We are not human beings on a spiritual journey.
We are spiritual beings on a human journey.
Stephen Covey.

Kahlil Gibran lahir di Bisherri, Lebanon pada tanggal 6 Januari 1883.
Masa remajanya dilintasi di kota Boston, USA.
Ia kembali ke Lebanon untuk mempelajari sastra Arab.
Tahun 1905 karya karyanya mulai bermunculan.
Bukunya “Sang Nabi”, menyebabkan nama Kahlil Gibran jadi terkenal.
Untuk memperluas pandangan sastra dan belajar melukis ia pergi ke Paris.
Dari sana ia pindah ke New York dan mendirikan studio “Pertapaan”.
Ia meninggal pada tanggal 10 April 1931.

Dalam buku “Suara penyair” dikatakannya :
“Berkah amal saleh tumbuh subur dalam ladang hatiku.
Aku akan menuai gandum dan membagikannya pada mereka yang lapar.
Jiwaku menyuburkan ladang anggur yang kuperas buahnya dan kuberikan sarinya pada mereka yang kehausan.
Surga telah mengisi pelitaku dengan minyaknya dan akan kuletakkan di jendela.
Agar musafir kelana di gelap malam menemukan jalannya.
Kulakukan semua itu karena mereka adalah diriku.
Andaikan nasib membelenggu tanganku dan aku tak bisa lagi menuruti hati nuraniku, maka yang tertinggal dalam hasratku hanyalah : Mati
Aku seorang penyair, apabila aku tak bisa memberi, akupun tak mau menerima apa apa.”

Dalam kehidupan kita yang hiruk pikuk penuh deru campur debu dalam berpacu untuk punya ini punya itu, dengarlah apa yang dikatakannya :
“Harta benda yang tak punya batas, membunuh manusia perlahan dengan kepuasan yang berbisa.
Kasih sayang membangunkannya dan pedih peri nestapa membuka jiwanya.”

Ia juga berpendapat : “Manusia terbagi dalam bangsa, negara dan segala perbatasan.
Tanah airku adalah alam semesta.
Aku warganegara dunia kemanusiaan”

Kahlil Gibran menganjurkan orang untuk gemar membaca, berpikir dan berpendapat.
Untuk tidak picik, dangkal, fanatik, bodoh seperti kodok dibawah tempurung, yang tak punya sumbangan apa apa buat kemanusiaan.

Bayangkanlah kata katanya :
“Tanah airku adalah alam semesta
Aku warganegara dunia kemanusiaan

John Lennon dalam lagunya “Imagine” mengatakan hal yang sama.
MSF (Medicins Sans Frontieres) atau Doctors without borders juga mengatakan yang sama.
Mereka menolong siapa saja, kapan saja dan dimana saja.
Tanpa pandang bangsa, negara apalagi agama dan seribu perbatasan lainnya
Imagine that

Itulah yang menyebabkan 73 tahun setelah ia tiada, buku bukunya penyair Kahlil Gibran masih saja terjual di toko toko buku dimana saja.
Ia dibaca oleh siapa saja, kapan saja
Ia tak punya perbatasan
Seperti kata penyair Chairil Anwar :”Hidup seribu tahun lagi ”

Perjalanan 2004

========================================
Pengirim : Lasma Siregar
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone