<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sarikata.com &#187; Dongeng</title>
	<atom:link href="http://sarikata.com/category/dongeng/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sarikata.com</link>
	<description>Intisari Cerita &#38; Artikel Indonesia Terbesar</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Nov 2011 02:49:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Dua Manusia</title>
		<link>http://sarikata.com/2006/07/26/dua-manusia.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2006/07/26/dua-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 09:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=7641</guid>
		<description><![CDATA[<p>Manusia baik adalah manusia yang tahu kesalahannya, yang kemudian memperbaikinya.<br />
Manusia yang buruk adalah manusia yang tahu kesalahannya namun tidak mau memperbaikinya.<br />
Manusia yang bodoh adalah yang tidak tahu kesalahannya sendiri dan tidak mau merubah dirinya sendiri.<br />
Jadilah manusia yang terbaik yaitu yang dapat memberikan manfaat untuk orang lain.</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2006/07/26/dua-manusia.html" class="more-link">Read more on Dua Manusia&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2006/07/26/dua-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukang Sepatu Yang Berbahagia</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/09/04/tukang-sepatu-yang-berbahagia.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/09/04/tukang-sepatu-yang-berbahagia.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2005 20:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=6657</guid>
		<description><![CDATA[<p>TUKANG SEPATU YANG BERBAHAGIA</p>
<p>Tap, tap, la ri ra ding dong dengngngggâ€¦</p>
<p>Tap, tap, la ri ra ding dong dengngngggâ€¦</p>
<p>Itulah suara nyaring yang datang dari sebuah rumah kecil yang reyot. Pemilik rumah itu seorang ibu yang sudah tua.Ia mempunyai anak seorang pemuda. Ibu dan anak itu bukan keluarga kaya. Ibu itu tidak mempunyai pekerjaan. Untuk makan mereka, anaknyalah yang bekerja. Kadang kadang mereka makan dan kadang kadang tidak.</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/09/04/tukang-sepatu-yang-berbahagia.html" class="more-link">Read more on Tukang Sepatu Yang Berbahagia&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/09/04/tukang-sepatu-yang-berbahagia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilkadut</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/08/11/pilkadut.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/08/11/pilkadut.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2005 22:22:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=6437</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tuan Badri terkejut melihat pengumuman Pilkadut, Pemilihan Kepala Badut. Ia sungguh tak menyangka kalau perolehan suaranya berada di bawah pesaing utamanya, Mas Mail.<br />
Wajar saja Tuan Badri melongo seperti kebo bego, karena ia telah mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk memenangkan lomba menjadi badut politik di negeri Purbadewa ini. Memang sih, Tuan Badri tak pernah kehabisan modal. Kekayaannya tak akan habis dimakan oleh 77 turunan dan 77 tanjakan.  Apalagi kaum pedagang semasa Tuan Badri menjadi Walikota, paling senang ngumpet di ketiak Tuan Badri yang lebih harum dari Deodorant. Kaum pedagang tentu saja mendukung secara moril dan materil demi kemenangan Tuan Badri.</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/08/11/pilkadut.html" class="more-link">Read more on Pilkadut&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/08/11/pilkadut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serial DSBT : Bonus Kerugian</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/06/25/serial-dsbt-bonus-kerugian.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/06/25/serial-dsbt-bonus-kerugian.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2005 02:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=5759</guid>
		<description><![CDATA[<p>ï¿½Perusahaan apa yang paling hebat di negeri ini?ï¿½ Tanya mang Papay mengisi waktu sela saat cafï¿½nya mulai sepi hampir tengah malam ini.<br />
Mang Odon yang baru selesai mengepel lantai menjawab, ï¿½Perusahaan yang paling hebat di negeri ini adalah perusahaan air. Sebab mereka sangat dibutuhkan manakala air tanah negeri ini makin tercemar polusi.ï¿½</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/06/25/serial-dsbt-bonus-kerugian.html" class="more-link">Read more on Serial DSBT : Bonus Kerugian&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/06/25/serial-dsbt-bonus-kerugian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di balik liku kehidupan</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/06/13/di-balik-liku-kehidupan.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/06/13/di-balik-liku-kehidupan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2005 18:27:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=5588</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seorang wanita yang tlah dewasa menikmati cinta.Cinta yang katanya cuma milik para muda mudi,&#8230;cinta dengan ketidak pantasan yang ternyata malah hadir di kesunyian jiwa.<br />
Siapakah yang salah???</p>
<p>Apakah waktu yang datangnya terlambat, hingga banyak problema yang timbul atas cinta itu sendiri.<br />
Apakah cinta yang terbatasi oleh beda usia,<br />
harus demikian saja di trima kalah ??<br />
Sedang bahagia itu ada di dasar lubuk hati,<br />
yang orang yang cuma dapat melecehkan itu gak sanggup liat&#8230;..</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/06/13/di-balik-liku-kehidupan.html" class="more-link">Read more on Di balik liku kehidupan&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/06/13/di-balik-liku-kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lanjutan dongeng belum jadi</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/06/02/lanjutan-dongeng-belum-jadi.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/06/02/lanjutan-dongeng-belum-jadi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2005 20:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=5429</guid>
		<description><![CDATA[<p>ï¿½Baiklah kalau itu yang kau inginkan..Tidak segan segan aku akan membunuhmu ï¿½<br />
	Mulai terdengarlah alunan musik yang amat teramat indah, yang berasal dari negaranya sendiri, Planet Galastea. Nogo Sektipun tampaknya sudah merasa begitu tenggelam dalam alunan musik yang aneh itu.<br />
	ï¿½Ah, indah sekali alunan musikmu nona. Coba perdengarkan sekali lagi.ï¿½<br />
	Namun..<br />
	ï¿½Hentikan   Jangan kau dengarkan permainan itu kisanak  Tutupah telingamu karena nada nada ini mempunyai ilmu sihir  Kau akan terjatuh selamanya kedalam genggaman wanita itu ï¿½, teriak seorang pemuda berkulit bersih.<br />
	ï¿½Siapa kau berani beraninya&#8230;ï¿½<br />
	Bethaline terkejut ketika melihat pemuda itu. Ya, pemuda itu adaah Bagaskara, orang yang zaman dahulu amat dicintai oleh Puspanila sampai sampai ia rela jiwa dan raganya ia serahkan pada siluman. Kini Puspanila hadir kembali dalam tubuh yang berbeda, yaitu tubuh Bethaline Dresstinata. Mulanya Bethaline tidak sadar akan hal ini, namun lama keamaan hatinya tersentak, tanpa tahu apa yang terjadi pada dirinya di masa lampau.<br />
	ï¿½Kau..siapa? Sepertinya aku mengenalmu, nona. Mengapa orang yang kukenal bisa mengeluarkan ilmu sihir sejahat ini? Lebih baik insyaflah, daripada kau harus menanggung akibatnya nanti..ï¿½<br />
	ï¿½Begitukah sikapmu terhadap orang yang telah menolongmu dahulu, Bagas?ï¿½, ucap Bethaline tanpa sadar, seperti diberitahu oleh lubuk hatinya sendiri.<br />
	ï¿½Apa..maksudmu,nona? Menolong? Kapan terakhir kali aku pernah melihatmu? Mengapa pula kau bisa tahu namaku?ï¿½<br />
	ï¿½Pura pura tidak tahu  Dasar manusia tidak tahu balas budi  Puspanila telah menolongmu kau malah&#8230;,ï¿½ ucap Bethaline kembali tanpa sadar.<br />
ï¿½Ah, tadi aku bicara apa? Mengapa aku bicara melantur seperti ini..Apa yang terjadi dengan mulutku ini?ï¿½, ucap Bethaline yang sudah kembali pada kesadarannya.<br />
ï¿½Puspanila&#8230;Kau bilang Puspanila?  Dimana dia sekarang? Apa dia masih hidup?ï¿½, tanya Bagas dengan antusias.<br />
ï¿½Aku tidak tahu  Yang pasti, kau telah merusak acara penghipnotisanku  Kaupun harus mati ditanganku..ï¿½<br />
ï¿½Hidup ataupun mati itu adalah urusan Yang Diatas,nona,  kita tidak boleh ikut campur apalagi sok tahu mengenai kematian seseorang..ï¿½<br />
ï¿½Huh, sok suci  Bilang saja kau takut..Awas seranganku  ï¿½<br />
ï¿½Bismilahirrahmannirrohim..,ï¿½ ujar Bagas siap siaga.<br />
ï¿½Cepp ï¿½ dua buah jarum berisi racun ringan itu tertancap ke dalam bahu Bethaline yang putih mulus. Bethaline pingsan dalam seketika<br />
Dengan hati hati Bagas memeriksa bahu Bethaline agar tidak sampai menyentuh auratnya. Bagas sedikit terkejut  Ada tatu bergambar ular hijau di bahunya  Siapa yang punya itu selain Puspanila? Tapi ia tak lekas mengambil kesimpulan. Siapa tahu memang sedang trend menatu pundak seperti ini.<br />
Angin semilir berdesir. Hal ini mengingatkan peristiwa tragis yang  mengguncang batinnya saat itu. Ya, peristiwa 10 tahun yang lalu, ketika dirinya saat berada di ambang kematian  Ia tak tahu, harus bersikap apakah terhadap perempuan dewasa yang menolongnya saat itu. Haruskah ia berterimakasih, ataukah malah membenci? Sejak dahulu ia ditanamkan oleh kedua orangtuanya untuk memusuhi setan, membenci, dan tidak boleh sampai terjebak oleh tipudaya setan. Sedangkan Puspanila, nama perempuan itu malah bekerjasama dengan setan, makhluk yang amat amat dibencinya  Ya, Puspanila rela menyerahkan jiwa dan raganya pada setan agar dapat mencegah Bagas masuk ke lubang kematian  Bagas tidak pernah tahu, hatinya selalu diliputi kebimbangan terbesar. Benci terhadap Puspanila yang bekerjasama dengan setan ataukah berterimakasih karena telah menolongnya? Di saat saat terakhir Puspanila juga mengucapkan kata kata ï¿½Aku mencintaimuï¿½ pada Bagaskara. Kini, setelah ia beranjak dewasa, ia mulai dapat mengerti bahwa kejadian itu hanyalah masa lampau dan tidak perlu dikhawatirkan lagi. Apalagi, kini batin batinnya sudah disucikan oleh semadhi, berdoa, dan zikir kepada Allah SWT. Yang dikenalnya hanyalah perasaan bahagia, iapun sudah hampir lupa akan kejadian itu karena ia bertemu dengan seorang wanita yang amat menarik, yang akan menjadi calon istrinya nanti.Akan tetapi, jauh dalam lubuk hatinya ia menyimpan tragedi tersebut erat erat. Kini, Bagas pun sudah hilang kendali sehingga tanpa sadar ia mencium rambut Bethaline (alias reinkarnasi Puspanila) sambil mengucapkan pernyataan maaf dan rasa cintanya yang telah dipendam sejak lama. Namun, Bethaline mulai tersadar.<br />
Bethaline	: Ah&#8230;.Sebenarnya siapa kau? Mengapa kau perlakukan aku seperti ini?<br />
Bagaskara	: Ah, maaf, nona&#8230;Saya tadi hilang kendali. Sa..<br />
Bethaline	: Tidak apa&#8230;Aku tidak marah. Tapi, bagaimana aku bisa ada disini?<br />
  Kaukah yang membawaku kemari?<br />
Bagaskara	: Ya..Tadi nona pingsan di tengah jalan.<br />
Bethaline	:  Wah, kalau begitu aku harus memberimu sebuah hadiah. Siapa<br />
   namamu, hai pemuda baik hati? (tersenyum)</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/06/02/lanjutan-dongeng-belum-jadi.html" class="more-link">Read more on Lanjutan dongeng belum jadi&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/06/02/lanjutan-dongeng-belum-jadi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebutir Pasir</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/06/02/sebutir-pasir.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/06/02/sebutir-pasir.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2005 20:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=5423</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aku adalah sebutir pasir yang menetap di sebuah pantai yang sepi tak berpenghuni, tiada satu pun orang yang datang untuk bermain, memancing di tepian laut atau bersenda gurau dengan ombak yang bergulungâ€“gulung tanpa henti dan belas kasih menerpa, menyeret teman teman serta sanak familiku yang sedang bermain di tepiannya, yang kemudian dihempaskannya mereka ke dasar biru. Tenggelam. Tak mudah kembali ketepian untuk melaksanakan kewajiban, tugas tugas apalagi untuk mengambil hak hak mereka yang telah hilang bersama mereka. Terseret. Masuk kedalam dunia penuh keindahan dalam kerajaan laut yang abadi sampai lautan itu berubah menjadi api.<br />
	Kalian semua dapat mencari aku dengan mudah karena aku adalah sebutir pasir yang berwarna abu abu yang ada diantara pasir putih yang menghampar luas di pinggiran laut yang biru. Tetapi kadang kau bisa jumpai aku di antara pasir hitam. Sibakkanlah pasir itu maka kau akan menemukanku sedang bercumbu mesra diantara kerang kerang yang terbenam dalam gundukan pasir hitam. Kelam. Seakan melukiskan warna dalam jiwaku, walaupun aku hanya sebutir pasir.<br />
	Gemerisik tubuh kami yang saling bersinggungan karena sang angin yang berhembus pelan menyisir pantai. Membelai kematian. Berpuluh, beratus, beribu, berpuluh ribu, beratus ribu, berjuta, bermilyar, bertriliun dan tak terhitung lagi berapa butir pasir hitam itu yang terhempas, terbawa angin. Dan saat terjadi gelombang yang sedang bergelora, maka pasir pasir putih akan terseret ke dalam laut.<br />
	Sungguh aku adalah pasir yang takkan pernah menemui hal hal semacam itu. Karena saat sang angin mulai berdesir aku langsung merubah warnaku menjadi putih dan bergabung dengan pasir putih lainnya, dan saat gelombang besar menghujam aku langsung bergegas menjadikan tubuhku hitam kelam dan langsung bersembunyi di balik kerang. Hidupku mungkin akan abadi jika aku terus menjadi pasir kelabu, setidaknya akan seperti itu. Tapi aku akan mengerti apa itu hidup diantara yang putih dan yang hitam. Hingga tua menjadi putih, tubuhku, rambutku, kumisku, jenggotku menjadi memutih kemudian rontok, jatuh berderai hingga akhirnya jiwa lepas dari raga.<br />
	Pernah aku mencoba untuk tetapkan diriku menjadi putih walau tak akan seputih kapas yang telah berfaedah untuk kehidupan. Tetapi, aku tak sanggup aku telah terbujuk oleh awan hitam yang telah menurunkan tinta hitam yang membuat tubuhku menjadi hitam. Kelam. Walau tubuhku telah menjadi hitam, tetapi tidak sampai jiwa dan hatiku ikut menjadi hitam seperti halnya dengan tubuhku. Hatiku takkan seputih hatimu, dan hanya aku yang memiliki hati yang kelabu seperti abu. Terkadang aku ikut kursus pelatihan ilmu memutihkan diri tetapi aku juga ikut bermain di arena silam.<br />
	â€œaku bangga menjadi pasir kelabuâ€? teriakku dalam kesunyian, walau tak akan ada yang mendengar.<br />
Temanku Si Pasir Hitam, yang sudah sangat hitamnya ia berkata, â€œayolah gabung bersama kami kau akan dapatkan kesenangan. â€œ<br />
â€œkesenangan apa?â€? tanyaku.<br />
â€œsemua kesenangan yang ada di dunia ini?â€?<br />
â€œhanya di dunia?â€œ<br />
â€œya, hanya di duniaâ€? tegasnya.<br />
	Temanku Si Pasir Putih yang tadi diam saja menyimak aku dan Si Pasir Hitam mengoceh, kemudian angkat bicara.<br />
â€œkau ikut kami saja.â€?<br />
â€œkemana?â€? tanyaku.<br />
â€œkau ikut kami menuju jalan yang benar.â€?  Katanya dengan nada menasehati.<br />
â€œjalan yang bagaimana?â€?<br />
â€œjalan yang akan membuat hidup kita di akhirat nanti menjadi bahagia.â€? Si Pasir Putih menjelaskan.<br />
â€œbagaimana dengan hidupku di dunia?â€? tanyaku.<br />
â€œjika kau ingin berikhtiar dan berdoa kepada Nya hidupmu akan bahagia.â€? Jawabnya.<br />
Benakku berkeliling mencari sebuah keputusan yang pantas untuk hidupku yang sudah sampai di mana aku bisa memilih. Jika aku memilih untuk mengikuti Pasir Hitam, maka aku akan bahagia di dunia. Dan jika aku mengikuti Pasir Putih, maka aku akan bahagia di akhirat.<br />
Dan aku berkata untuk sebuah keputusan kepada kedua temanku yang sama sama kucintai<br />
â€œBiarkanlah sang waktu yang akan menjawab semua ituâ€?</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/06/02/sebutir-pasir.html" class="more-link">Read more on Sebutir Pasir&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/06/02/sebutir-pasir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dongeng belum jadi</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/03/15/dongeng-belum-jadi.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/03/15/dongeng-belum-jadi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2005 14:33:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=4676</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pada zaman yang akan datang, sekitar 1 abad kelak, hidupah seorang ratu muda cantik rupawan nan bijaksana. Ia merasa cemas atas keadaan negrinya yang kacau balau. Ia tak tahu bagaimana harus mengatasi penyerangan Planet Scordolli yang bertubi tubi. Namun, muncullah Sang Penasehat yang sekaligus menjadi Ibu Tiri nya  menyarankan sesuatu.</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/03/15/dongeng-belum-jadi.html" class="more-link">Read more on Dongeng belum jadi&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/03/15/dongeng-belum-jadi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DSBT : Negeri Diatas Angin</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/03/09/dsbt-negeri-diatas-angin.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/03/09/dsbt-negeri-diatas-angin.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2005 09:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=4613</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hidup ini aku jalani dengan memahami resiko jauh sebelum resiko itu jadi kenyataan. Ini aku lakukan agar ketika seburuk apapun resiko yang datang, tak terlalu membebani pikiran. Karena kalau pikiran sudah terbebani dengan hal hal yang meningkatkan amarah, akan membuat hidup ini semakin melelahkan.</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/03/09/dsbt-negeri-diatas-angin.html" class="more-link">Read more on DSBT : Negeri Diatas Angin&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/03/09/dsbt-negeri-diatas-angin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Bingung</title>
		<link>http://sarikata.com/2005/02/11/saya-bingung.html</link>
		<comments>http://sarikata.com/2005/02/11/saya-bingung.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2005 08:06:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sarikata.com/?p=4256</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ada suatu perusahaan yang amat besar medan bergerak di industi mebel</p>
<p>ada seorang pegawai yang sering kerja lupa, suatu hari, di membuat password yang baru di buat sudah lupa, memang pelupa dia tuh</p>
<p><a href="http://sarikata.com/2005/02/11/saya-bingung.html" class="more-link">Read more on Saya Bingung&#8230;</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://sarikata.com/2005/02/11/saya-bingung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

