SECARA kodrati setiap manusia menyukai sesuatu yang indah. Adalah sifat manusia ingin memiliki sesuatu yang indah dan sempurna. Tapi mereka tidak pernah berpikir bahwa mereka adalah mahkluk yang kotor. Manusia sering dikotori oleh dosa, ego, kebencian, kemunafikan. Itulah manusia, termasuk dalam urusan kekasih, mereka selalu menginginkan kekasih yang sempurna. seperti aku saat ini.
Sejak kecil aku sering mendengar orang orang dewasa membicarakan tentang wanita impian mereka. Aneh aneh keinginan mereka. Ada yang suka wanita berdada montok dan berpinggul besar. Ada yang suka berkulit putih dan berambut lurus. Ada yang suka berbibir tipis merah merekah, bermata sayu dan berhidung mancung. Ada lagi yang suka wanita berpakaian sedikit terbuka. Ada pula yang suka wanita yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, bikin penasaran katanya. Tapi dulu aku masih kecil, aku belum mengerti apa maksud mereka. Dan kalau memang ada wanita yang seperti mereka impikan, lalu akan diapakan? Teman bermainku banyak yang wanita, aku tak pernah memperhatikan anatomi tubuh mereka. Bagiku, asal mereka bisa menemaniku bermain, itu sudah cukup membahagiakan aku.

Aku juga sering melihat orang orang dewasa, baik pria maupun wanita berkumpul. Mereka ngobrol, bercanda dan sesekali tertawa bila ada hal lucu. Aku jadi bingung, mengapa untuk aktifitas sepeti itu saja mereka harus punya kriteria tertentu? Dan kriteria itu masalah fisik pula. Apa bedanya wanita berdada montok atau tidak, kalau hanya sekedar untuk teman ngobrol? Apa bedanya bibir tipis atau tebal, kalau hanya untuk menemani tertawa. Ah, orang dewasa memang aneh, pikirku.

Setelah tumbuh dewasa, aku mulai mengerti semua itu. Aku sudah mengerti tentang dada yang besar, pinggul yang besar, bibir yang tipis, kulit putih, dan itu semua ternyata memiliki makna tersendiri. Dan aku pun mulai tahu bahwa hubungan pria dan wanita dewasa tidak hanya sebatas ngobrol, tertawa, bercanda seperti yang kulihat ketika aku masih kecil dulu. Aku pun mencoba mengumpulkan potongan potongan tubuh yang aku anggap indah, lalu aku mencoba menyusun potongan potongan itu pada tempat semestinya sehingga jadilah ia seorang wanita cantik. Aku tersenyum puas melihat hasil karyaku yang sangat indah. Itulah dia wanita imajinasiku, wanita impianku. Dan aku berjanji dalam diriku. Aku harus menemukan wanita itu. Di manapun dan dengan cara apapun.

Begitulah aku yang terobsesi dengan wanita impianku. Hari hari berikutnya aku larut dalam pencariannku. Aku mulai pencarianku di kota kelahiranku. Siang dan malam aku berpetualang mencarinya. Dari setiap sudut kota kukeluarkakan semua wanita wanitanya, mungkin saja ia ada di antara mereka. Tapi aku gagal menemukannya. Setiap desa aku datangi, mungkin saja dia ada terselip di antara pepohonan di hutan. Tapi lagi lagi aku kecewa, aku tak menemukannya. Sungguh sebuah fatamorgana, ia benar benar ada terlihat tapi tak kutemukan.

Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiranku. Aku mendatangi kota yang lebih banyak wanitanya. Aku berharap di kota ini untung di kandung badan. Aku kembali berpetualang untuk mencari wanita impianku. Setiap wanita yang aku temui, kucoba untuk mencocokan bentuk tubuhnya dengan yang aku impikan, tapi tak juga aku temukan. Pernah aku tertipu dengan seorang wanita yang sangat cantik, dan ia hampir menyerupai wanita impianku. Tapi lagi lagi aku harus memaki dalam hati, karena ternyata wanita itu sejenis denganku. Aku nyaris putus asa. Aku pernah berpikir untuk menghentikan saja tindakan bodohku ini. Bahwa wanita itu hanya ada dalam impianku dan tak pernah ada di belahan dunia manapun di bumi ini.

Hingga pada suatu malam. Aku menghadiri undangan seorang kawanku, pemilik sebuah panti sosial pada acara ulang tahun yayasannya. Aku duduk seorang diri di salah satu meja di sudut ruangan. Aku sengaja memilih di sudut, agar memudahkanku untuk mengawasi setiap tamu yang datang. Terutama tamu wanita, mungkin saja wanita impianku ada di antaranya. Setelah satu jam aku habiskan waktu untuk mengawasi mereka, yang diharapkan tak kunjung datang. Aku menegak habis sisa minumanku dan berniat untuk pulang. Tiba tiba kawanku datang bersama seorang wanita dan diperkenalkannya padaku.

“Nih kenalkan dulu temanku.” Katanya pada wanita itu. Wanita itupun langsung menyodorkan tangannya. Aku terbengong dengan semua itu. Apalagi ketika mengetahui wanita itu adalah seorang yang sangat cantik. Sebenarnya sudah biasa aku bertemu wanita cantik selama ini. Pacar pacarku juga selama ini rata rata cantik. Tapi kali ini lain, sangat lain, ia sangat mirip dengan wanita impianku. Ya, ini dia pekikku girang tapi hanya dalam hati. Aku menyodorkan tanganku juga, kamipun berkenalan.
“Wulan.”

Lalu aku menyebutkan namaku. Kawanku lalu berpamitan untuk menemui tamu tamu yang lain. Tak lupa ku ucapkan terima kasih padanya. Nama dan orangnya sama sama indah, ucapku tetap dalam hati. Lalu kami terlibat obrolan yang panjang. Aku menceritakan kisah perjalananku hingga sampai terdampar di kota ini. Tapi tentunya aku berbohong. Aku tak akan pernah mengatakan alasan sebenarnya, mengapa aku sampai di kota ini. Ia lalu menceritakan tentang dirinya. Ia adalah seseorang yang aktif dalam sebuah yayasan sosial. Ia sangat sibuk dan sering berkunjung ke desa desa untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Aku hanya mengangguk angguk untuk menunjukkan perhatianku. Padahal sebenarnya aku tengah menikmati wajahnya yang cantik. Tapi sayang waktu berjalan singkat pesta berakhir, tamu pun bersiap untuk pulang, begitu juga wulan, pun aku. Akhirnya kami saling bertukar kartu nama. Aku berjanji akan menghubunginya dalam waktu dekat ini. Aku pulang dengan hati berbunga bunga. Aku sangat bahagia karena wanita impianku telah kutemukan. Itu berarti sebentar lagi impianku akan menjadi kenyataan.

Keesokan harinya aku mencoba menekan sejumlah nomor yang tertera di kartu namanya. Tak tersambung. Hanya terdengar suara operator yang mengatakan bahwa ponselnya tidak aktif. Hari berikutnya kucoba lagi. Tetap sama, tak tersambung. Sialan, makiku.
Suatu sore ketika aku sedang menikmati secangkir kopi panas sambil membaca Koran. Tiba tiba ponselku berdering. Ternyata Wulan menelponku
“Sorry, kemarin aku masih di luar kota, tak sinyal handphone disana,” katanya. Kesempatan emas ini tak aku sia siakan. Aku mengajaknya bertemu sore itu juga. Di luar dugaan ternyata ia memenuhi ajakanku. Kami lalu berjanji untuk bertemu di sebuah café langgananku.

Aku sengaja datang lebih awal dari waktu yang ditentukan. Ini sengaja aku lakukan untuk memberikan kesan yang baik pada kencan pertama kami. Tepat jam lima, dari pintu masuk café tampak berjalan dengan tenang seorang wanita cantik. Dialah Wulan. Ia sangat cantik sore ini. Kaos ketat berwarna biru muda yang membalut kulit putih mulusnya semakin mempertegas kecantikannya. Jeans ketatnya semakin memperindah bentuk pinggulnya yang bak gitar Spanyol. Aku memperhatikan seluruh lekuk tubuhnya dengan penuh perhatian. Kaos ketatnya nyaris tak mampu menahan dadanya yang penuh sesak, seakan ingin menyembul keluar.

Bagian atas kaosnya yang sedikit terbuka menyisakan sebidang putih mulus yang tampak indah menyatu dengan leher jenjangnya. Darahku berdesir waktu ia sedikit membungkuk ketika akan duduk. Sangat jelas terlihat sebuah rongga di antara buah dadanya, sengaja membiarkan angin nakal dengan leluasa membelai lembut. Ah, andai saja aku menjadi angin. Aku jadi berpikir bahwa Tuhan itu begitu aneh, Ia menciptakan sesuatu sedemikian indah tetapi Ia malah menyuruh menutupnya. Kupandangi wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, sungguh indah menyatu. Sepertinya Tuhan membuatnya dengan tangannya sendiri dan sangat hati hati. Aku tak menemukan cela sedikitpun di tubuhnya. Sempurna, hanya kata itu yang sampai di ujung bibirku. Sungguh potongan potongan tubuh yang pernah aku susun dulu, sekarang benar benar muncul tepat di hadapanku.

“Mau pesan apa?”
“Terserah.” aku lalu memanggil pelayan untuk segera mempersiapkan dan mengantarkan pesanan kami. Sambil menikmati hidangan. Kami bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, musik, film, sampai politik. Bahkan sampai masalah pejabat yang akhir akhir ini sering muncul di televisi akibat terbukti korupsi. Ia ternyata lawan bicara yang sangat menyenangkan, wawasannya luas. Sungguh wanita yang mengagumkan.
Kami meninggalkan café ketika langit telah berubah warna dan dihiasi oleh cahaya bintang. Kami melanjutkan berkeliling kota sambil mendengarkan Love Songs yang sengaja kuputar untuk menambah suasana romantis malam itu.

“Wulan suka pantai?”
“Wulan suka apa saja yang berhubungan dengan alam.”
“Mengapa?”
“Ya, karena keindahan alam itu asli. Alam tak pernah bohong akan keindahannya. Alam tak pernah memoles dirinya.”
“Kalau begitu sama dong, dan bagi saya Wulan adalah alam itu sendiri.” Ia langsung menoleh ke arahku sambil mengerutkan dahinya sebagai tanda ada yang tak di pahaminya dari kata kataku. Tapi itu tak lama, ia lalu tersenyum dan mengembalikan pandangannya lurus ke depan. Sangat sulit memaknai arti senyuman itu.

“Kita ke pantai?
“Terserah.” Aku langsung mengarahkan mobilku menuju jalan yang akan membawa kami ke pantai.
Malam itu bulan bersinar terang. Ia seakan akan tak mau kalah dengan sinar kecantikan Wulan. Kami duduk di atas pasir, di bawah sinar rembulan sambil memandang ke laut lepas. Lampu perahu nelayan yang bertebaran bagaikan sekumpulan kunang kunang di kegelapan malam. Angin pantai yang bertiup kencang memaksa kami untuk saling merapat, agar dapat berbagi kehangatan. Malam mulai merangkak naik. Angin bertiup semakin kencang. Semakin dingin, dan kami pun semakin merapat.

“Kita pulang sekarang?” tanyaku
“Wulan masih suka di sini.”
“Tapi di sini dingin.”
Ia diam tak menjawab. Aku lalu menyewa sebuah bungalow mewah yang banyak tersedia di sekitar pantai. Lalu kami menghabiskan malam di pantai itu. Di bungalow itu.

Paginya, kami terbangun ketika sinar mentari pagi yang mengintip dari balik gunung mengenai mata kami yang masuk melalui celah fentilasi bungalow. Kami saling menatap penuh arti. Ada semburat kebahagiaan di wajahnya. Mungkin juga aku? Kami bangun dan melangkah keluar. Memandang ke laut lepas yang luas. Seluas kebahagiaan kami tadi malam. Pagi ini.

Setelah sarapan pagi. Kami meninggalkan bungalow itu. Sepanjang perjalanan aku bernyanyi nyanyi kecil sebagai ekspresi kebahagiaanku. Ia hanya terseyum nakal melihat tingkahku. Aku tak bisa menahan kegembiraanku. Tak terbayang sebelumnya aku bisa melewati malam yang indah ini bersama wanita impianku.

Waktu itu jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia memintaku untuk mampir sebentar di sebuah toko buku. Ia akan melihat beberapa buku yang akan disumbangkan ke sebuah sekolah, katanya. Dia mulai sibuk melihat lihat buku buku di sebuah rak. Aku tak ingin mengganggunya. Aku lebih memilih untuk berjalan menyusuri lorong yang di kedua sisinya dipenuhi oleh buku buku yang tersusun rapi. Aku mengambil sebuah buku, lalu membolak balik halamannya. Tak tahu bagian mana yang ingin kubaca.

Ketika aku menoleh ke arah Wulan, aku terkejut mendapatinya sedang berbicara dengan seorang lelaki. Lelaki itu berpenampilan rapi. Usianya berkisar 40 tahun. Ada terbersit rasa cemburu di hatiku. Entah apa yang mereka bicarakan? mereka terlihat akrab sekali. Aku mencoba mendekati mereka sambil bersembunyi di balik sebuah rak buku, agar dapat menguping pembicaraan mereka. Sama samar kudengar Wulan berkata
“Sorry semalam saya masih di luar kota, tak ada sinyal handphone disana.”
Mendengar jawabannya, tubuhku mendadak lemas. Seluruh persendianku terasa mau copot. Jawaban yang sama, alasan yang sama, yang kudengar kemarin sore.

Yogyakarta, 9 Oktober 2004

Oleh: Deddy S. Tamorua

========================================
Pengirim : Deddy S. Tamorua
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone