Kisah ini pernah terjadi pada diriku. Waktu itu, tugas kuliah begitu menumpuk, tak sering juga aku menjadi hilang kontrol dan menjadi sering marah. Suatu saat, aku dan ketiga temanku dalam satu kelompok seperti biasa harus mengejar deadline laporan. Biasanya kami selalu kompakan. Bahkan kami sering menyebut kami sendiri sebagai keluarga ideal.

Suatu saat, kami berjanji akan mengerjakan bersama tugas laporan. Namun, ketika itu dua orang temanku akan megikuti dulu sebuah acara. Sedangkan aku dan seorang temanku lagi berencana untuk mecari bahan tugas itu sebagai referensi. Setelah itu, saya dan seorang temanku mendapat SMS bahwa kami disuruh datang ke acara yang sedang dihadiri kedua temanku sekalian untuk mengerjakan tugas itu.

Namun, saya kebetulan waktu itu ada acara mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Lantas saya ijin kepada teman saya itu. Sekalian saya menitip pesan kalau memang perlu bantuan, mereka suruh telp. aja.

Keesokannya, ternyata kedua temanku berlaku cuek dan terlihat marah kepadaku, terutama temanku yang sering jadi tempat curhatku. Ya, aku sudah siap menerima itu sebagai konsekuensinya. Hal itu berlanjut sampai tiga hari. Ternyata sikap temanku belum juga berubah. Sebagai seorang muslim saya sendiri tidak ingin memalingkan muka dan tidak berdamai lebih dari tiga hari. Berbagai upaya telah saya lakukan untuk meminta maaf.

Namun memang saya akui bahwa saya tidak berani langsung ngomong kepadanya, coz sifatku memang seperti itu. Aku yakin ia pun tahu. Akhirnya aku menceritakan hal ini kepada salah seorang temanku yg lain. Ia pun siap membantuku, krn ia juga merasa bersalah coz dia lah yg menerima pesan dari temanku untuk disampaikan kpdku. Namun waktu itu ia berhalangan dan blm sempat.

Dengan bantuannya, akhirnya temanku yg selama ini mjd tempat curhatku kembali seperti semula. Sikapnya tidak lagi angkuh. Alhamdulillah saya bersyukur kpd Nya, ternyata masih ada jalan keluar di balik permasalahan itu.

Dan aku pun mulai sadar, ia menulis lewat SMS, bhw sebenarnya ia sudah memaafkanku dua hari yg lalu, dan bertanya kenapa saya tidak berani minta maaf secara langsung. Ia juga mengajak untuk saling introspeksi diri.

Kini aku sadar bhw aku harus berani meminta maaf jika memang aku salah, serta mencobalah berlatih berintrospeksi diri.

========================================
Pengirim : ada_nurman
========================================

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *