Istilah dalam bahasa yang perlu dijelaskan asal usulnya begitu banyak.
Ambillah contohnya yang gampang :
/1/Telanjang bulat.
Kok mesti telanjang bulat?
Apakah ada telanjang segi tiga, bujur sangkar atau empat persegi panjang?
Nggak ada kan
Kok tidak telanjang saja?
Kok mesti bulat?

/2/Tertangkap basah.
Seorang bandit yang tertangkap lagi merampok toko disebut tertangkap basah.
Apanya yang basah?
Banditnya kering, uang rampokan kering, polisi yang nangkap kering, semuanya kering.
Mengapa nggak tertangkap kering?

/3/Kumpul kebo.
Sepasang Romeo dan Juliet katanya kumpul kebo
Mengapa mesti kumpul kebo?
Mengapa nggak kumpul kuda?
Kebo memang suka beramai ramai, tapi mereka jarang kumpul berdempetan.
Kuda malah yang paling suka dempet dan “kumpul”

/4/Telor mata sapi.
Mengapa telor ayam di goreng bisa jadi telor mata sapi?
Apakah bisa matanya sapi yang di goreng (mata
sapi goreng) disebut telor mata ayam?
Kan nggak bisa

/5/Siang bolong.
Sesuatu yang penuh drama dan air mata katanya selalu terjadi di siang bolong.
Mengapa mesti siang bolong?
Apa nggak ada siang yang tidak bolong, siang yang tambal sulam atau siang yang biasa saja?
Kok bolong melulu ya?

/6/Angin sepoi sepoi basah.
Kok angin dalam cerpen atau puisi selalu mesti sepoi sepoi basah?
Bagaimana kalau anginnya di musim kemarau dan bertiup di siang bolong?
Apa tidak jadi angin sepoi sepoi kering?

/7/Malu malu kucing.
Orang yang malu selalu disebut malu malu kucing.
Apakah kucing yang malu disebut malu malu orang?
Kan tidak
Kok nggak malu malu tikus?
Kucing kalau mau makananmu ia mengeong.
Tikus malah sembunyi dan malu malu.
Tapi diam diam ia mengincer makananmu.
Kau lengah makananmu hilang.

/8/Tanpa pandang bulu.
Kalau lagi ada pembagian beras atau memberikan kesempatan bekerja, selalu disebut semuanya akan menerima bagiannya tanpa pandang bulu.
Bagaimana kalau orangnya gundul dan tak berbulu?
Apanya yang di pandang?
Nggak punya kumis, godek atau janggut janggutan kan bisa didiskriminasi tanpa sadar?

/9/Pedagang kaki 5.
Cobalah hitung, pedagangnya kaki 2, meja dagangannya kaki 4, semua jadi kaki 6.
Bagaimana kok bisa disebut kaki 5?
Kemana kakinya yang 1 pergi?
Bagaimana dengan anak pengamen, penjual koran atau rokok?
Apakah mereka disebut pedagang kaki 2?

/10/Kepulauan Seribu.
Apakah benar benar 1000?
Apakah masih Seribu?
Apa ada orang yang ngitunginnya satu persatu?
Apakah bisa bertambah dan berkembang biak dan jadi kepulauan Lebih dari seribu?
Atau berkurang malah jadi kepulauan Ratusan?

/11/Tiket bus pulang pergi.
Bagaimana kok ada tiket pulang pergi?
Pulang pergi Pak?
Akh nggak, saya mesti pergi dulu nih baru pulang
Ada tiket pergi pulang nggak?
Sorry Pak, tiketnya semua untuk pulang pergi
Kok bisa bisanya begitu ya?

Siang tambal sulam. 2004

Buat kawan yang pandai berbahasa
tanpa bikin bingung kita.
Maklumlah, rakyat kecil
di tepi jalanan kecil, desa yang kecil mungil.

========================================
Pengirim : E. Regardie
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone