Dia itu bernama: Takdir
�Di kota tua bernama Thebes, hiduplah Raja Laius dan istrinya, Jocasta. Laius telah diberitahu oleh peramal dari Delphi Pythia bahwa ia tidak akan pernah mempunyai keturunan, karena jika ia mempunyai seorang putra maka putranya itu akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya, maka saat Jocasta melahirkan seorang putra, Laius memutuskan untuk membuang anaknya dengan membiarkannya kelaparan hingga mati atau dilahap binatang buas.
Raja Laius memerintahkan seorang gembala untuk melenyapkan anaknya dan untuk amannya sang Raja mengiris otot tumit si anak, hingga tak mungkin si anak mampu mengitari gunung dan menemukan jalan pulang ke Thebes. Gembala itu melakukan apa yang dititahkan Raja, tapi dalam perjalanan menuju pegunungan ia bertemu dengan seorang gembala dari Corinth. Raja Corinth juga mempunyai padang rumput di tempat itu. Gembala dari Corinth merasa kasihan pada anak kecil itu, yang akan ditinggal kelaparan hingga mati atau dimangsa hidup hidup oleh binatang buas. Ia meminta gembala dari Thebes agar ia dapat membawa anak itu bersamanya ke Raja Corinth. Maka kemudian sang anak dibesarkan sebagai seorang pangeran di Corinth, karena Raja dan Ratu tidak mempunyai anak kandung. Mereka memanggilnya Oedipus, yang berarti �kaki bengkak�, karena kaki anak itu membengkak sangat parah setelah perlakuan menyakitkan yang didapatnya di Thebes. Oedipus tumbuh menjadi seorang lelaki yang sangat tampan dan disukai setiap orang, namun tak seorangpun mengatakan padanya bahwa ia bukanlah anak kandung dari pasangan kerajaan itu. Akan tetapi, suatu hari saat diselenggarakan pesta kerajaan, seorang tamu hadir dan mulai bergunjing tentang Oedipus yang bukan anak kandung Raja dan Ratu. Namun, ketika Oedipus bertanya kepada Ratu mengenai hal itu, Ratu tidak memberinya jawaban yang tepat, karena ia putuskan untuk mencari keterangan pada peramal dari Delphi. Oedipus menanyai Pythia apakah ia putra mahkota yang sah bagi negeri Corinth. Dan Pythia menjawab,�Tinggalkan ayahmu, karena jika engkau bertemu lagi dengannya, kau akan membunuhnya. Setelah itu, akan kau nikahi ibumu dan beranak pinak darinya.�
Mendengar ini, Oedipus tak berani kembali ke Corinth, karena ia masih percaya Raja dan Ratu di sana adalah orang tua kandungnya. Ia malah berjalan menuju Thebes. Ketika sampai di suatu tempat, ia bertemu seorang pria ningrat terhormat dalam kereta megah yang ditarik oleh empat ekor kuda. Ia memiliki sejumlah pengawal, salah satunya menabrak Oedipus hingga terjajar di sampingnya. Oedipus yang telah diangkat sebagai putra mahkota kerajaan Corinth tak terima atas perlakuan yang ia dapati. Setelah terjadi pertengkaran, pertemuan yang sial itu berakhir dengan Oedipus membunuh bangsawan tadi. Bangsawan tersebut adalah ayah kandungnya. Para pengawal pun terbunuh, tetapi seorang pengawal akhirnya memcoba melarikan diri. Ia kembali ke Thebes dan bercerita pada rakyat Thebes bahwa Raja Laius telah dibunuh oleh seorang perampok. Ratu dan rakyat Thebes sangat berduka, tapi ada hal lain yang dikuatirkan warga kota. Sphinx, binatang yang sangat besar dengan badan singa dan kepala seorang perempuan. Ia menjaga jalan menuju Thebes dan mengoyak moyak setiap orang lewat yang tak dapat memecahkan teka teki yang diajukannya. Rakyat Thebes berjanji bahwa siapapun yang mampu memecahkan teka teki Sphinx itu akan dapat menikahi Ratu Jocasta dan menjadi Raja Thebes menggantikan Raja Laius. Oedipus, yang dengan cepat melupakan kejadian pembunuhan itu, segera tiba di pegunungan Sphinx, dan kini Sphinx menuntutnya untuk memecahkan teka teki berikut: apakah yang berjalan empat kaki di pagi hari, dua kaki di siang hari, dan tiga kaki di senja hari?
�Manusia dalam tiga masa kehidupannya,� jawab Oedipus. Pada saat bayi, mereka merangkak dengan keempat tangan dan kakinya, pada sebagian besar masa hidupnya mereka berjalan tegak degan kedua kaki dan saat tua mereka berjalan dengan tongkat untuk berjalan. Oedipus telah memberikan jawaban yang benar dan Sphinx tidak dapat bertahan lagi; ia roboh di lereng gunung menuju kematiannya. Oedipus disambut sebagai pahlawan di Thebes. Ia menerima hadiah yang dijanjikan dan menikahi Jocasta, yang pada kenyataannya adalah ibu kandungnya sendiri dan kemudian mereka mempunyai dua orang putra dan dua orang putri. Tetapi itu bukanlah akhir cerita. Wabah mengerikan menjangkiti seluruh negeri. Pada masa itu orang orang Yunani percaya kemalangan seperti itu berkaitan dengan kemarahan Apollo dan pasti ada alasan bagi kemarahannya. Mereka bertanya kepada peramal dari Delphi mengapa Apollo mengirim wabah celaka itu. Jawaban Pythia adalah bahwa seluruh kota harus menemukan pembunuh Raja Laius, kalau tidak seluruh kota akan dimusnahkan.
Raja Oedipus melakukan segala yang ia mampu untuk menemukan pembunuh raja sebelumnya. Ia tak pernah menghubung hubungkan perkelahiannya di jalanan dengan pembunuhan Raja Laius. Tanpa disadarinya, Oedipus menjadi seorang pembunuh yang harus membongkar kejahatannya sendiri. Hal pertama yang dilakukannya adalah menanyai seorang ahli nujum tentang siapa yang mungkin membunuh Raja Laius, tetapi orang tersebut menolak menjawabnya, karena kebenarannya terlalu kejam. Oedipus yang dengan kekuasaannya bersiap melakukan segala hal untuk membantu rakyatnya mendesak agar ia menjawab dengan jujur. Ahli nujum menceritakan rahasianya kepada Oedipus bahwa Sang Raja sendirilah yang bersalah. Meskipun secara berangsur angsur Oedipus ingat akan apa yang terjadi pada hari itu di sebuah jalan dan sadar bahwa ia telah membunuh Raja Laius, ia masih tak menyadari bahwa ia adalah putra Raja Laius. Oedipus sesungguhnya adalah seorang lelaki jujur. Akhirnya ia berhadapan dengan gembala dari Thebes dan Corinth. Mereka menegaskan bahwa ia telah membunuh ayahnya sendiri dan menikahi ibunya. Ketika kebenaran menjadi jelas bagi Oedipus, ia menusuk kedua matanya. Dan ia menjadi buta sepanjang sisa hidupnya��

Takdir bisa dikatakan sebagai hal yang selalu membayangi di setiap jengkal langkah yang akan kita ambil. Tanpa kita sadari, sudah setahun ini kita bekerja sebagai karyawan kantor, buruh pabrik, pedagang, sopir, pramunikmat, montir, seniman, penulis, pejabat, dosen, dan lain sebagainya. Padahal, kalau kita kembali setahun ke belakang, kita tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi karyawan, menjadi buruh, pedagang dan seterusnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah kita telah menentukannya? Ataukah orang lain? Memang benar, apa yang telah terjadi pada diri kita sekarang adalah karena kita telah mengupayakannya secara maksimal. Seperti mengajukan lamaran, tawaran, rayuan, bahkan kebohongan kebohongan demi tercapainya tujuan yang ada di benak kita. Tetapi, kita ambil satu contoh sederhana, misalkan ada 30 pelamar yang melamar kerja pada satu perusahaan periklanan untuk satu posisi yang sama. Kalau dilihat dari latar belakang mereka, kecakapan dan kemampuan mereka boleh dikatakan tidak jauh berbeda. Dan tiba tiba anda mendapat surat bahwa besok lusa anda akan diwawancara oleh perusahaan yang anda lamar. Mengapa anda yang menjadi pilihan perusahaaan itu? Mengapa tidak ke 29 orang yang lain? Atau ternyata salah seorang dari pelamar tersebut adalah kawan anda dan ia mendapatkan panggilan untuk wawancara, bukannya anda. Apakah lantas anda melabrak perusahaan tersebut? Tentu tidak bukan? Satu contoh lagi, sebuah harian pagi yang terkenal memberitakan sebuah kecelakaan yang terjadi di jalan. Kecelakan tersebut merenggut tiga nyawa sekaligus, tetapi satu orang selamat dengan sedikit luka gores. Mengapa tiga orang harus meninggal dunia sedangkan yang lain selamat? Mengapa tidak meninggal dunia semuanya? Padahal mereka menumpang pada kendaraan yang sama, dan berada pada ruang dan waktu yang sama pula. Nah, apakah yang sedang terjadi? Bagaimanakah kemungkinan kemungkinannya? Apakah ini yang disebut takdir? Satu contoh lagi, Anne adalah salah seorang penghuni lokalisasi di salah satu kota besar. Istilah yang sering terdengar adalah �cau bau kan� atau cabo, pelacur, pekerja seks komersial, dongdot, ayam, homing, ublag, bahkan ada istilah yang dipinjam dari teman saya, yaitu ungkluk
Profesi ini dilakoninya dengan sungguh sungguh. �Servis�nya benar benar memuaskan, sehingga di lokalisasi tersebut, Anne adalah kembangnya. Anne sadar dan mengerti seperti apa profesi itu di mata orang lain. Kadang ia melamun, mengapa ia tidak menjadi seperti jeng itu, bekerja sebagai akunting. Berangkat pagi hari dan kembali ke rumah pada petang hari. Teratur, bersih, kelihatan bersahaja. Tidak seperti dirinya, kadang sore, kadang malam, malah kadang larut malam baru berangkat untuk bekerja. Hal ini kadang membuat hatinya menangis. Cuma saja Anne tidak tahu kalau jeng itu sebenarnya adalah WIL nya si bos Tersentak ia dari lamunannya itu, kala �maminya� berteriak memanggil namanya, �Anneeeeeeee�..? �
Ketiga contoh tadi menunjukkan bahwa kejadian kejadian yang dialami oleh kita, tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kemauan dan pikiran kita semata. Tetapi ada satu hal yang ikut menentukan jalan hidup ini. Sesuatu yang halus namun dashyat. Sesuatu yang agung dan tak terbendung. Sesuatu yang maha kuasa. Sesuatu yang tidak akan pernah kita sanggup mengatasinya.
Kesimpulan dari beberapa ilustrasi tadi adalah apakah kita akan telah ditakdirkan untuk selalu menjadi baik? Tidak. Apakah kita akan telah ditakdirkan untuk selalu menjadi buruk? Tidak juga. Kemungkinan pertama mengenai takdir adalah bahwa setiap orang telah ditetapkan mempunyai takdir yang baik dan juga takdir yang buruk. Masing masing orang mempunyai dua buah takdir yang berseberangan. Tergantung bagaimana kita memilih jalannya. Kita telah dibekali juga rasa atau nurani untuk memilih takdirnya. Hidup adalah untuk memilih. Kemungkinan kedua adalah dialektikanya, kita tidak bisa memilih karena takdir yang memilih kita. Hidup adalah untuk dipilih. Buat apa hidup di dunia ini kalau sekedar untuk dipilih takdir? Oleh karenanya, memilihlah sebelum dipilih oleh takdir�atau menunggu dipilih? Atau ragu?

��sebab takdir adalah persoalan tentang segala sesuatu yang menggerakkan kita dan bergerak dalam diri kita, dahulu dan sekarang, dan segala sesuatu yang bergerak dan menggerakkan kita di masa masa mendatang dan karenanya hanya membuka rahasianya pada akhir jalan, dan akan tetap tidak akan dipahami ataupun hanya separuh dipahami selama kita menjejakkan dan melangkahkan kaki kita di jalan itu.� (Moh. Assad)

Takdir adalah senjata potensial Sang Sutradara Alam
Yang memaksa dengan tanpa paksaan�
(Keraguan atas Dunia/Pra Etika)

Teriring sepi usai sebuah permainan gambus…
Menyeringai dengan mata kedua mata yang sembab,
Yang putra Laius, Sang Oedipus, tusuk sekaligus,
Ketika kebenaran menjelma menjadi sebab.

========================================
Pengirim : wahyu widyantono
========================================

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *