HOKI ANDA ADA DI WAJAH
Garis nasib ternyata bisa “dibaca” dari bentuk muka, ukuran indera di wajah, dan proporsi badan dan kaki. Muka bulat, indera di wajah besar, dan badan lebih panjang ketimbang kaki, konon paling top hokinya. Begitulah kira kira “rumus dasar” kua mia.
“Mirror mirror on the wall, adakah wajah lain yang kecantik annya melebihi aku?” tanya nenek sihir pada cerminnya. “Wah, kalau soal paras, jelas nenek kalah dari Putri Salju. Tapi dont worry, dari segi feng shui, bentuk muka nenek jauuuh lebih komersil.

Enggak kalah sama Julia Roberts atau Desy Ratnasari, lo,” jawab si cermin, yang setahun terakhir rajin mempelajari sejumlah ajaran klasik Cina.
Dialog tadi cuma plesetan kisah Putri Salju era milenium. Namun pesannya jelas, peruntungan manusia memang tak tergantung ganteng atau cantiknya wajah. Ada faktor kepribadian, lingkungan, dan tentu saja suratan Tuhan. Nah, bicara hoki, orang Cina percaya ada satu lagi tool ampuh buat melihat peruntungan seseorang di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Yaitu tanda lahir, mulai bentuk muka, besaran indera hingga ciri ciri tubuh lainnya.

Sekadar membedakannya dengan feng shui tata ruang yang kadung disebut feng shui saja, feng shui buat manusia ini kerap disebut kua mia, artinya kira kira melihat peruntungan. Tapi sebagai bikinan manusia, perhitungan ala Negeri Tirai Bambu ini tentu tak bisa dijadikan pedoman hidup nan 100% akurat. “Tidak ada analisis manusia yang bisa menyamai hitungan Tuhan,” bilang Asminur Soffian Udin, lebih beken dipanggil A.S. Udin, pemerhati budaya Cina.
Jadi, soal percaya atau tidak, silakan simpan di sanubari masing masing.

Badan kulit jeruk
Di Cina, kua mia telah berkembang lebih dari 3.000 tahun lalu. Masyarakat Cina percaya, rotasi hidup manusia (sedih, senang, sedih, dan senang lagi) adalah bagian dari rahasia kosmis. Konon, membaca peruntungan di balik bentuk wajah dan tubuh, sudah bisa dilakukan sejak sang anak mengoek, pas keluar dari rahim ibu. “Sejak itu, lakonnya sudah kelihatan,” bilang A.S. Udin.

Berdasarkan candra fisiknya, peruntungan manusia bisa digolongkan menjadi tiga macam. Ada fu gue (kaya dan mulia), fu show (bahagia dan panjang umur), serta fu giean (kaya tapi tidak mulia). Kategori kategori itu sekaligus menunjukkan, siapa pun orangnya, bisa mengumpulkan materi sebanyak banyaknya selama di dunia. Namun apakah kekayaan itu bisa mengangkatnya menjadi orang mulia, bahagia, atau malah hina, konon bisa terbaca dari wajah dan bentuk tubuhnya.

Tampang paling hoki (fu gue), menurut A.S. Udin, adalah mereka yang bermuka bulat. “Ditambah hidung besar, kuping, dan mulut lebar serta mata besar. Tapi seperti orang melotot.” Sebaliknya, indera di wajah sedang sedang saja atau cenderung kecil otomatis mengarah pada peruntungan fu show atau fu giean. “Buat awam, mungkin sedikit susah. Tapi bagi orang yang sudah terbiasa membaca wajah, ukuran ukuran itu muncul begitu saja,” kata lelaki yang tinggal di Sawangan, Depok ini.

Mereka yang berwajah bulat, pantas berbahagia, lantaran dijagokan punya hoki, baik materi maupun kemuliaan berlimpah. Setelah itu, menyusul bentuk muka mirip kotak, yang kadar rezeki dan kemuliaannya masih berada di bawah si bundar. Pemilik wajah oval atau lonjong “tak terlalu menggembirakan”, karena berlimpahnya materi kerap tak diiringi tingginya status sosial. “Paling parah, model wajah segitiga. Maaf, dekat dengan kemiskinan,” ucap lelaki asal Jambi ini.

Muka memang objek paling instan buat dinilai. Tapi bukan berarti bagian bagian tubuh lainnya tak bernilai. Kua mia membagi tubuh manusia atas tiga bagian. Kepala, mewakili “langit”, badan identik dengan “manusia” itu sendiri, sedangkan kaki diibaratkan “bumi”. Nah, mereka yang hokinya paling top, konon yang badannya lebih panjang dari kaki. Apalagi kalau telapak kakinya memiliki guratan guratan mirip naga, kerap disebut sebagai si kaki naga, wah kemuliaan dan kebahagiaan seperti tinggal menunggu waktu saja.

Sial dan peruntungan seseorang juga bisa dilihat dari tangannya. “Kalau warna telapak dan punggung tangan seseorang sama persis, kawan dan rekan bisnis yang bersangkutan mesti ekstra hati hati. Tangan model begitu selain menandai buruknya hoki, juga cenderung licik,” tegas mantan pengajar studi Cina di Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini. Diagnosis serupa berlaku untuk mereka yang punya kulit badan agak kasar, mirip kulit jeruk.

Seruwet matematika
Cukup kuatkah analisis tanda lahir untuk melihat lakon seseorang? A.S. Udin mengakui, perhitungan akan jauh lebih memadai jika kesimpulan pandangan mata itu digabungkan dengan berbagai metode pelengkap. Minimal ada empat metode pelengkap analisis wajah. Pertama, melihat usia yang bersangkutan. Kua mia menandai wajah manusia dengan puluhan noktah, yang melambangkan usia. Misalnya, titik nomor 15 ada di dahi, artinya: peruntungan Anda di umur 15 tahun berkaitan erat dengan ciri ciri dahi. Kalau dahi Anda mulus, di usia 15 tahunan bakal merasakan masa masa gemilang. Setidaknya, roda kehidupan berjalan tanpa alangan.
Metode kedua, menghubungkan bentuk wajah dengan lima elemen yang bergantian menguasai alam semesta: tanah, kayu, api, logam, dan air. Orang Cina percaya, pada suatu masa, bisa saja elemen penguasa semesta tidak hoki dengan bentuk tubuh Anda. Contohnya, orang yang berbadan kurus cocok dengan kayu. Tapi apakah ia pas juga dengan api atau air? Harus dianalisis lebih lanjut.

Metode selanjutnya, menggabungkan bentuk tubuh/wajah dengan musim. “Perhitungannya mungkin cukup njlimet buat awam. Apalagi kita cuma mengenal dua musim, sedangkan analisis yang dipakai tetap empat musim seperti di Cina. Tapi perhitungan ini berguna untuk menjelaskan mengapa di musim tertentu, seseorang yang berkulit putih misalnya, tak lebih baik peruntungannya daripada yang berkulit hitam,” sebut A.S. Udin, yang mengaku jarang melengkapi analisisnya dengan perhitungan shio.

Nah, mirip pelajaran matematika, hasil perhitungan masing masing metode (bentuk fisik, usia, unsur, musim, boleh juga ditambah shio) itu lantas dijumlahkan, sehingga penglihatan masa lalu, masa kini, dan masa depan terlihat lengkap. Ruwet? Begitulah adanya. “Makanya saya enggak setuju kua mia ini dianggap sebagai seni meramal. Saya lebih suka menyebutnya seni menganalisis. Karena perhitungannya eksak, tidak memakai cara cara gaib,” lanjut lelaki paruh baya ini.

Di negara negara maju, kua mia bahkan diberi nama lumayan keren, fisionomi, gabungan dari fisiologi dan anatomi. Meski belum resmi diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan, fisionomi kini mulai banyak dipelajari. Seperti feng shui tata ruang yang popularitasnya meluap melewati batas benua, kua mia pun tampaknya punya kans serupa. Bedanya, fisionomi di Amerika dan Eropa lebih banyak mencari dukungan lewat penelitian.

Contohnya, penelitian menarik berikut ini. Seperti dilaporkan majalah New Scientist, peneliti William Brown dari Universitas Dalhousie, Kanada, belum lama ini mengadakan studi fisionomi untuk mengetahui pengaruh bentuk wajah dan badan terhadap rasa cemburu. Dia meneliti 50 pria dan wanita yang diikat dalam jalinan hubungan heteroseksual dengan intensitas hubungan beragam. Seraya membandingkan anggota tubuh mereka, mulai kaki, panca indera, hingga jari jari, serta menandai mereka yang punya badan simetris.

Para sukarelawan juga diminta mengisi daftar pertanyaan untuk menguji, siapa di antara mereka yang masuk kategori pencemburu. Brown menemukan, orang orang bertubuh tidak simetris (miring) ternyata lebih cemburuan. Untungnya, kesimpulan ini ternyata hanya bisa diterima dalam kaitan hubungan seksual. Di arena kerja dan aktivitas lainnya, pemilik badan asimetris ternyata tak lebih pencemburu ketimbang saingannya yang simetris.
Hmm, mesti hati hati cari pasangan YA

========================================
Pengirim : evy marlina
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone