan. Betapa membosankannya pekerjaan itu, menekuri nama dan melayani orang sambil tersenyum. Aku tak akan pernah bisa melakukannya.
�Aha There�s Vey, but not Sulaksmono.�
�What do you mean?� Aku tidak mengerti maksudnya.
�We have Vey Rahardhiant, not Sulaksmono � Si Jangkung mencoba tersenyum lagi.

Ah, Vey.

Kujelaskan pada Si Jangkung bahwa nama yang ada dalam daftarnya adalah orang yang kumaksud. Entah kenapa ia terlihat lebih lega dari aku. Ramah. Aku lalu diantarnya ke atas. Sebuah meja kaca berbingkai besi kecil hijau berukir dengan rangkaian bunga biru di atasnya tampaknya akan menjadi mejaku. Benar. Aku letakkan bokongku di atas bantalan empuk kursi yang bertipe sama dengan mejanya. Aku hanya memesan air putih pada Si Jangkung sebelum ia kembali ke depan.

Pandanganku melayang menembus jedela kaca besar di samping posisi dudukku di dekat jendela. Vey benar. Sungai Varda tampak sebening gelas dengan beberapa jembatan melengkung di atasnya. Dipadukan dengan langit Skopje yang sore ini terlihat biru cerah dengan beberapa heiai awan yang mengambang, suasana jadi terasa benar benar mendamaikan. (Atau aku merasa damai karena akan bertemu Vey?) Aku juga bisa melihat pemandangan bukit bukit hijau dengan cemara menjulang dari jendela di sisi lain restoran. Lagi lagi aku merasakan rasa yang mendamaikan. Sekilas, pemandangan itu tampak seperti panorama dari Rindu Alam di Puncak. Tujuh tahun lalu aku menikmati pemandangan itu bersama Vey. Ia mengenakan kemeja biru kotak kotak kesukaanku dan sepatu kanvas putih yang membuat kakinya terlihat seperti kaki kelinci yang bergerak lincah ke sana ke mari. It�s been a long time. A long time ago Dulu sekali, sebelum segalanya terasa rumit seperti sekarang.

�Pam…� bisik halus di sisi telinga kananku membuyarkan kontemplasi pendekku. Lengan halus yang telah kukenal benar teksturnya melingkari leherku. �Udah lama?� Bibir hangat itu mengecup pipiku sekilas. Masih sehangat dulu saat pertama kali menyentuhku. Dulu sekali.
Menarik kursi di hadapanku, ia lalu duduk di sebelahku.

�Belum pesan apa apa?�

Tanpa menunggu jawabanku, ia memanggil pelayan, seorang gadis muda cantik, yang di Jakarta mungkin pantas menjadi seorang model, mendekat. Aku tak begitu peduli apa yang Vey pesan untuk kami. Dengan kemeja beige berbordir, cardigan merah pucat, dan rok hitam, ia tampak mempesona buatku. (Vey selalu tampak mempesona untukku.)

�It feels so good to see you…� Ia telah selesai memesan makanan dengan bahasa setempat, yang terdengan aneh di telingaku, dan si gadis berkaki indah telah berlalu.
Aku hanya tersenyum, tak melepaskan wajahnya dari jilatan pandanganku. Aku rindu padanya.
�I also miss you …� lengan putih itu kini merangkul ketat tanganku. Lembut helai rambutnya mengusap pipiku dan harumnya menggelitik lubang hidungku.
�Kapan sampai?� Bola matanya menatapku lucu.
�Kemarin.�
�Dari?�
�Turki.�
Mata bulat itu membelalak. �I thought…� Ia lalu menatapku lekat lekat. Jauh lebih lucu dengan bibir memberangut itu.
�What?�
�Katanya kamu ke Swiss.�
�Udah.�
�Lalu?�
�Lalu ke Turki.�
�Setelah ini, dari Skopje?�
Aku tersenyum. �Kembali ke Indonesia.�
Senyumnya merekah. Cantik. Vey tampak cumil dengan senyum itu. Kembali ia merangkul lenganku.
�Berarti kita bisa lebih lama di sini.�
�Hmm.� Kekecup lagi kepalanya.

Makanan datang. Si Kaki Indah meletakkan beberapa piring dan beberapa gelas di atas meja. Baunya cukup enak, tapi semuanya tampak aneh. Kami lalu mulai makan setelah Si Kaki Indah berlalu. Tak banyak yang kami bicarakan saat makan. Aku memang tak suka bicara saat makan. Vey tahu itu.

�Kamu menginap di mana?� Kubakar sebatang rokok di selipan bibirku.
�Di hotelmu.�
�Kamu booking di sana juga?�
�Nggak.�
�Lalu?�
�Di tempatmu.� senyumnya terkembang lagi. Benar benar cumil.
�Nakal…� aku mendesis di telinganya.
�Kan kamu yang ngajarin.�
�Masak.�
�Iya.�
�Kapan?�
�Dulu, saat aku baru kuliah.�
Aku kembali tersenyum, menghisap rokokku dalam dalam, entah karena aku memang menikmatinya atau karena Vey kini ada di sampingku. Dan rokok itu memang terasa lebih nikmat dari biasanya. Ah.

�Apa yang kau pikirkan?� Vey mengelus daguku. (Aku suka sekali dibelai seperti itu.)
�Kau….�
Kekecup wajah menggemaskannya sekilas. Langit di luar sana tampak lebih menarik dari kamar yang tiba tiba kurasa sesak ini. Entah kenapa saat bangun tidur tadi aku tiba tiba merasa ruang elok ini jadi terlalu sempit untuk kita berdua. Dosa memang tak bisa diingkari, semolek apa pun kemasannya
�Kamu jadi lebih perenung dari dulu.�
Jemari halus itu kembali menelusuri perutku. Entah yang keberapa ratus kali sejak kemarin.
�Ingat rumah?�
Pertanyaan yang dibisikkan lembut ke telingaku itu terasa menghunjam. Vey tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia merasa terancam.
Napasnya terhembus. Dia mulai jengkel. Aku rasa dia tengah membanting tubuhnya ke tempat tidur sekarang.
�Untuk apa jauh jauh ke Skopje kalau kamu ingin mengingatnya?�
Kini dia tak menyembunyikan lagi perasaannya. Sementara langit di luar masih indah. Teramat indah bahkan. Mengingatkanku pada langit Puncak saat senja sudah tua. Sedikit berair dengan awan tipis. Berkesan mendung, tapi tetapi tetap Indah. Istriku benci langit Puncak. Istriku? Ah….
Aku berbalik. Vey tampak seperti seperti bidadari tergolek di hamparan harapan harapan indah. Lingerie nya seperti tak kuasa menyembunyikan pesona tiap inci keelokannya. Tapi bukan itu yang membuatku ada di Skopje bersamanya.
Kuterkam tubuhnya dan kutelusuri lehernya, seperti yang aku lakukan tadi malam. Matanya terpaku ke jendela, menerobos kaca.
�Kenapa?� Kali ini aku yang berbisik di telinganya.
�Kamu bikin aku cemburu.�
Merajuk. Suka sekali aku saat dia merajuk seperti itu. Bukan marah. Sama sekali lain. Tak akan ada yang menyukai Vey saat dia marah. Tapi, saat ini dia bukan marah. Dia merajuk. Rajukannya selalu menjadi tanda atau pancingan bagiku untuk mulai mencumbunya, memberinya keindahan keindahan, yang kadang kadang berupa janji janji kosong dan kebohongan kebohongan manis. Tapi dia menyukainya. Dia sangat menikmati meski aku yakin dia tahu aku membohonginya. Itukah yang tak bisa dilakukan suaminya? Membisikkan kebohongan kebohongan manis yang semu?
�Jangan pikirkan dia kalau kamu lagi berdua sama aku.� Suaranya mulai terdengar seperti desahan. Jari halusnya mencubit wajahku, yang tengah tenggelam dalam kehalusan dan keharuman leher panjangnya. Cubitan itu sama sekali tidak menyakitkanku.
�Tak ada yang aku pikirkan selain kamu.�
Matanya mulai terpejam.
�Mana mungkin aku sempat memikirkan orang saat kamu ada di sini.�
Tubuhnya semakin merapatiku.
�Aku tak akan pernah membiarkan kamu pergi, Vey.�
Tangan halusnya bergerak liar mencengkeran bahuku.
�Aku akan peluk kamu sampai aku tak bisa memeluk lagi.�
Vey mulai mengerang.
Erangan itu berpacu dengan bisikan bisikan kepalsuanku hingga sinar matahari pagi berikutnya merekah dan berjinjit di bingkai jendela kamar itu. Sungguh. Skopje menjadi kota yang hangat hari itu.

Masih terbilang sangat pagi bagiku. Kabut masih melayang layang melekati mata. Pandanganku rasanya terbalut helaian kapas dingin yang mengambang di udara. Tapi, aku harus mengantar Vey saat ini juga. Ia akan meninggalkan Skopje dengan penerbangan pertama. Aku? Kami tak bisa mengambil risiko tak perlu dengan berada dalam satu pesawat yang sama bukan? Teman suaminya, sepupu istriku, sahabat adik suaminya, bude dari suami kakak istriku,… Terlalu banyak orang yang bisa meluluhlantakkan keindahan keindahan yang menggeliat, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kekejaman rutinitas dan takdir yang membosankan.
�Kapan kau temui aku lagi?�
Kali ini dia yang menyelusup di leherku.
�Bulan depan aku Venice. Kamu bisa susul aku?�
Kukecup lambut legamnya. Wangi. Aku yakinkan kulit kepalanya bisa merasakan kehangatan napasku. Pelukannya di perutku mengetat.
�Pam?�
Aku diam sejenak.
�Venice? Mau?�
�Jangan bulan depan.�
Pelukannya mengendur.
�Dua minggu lagi aja.�
Pelukannya kini terlepas. Sebentuk senyum merekah di bibir kenyalnya. Bibir itu begitu merekah hingga tak tampak sisa sisa pagutanku di sana.
�Benar, Pam? Dua minggu lagi?�
�Mmmm.�
�Di mana?�
�Toba. Suka?�
�Asal di sana ada kamu.�
Kurengkuh lagi tubuh indahnya, yang demi Tuhan bukan merupakan alasanku ada di Skopje bersamanya.
�Venice?�
�Kau kan bisa ajak suamimu.�
DIa menenggelamkan kepalanya ke dadaku. �Jangan menjawab seperti itu kalau kau tak mau pergi.�
Aku tersenyum kecil. Aku suka sekali menggodanya dan aku tahu dia pun suka aku goda. Meski kita telah saling menggoda bertahun tahun, kebosanan tak pernah menyelip sedikit pun. Itu yang tak ada di antara aku dan seorang perempuan yang sangat cantikdan seksi di rumahku. Itu juga yang tak ada di antara Vey dan seorang lelaki di rumahnya. Barangkali.
�Aku sudah merindukan kamu lagi, Pam.� Sekali lagi di mengurungku dengan pelukannya saat taksi yang kami naiki sudah hendak memasuki belokan ke arah airport. Ada yang ingin ditumpahkannya sebelum kita bertemu dua minggu lagi di Toba mungkin. Sementara aku? Semua sudah kutumpahkan selama tiga malam bersamanya. Di film film mungkin aktor dan aktrisnya sudah akan saling mengucapkan �I love you�. Tapi, Vey dan aku tidak begitu. Kami selau menemukan kalimat kalimat yang lebih indah dari kalimat kalimat tumpul dan mati seperti itu.
�Muka jelekmu pasti akan ada di kepalaku sampai dua minggu ke depan.� Dia menggesekkan hidungnya ke daguku.
Kurapatkan tubuhnya ke diriku. Aku tak perlu bicara apa apa lagi. Dia tahu. Dia pasti tahu. Aku bahkan tak perlu mengucapkan apa pun saat dia memelukku untuk kali terakhir sebelum berjalan menuju pesawat.

Langit Jakarta memerah. Selalu begini. Macet di mana mana, di barat, selatan, tengah,….Menjengkelkan Ataukah bukan kota ini yang menjengkelkanku. Jelas iya Kota ini dengan segala isinya adalah manifestasi rutinitas yang membosankan untukku. Takdir yang membosankan. Takdir yang menyeretku memasuki sebuah rumah dengan seorang perempuan yang berwajah elok dan bertubuh molek tapi membosankan. Rumahku. Takdir yang takdir, yang membelenggu, yang kebosanannya memukul mukul kepalaku dari pagi hingga malam selama…dua minggu ke depan, sebelum aku menemui Vey di Toba.
Ah, Vey. Aku sudah merindukanmu lagi.

Janto
Palmerah, sepanjang tahun

========================================
Pengirim : A.L. Janto
========================================

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *