aku pernah katakan bahwa…

dunia terlalu manja untuk kuagungkan
karena dalam sentil kehendak Nya hangus dan busuk
dunia juga terlalu rapuh untuk di biarkan
karena dengan kelemahan kita saja ia hancur dan basi
dunia juga terlalu congkak karena dengan tekad saja maka haluan akan terubah

aku pernah juga katakan…

manusia itu telalu berbangga atas akalnya
hingga menit menit begitu mudah berlalu tanpa makna
dan nyawa demi nyawa dengan leluasa hilir mudik tanpa kesadaran
dan wajah demi wajah mudah untuk terlupakan layak angin yang datang dan hilang dengan cepat

lalu aku juga pernah ingatkan…

bahwa kita ini hanya kapas ditiup angin gunung
terlalu takut untuk melihat ke bawah hingga tiada henti hentinya memandang ke atas
lalu cemburu dan akhirnya tancapkan belati belati darah yang justru mengkerangkeng jiwa hingga penyesalan atas ajal tiba
bahwa kita juga hanya deru ombak di pantai
yang berkejaran untuk tiba sebagai juara namun tak terfikirkan apa yang didapatnya ketika tiba di tujuan…lenyap dan tiada bekas untuk dibawa

sempat aku teriakkan…

marilah kawan semua baca wacana hidup yang kubangun di tembok dunia ini
yang mengalahkan megahnya tembok china dan runtuhkan kekaguman pada piramida mesir
hidup itu hanya perjalanan singkat atas nafas
hidup itu hanya perhentian sementara atas jalan yang lebih panjang
hidup itu hanya secuil tetes keberadaan dalam ketiadaan yang gelap juga terang
dan hidup ini hanya sebuah nilai atas bukti ketidakberdayaan manusia

lalu aku pun membaca kembali mahzab itu…..

lalu kutemukan logika yang menyenangkan
wahai kaum beriman…(yang tidak maka hai tak kunjung menyapa)
duhai kekasih Tuhan…(yang bukan kekasih Tuhan maka duhai terlalu agung untuk diucap dan haram untuk disenggami olehnya)
hambaKU yang dimuliakan….(yang bukan hamba Nya maka kemulian adalah sesuatu yang selalu enggan untuk berbuka hati menerima)

terperangah dan tergugu aku dibuatnya…

ternyata banyak warta yang telah meronta untuk masuk ke alam pikirku
banyak keheningan yang mencoba menusuk sekedar ajak aku kembali ke pelabuhan dari ganasnya badai laut
banyak kekeringan yang ingin segera terhapuskan oleh embun embun di daun pagi
dan begitu banyak kegaduhan yang harus dibuang karena hanya membuat kepala pusing

lalu aku merintih dan meregang…
bernafas dengan sesak…untuk kemudian terdiam lama…terlalu lama hingga lupa untuk melanjutkan gerak dan bicara…..terlalu lama…..

========================================
Pengirim : penulisgila
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone